Polemik Politik

Amien Rais Semakin Ngelantur

Oleh : Aldia Putra )*

Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais, optimis bahwa capres dan cawapres nomor urut 2 ini akan menjadi pemenang jika tak ada kecurangan.

Dalam diskusi ‘Refleksi Malari, Ganti Nahkoda Negeri’ yang digelar Seknas Prabowo – Sandi di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa 15/1/2019. Ia menuturkan bahwa pihaknya akan menjadikan Jokowi sebagai Bebek lumpuh karena kalah dari Prabowo – Sandi.

Sebelumnya pada forum, yang sama, mantan ketua MPR ini juga berniat akan mendorong gerakan massa menggempur KPU RI jika terbukti curang.

Penuturan tersebut merupakan ungkapan sarkas yang menghina dan provokatif. Jaringan Advokat Pengawas NKRI (JAPRI) menduga bahwa Amien Rais telah melanggar kampanye pemilu dengan menyebut dan menjadikan Jokowi bebek lumpuh.

JAPRI juga menilai bahwa ucapan yang dilontarkan tokoh sekaliber Amien Rais tersebut dapat menimbulkan konflik horizontal di tengah masyarakat.

Bisa dibilang, bapak reformasi ini memiliki sebuah kelebihan tersendiri untuk menuturkan “kalimat” yang mudah dimengerti masyarakat. Istilah yang digunakannya itu juga sering mengandung kontroversi dan juga provokasi.

Dalam acara Rakornas Persaudaraan Alumni (PA) 212 di Aula Sarbini, Taman Wiladatika, Cibubur, Amien Rais berkata dengan lantang sembari menunjuk foto Presiden RI Joko Widodo di sebelah kirinya, dengan lantang ia berkata “ini elektabilitasnya sudah going down.”

Sontak tepuk tangan dari para alumni 212 bergemuruh sesaat setelah Amien Rais mengatakan hal tersebut.

Kontroversi juga pernah ia bawa dalam tausiahnya tentang partai Allah dan partai setan di Masjid Baiturrahim, Mampang Prapatan. Hal ini juga dianggap kontroversi karena isi ceramah Amien dinilai membawa Agama dalam kompetisi politik seraua memicu provokasi sentimen SARA.

Sebagai Tokoh yang pernah meraih gelar Ph.D dari University of Melbourne, semestinya dirinya juga bertanggung jawab atas jalannya politik dalam kerangka yang lebih rasional, apalagi dia tidak hanya seorang tokoh nasional, melainan merupakan guru besar yang sepatutnya bisa menjadi teladan.

Namun sepertinya Amien Rais ingin memberikan kejutan pada 30 November 2018 yang lalu. Pada acara Muktamar Pemuda Muhammadiyah XVII di Yogyakarta, dirinya meramalkan bahwa akan terjadi Baratayudha dan Armageddon pada 17 April 2019 nanti.

Perang Baratayudha yaitu perang antara pembela kebenaran melawan penyokong kebatilan. Bahkan ia juga memberikan sinyal, yang menyatakan bahwa seolah – olah, Pilpres ini merupakan pertarungan antara pihak yang pro dengan yang anti PKI.

Padahal cawapres yang diusung Sandiaga Uno menginginkan kampanye yang damai dan jujur, pastinya hal ini sangatlah kontradiktif, jika Amien Rais menggambarkan Pilpres sebagai babagan perang sementara calon wakil presiden yang diusungnya menginginkan kampanye yang damai.

Jika memang Pilpres nanti menjadi perang Baratayudha, tentu akan muncul sebuah tanda tanya, siapa yang cocok menjadi sengkuni?

Jika kita flashback pada Pilpres 2014 ketika Jokowi – JK melawan Prabowo – Hatta, Sang Ketua Dewan Kehormatan tersebut menyebutnya dengan istilah perang Badar.

Perang Badar adalah perang yang terjadi pada masa Rasulullah SAW ketika Umat Islam berperang melawan kaum Quraisy. Meski dirinya tidak menyebutkan secara lugas pihak mana yang dimaksudkan dengan pasukan Quraisy pada Pilpres 2014, namun kita tentu sudah bisa menduga, kemana kecondongan istilah tersebut ditujukan.

Nah istilah “bebek lumpuh” mungkin merupakan istilah yang menarik untuk dikaji, kiranya apa yang diinginkan oleh Amien Rais sehingga dirinya menginginkan Jokowi menjadi bebek lumpuh (duck lame)

Dalam sejarahnya, Istilah “bebek lumpuh” diciptakan pada Abad ke – 18 di London Exchange, istilah tersebut merujuk pada pialang saham uang tidak berhasil membayar utangnya.

Dalam ranah politik, bebek lumpuh adalah pejabat terpilih dimana penggantinya telah terpilih. Pejabat tersebut sering dianggap kurang memiliki pengaruh dengan politisi lain karena waktu mereka yang terbatas.

Pejabat yang lumpuh cenderung memiliki lebih sedikit kekuatan politik, karena pejabat terpilih lainnya cenderung tidak bersedia bekerjasama dengan mereka.

Jika istilah bebek lumpuh mengacu pada penuturan Amien Rais, maka konteks dari bebek lumpuh yang dimaksudkan adalah agar Prabowo – Sandi Menang sehingga Jokowi tidak bisa berbuat apapun sampai masa jabatannya berakhir.

Namun apapun yang dikatakan oleh Amien Rais, tentu hanyalah angin politik yang hilang berlalu, karena hasil dari Pilpres nanti yang menentukan siapa pemimpin yang diinginkan rakyat.

Selain pintar dalam mengolah diksi untuk menjadi istilah tertentu, Amien Rais juga kerap memberikan ancaman kepada KPU. Menurutnya KPU tidak boleh merasa paling berkuasa karena KPU hanyalah sebagai penyelenggara pemilu.

Dirinya juga menambahkan bahwa ketidaknetralan KPU akan merugikan masyarakat yang memberikan hak pilih pada pemilu 2019. Salah satu contohnya adalah masalah daftar pemilih tetap yang tidak kunjung selesai.

Pernyataan ini justru ditakutkan akan membuat masyarakat tidak percaya dengan KPU. Padahal saat ini KPU, Bawaslu dan Kemendagri telah bekerja keras agar permasalahan terkait daftar pemilih tetap dapat tuntas.

KPU telah membuat 69.834 posko untuk mengatasi masalah Daftar Pemilih, dimana kelak masyarakat dapat melapor ke posko – posko tersebut, termasuk apabila namanya belum muncul dalam DPT.

Dalam hal ini tentu kita masyarakat bisa menilai, bahwa opini destruktif yang minim substansi hanya akan berdampak pada 2 hal, yaitu guyonan dan perpecahan.

Demokrasi di Indonesia sudah semestinya berjalan dengan damai, perbedaan memang sesuatu yang wajar terjadi. Namun bukan berarti perbedaan menjadi alasan untuk saling menjatuhkan.

Masih ada waktu sebelum Pemilu 2019, akankah Amien Rais berkelakar kembali atau akankah ia menuruti saran dari pengurus Partainya agar Amien Rais mundur dari dunia politik?

)* Penulis adalah pemerhati politik

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close