Polemik Politik

Debat Ke-4, Jokowi Tetap Tenang dan Tidak Terprovokasi

Oleh : Anisa Medina )*

Debat kandidat telah melewati 4 putaran. Calon Presiden nomor urut 01 tetap menunjukkan kapabilitasnya sebagai pribadi yang tenang dan tidak gegabah. KH Ma’ruf Amin menilai bahwa penampilan Joko Widodo dalam debat putaran ke-4 lalu sudah sesuai dengan harapannya. Jokowi bisa menjelaskan semua materi debat secara tenang tanpa terprovokasi.      

            “Seperti yang saya harapkan, Pak Jokowi tidak terprovokasi, dia tetap cool, tidak emosi, sehingga bisa menjelaskan semua permasalahan secara detail dan jelas,” tutur Ma’ruf usai menghadiri debat di Hotel Shangri-La.

            Jalannya debat memang sempat memanas karena saling serang adu argumen dari kedua kubu. Namun Cawapres nomor 01 tersebut menilai bahwa pasangannya Jokowi tidak mudah terpengaruh dan tetap tenang. “Artinya, harapan saya ternyata terbukti benar,” ujarnya.

            Salah satu tema yang dibahas dalam debat ke-4 adalah isu terkait pertahanan dan keamanan negara. Mustasyar PBNU itu menilai bahwa persoalan pertahanan dan keamanan negara di era kepemimpinan Jokowi – JK sudah lebih baik. Namun begitu, dia mengakui bahwa perubahan ke arah yang lebih baik itu tidak bisa dilakukan dengan serta – merta.

            “Saya kira langkah – langkah pertahanan itu sudah banyak perbaikan, kan tidak mungkin berubah secara total, tapi ada langkah – langkah itu yang sudah ditempuh pak Jokowi, satu langkah, dua langkah alutsista kemudian juga sistem pertahanan radar,” tutur Ma’ruf.

            Berbeda dengan Jokowi, Prabowo Subianto justru sempat terpancing emosi saat membahas soal pertahanan pada Debat Capres ke – 4. Menurut Pangi Syarwi Chaniago, pihaknya menyayangkan ketika Prabowo menyampaikan soal pertahanan.

            “Pada saat membahas soal pertahanan, Pak Prabowo sempat terpancing emosi. Beliau menegur tim kampanye yang tertawa soal lemahnya pertahanan. Mestinya Pak Prabowo fokus saja soal konten dan narasi,” tutur Syarwi.

            Pada saat membahas tema soal pertahanan itu, Prabowo mengkritik pandangan Jokowi bahwa pemimpin tidak berpikir selama 20 tahun kedepan tidak serangan dari negara lain. Prabowo kemudian mencontohkan, pada saat dirinya, baru lulus dari Akabri dan berpangkat letnan 2, meletus perang di Timor Timur pada 1975. Padahal, kata dia, jenderal – jenderal pada tahun 1974 menyebut, selama 20 tahun ke depan tidak ada perang terbuka.

            Sementara Head of Analytics PoliticaWave, Nadia Shabilla, mengatakan bahwa sikap Jokowi lebih tenang dan menguasai masalah pada gelaran debat ke – 4, yang membahas tentang isu ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, dan hubungan internasional, sedangkan Prabowo dinilai terlalu emosional dan ofensif dalam menyampaikan pendapatnya.

            “Dapat disimpulkan bahwa Jokowi unggul pada setiap segmen debat pilpres dari sisi sentimen positif,” ujar Nadia.

            Jalannya debat tersebut juga mendapatkan tanggapan dari Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Pihaknya menilai bahwa pada gelaran debat ke 4 tersebut semestinya menitikberatkan strategi, bukan informasi.

            “Betapa kita melihat calon nomor satu tadi mengetengahkan strateginya, bukan bicara retorika. Itu poin yang sangat penting, karena kita semua tahu masalah bangsa, tetapi bagaimana solusinya itu yang poin pertama,” tuturnya saat konferensi pers pasca debat.

            Ia menambahkan, pengalaman sangat dibutuhkan bagi seseorang untuk mengelola negara. Moeldoko mengklaim, pemaparan langkah – langkah strategis dalam menangani setiap persoalan yang disampaikan Jokowi tak lepas dari pengalamannya di pemerintahan. Begitu juga langkah strategis Jokowi dalam membangun hubungan internasional. Sementara di sektor pertahanan, Moeldoko menambahkan bahwa seorang Presiden tidak harus berbicara secara teknis, namun cukup menyampaikan secara garis besar.

            “Memang pemimpin perlu bicara teknis, tapi tidak terlalu penting, karena ada Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan, urusan mereka. Tapi pandangan seorang pemimpin tertinggi itu melihat cakrawala bagaimana kedaulatan harus dipertahankan, sangat jelas ya, jadi tidak lagi berbicara technical,” ucap mantan Panglima TNI itu.

            Selain itu, Moeldoko juga mengkritisi kritik yang dilontarkan Prabowo terkait banyaknya kasus korupsi yang melibatkan penyelenggaraan negara. Menurutnya, memberi solusi mengatasi korupsi jauh lebih penting daripada hanya membicarakan persoalannya.

            “Bukan hanya bicara korupsinya, semua orang sudah tahu Indonesia Korupsi, bukan hanya sekarang tapi dari dulu. Justru sekarang ini tindakan sangat keras. Jadi yang paling penting, strategi,” pungkas Kepala Kantor Staf Presiden tersebut.

)*Penulis adalah Pengamat Masalah Sosial Politik

Show More

Related Articles

Back to top button
Close