Polemik Politik

Kericuhan Kampanye Prabowo di Jogja

Oleh : Andi Hermansyah )*

Insiden kericuhan mewarnai kegiatan kampanye capres nomor urut 02, Prabowo Subianto di Yogyakarta, Anggota GPK Khittah, Laskar PPP Khittah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilaporkan mengalami luka – luka setelah terkena lemparan batu dari sekelompok massa.

            “Saya dapat laporan di Kuncen (Kecamatan Wirobrajan, Kota Yogya,) salah satu teman dari GPK terkena lemparan batu retak tangannya. Di Jalan Magelang (dekat lokasi acara kampanye Capres Prabowo) dua orang kena lemparan batu,” Ujar Ketua DPW PPP Khittah  DIY, Syukri Fadholi.

            Syukri mengaku korban luka insiden di Wirobrajan, sudah melapor ke Polresta Yogya. Sedangkan korban luka insiden di Jalan Magelang, dia belum menerima informasi apakah melapor ke polisi atau tidak.

            “Satu korban sudah melapor ke Polresta, di Jalan Magelang dua orang luka terkena lemparan, informasi sementara ada dua orang,” ungkapnya.

            Syukri pun mempercayakan kepada pihak kepolisian untuk memproses peristiwa ini. “Kalau tetap proses hukum ya jalan dan saya harap polisi tegas dan adil,” ujarnya.

            “Tapi kalau ada perdamaian, ya damai. Yang penting ke depan jangan saling membalas dan peristiwa serupa tidak terulang lagi,” imbuhnya.

            Syukri menegaskan sebetulnya rombongan GPK Khittah kondusif saat konvoi maupun selama mengikuti acara kampanye Prabowo tadi. Tidak ada motor yang berknalpot blombongan maupun sikap yang mengganggu aktifitas masyarakat sekitar.

            Terkait peristiwa ini, pihaknya telah meminta kepada anggota GPK Khittah untuk menahan diri. Ia juga berharap ke depannya agar aktifitas kampanye Pilpres ini tidak ada lagi pihak – pihak yang sengaja memancing keributan.

            “Saya harap ya jangan mengganggu, jangan saling mencegah, melempar, supaya situasi Yogya dan bangsa pada umumnya aman, tertib,” tuturnya.

            Kericuhan terjadi  disinyalir karena ada orang yang membentangkan spanduk Jokowi – Ma’ruf Amin. “Setahu saya ada 2 orang yang membawa spanduk, Jokowi – Ma’ruf,” ujar salah satu warga Jalan Magelang.

            Rombongan yang sedang konvor, melihat spanduk yang dibentangkan oleh dua orang tersebut. Mereka lalu mengejar kedua orang itu.

Kapolres Sleman AKBP Rizky Ferdiansyah juga membenarkan, bahwa saat kampanye berlangsung, sempat terjadi kericuhan kecil. Namun bisa langsung diredam. Diakuinya, anggota yang di lokasi sempat melakukan tembakan peringatan untuk menghalau massa. Hingga saat ini pihaknya masih mendalami peristiwa tersebut.

            Kericuhan inipun mendapatkan tanggapan dari Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi KSP, Ali Mochtar Ngabalin, ia menyatakan jika Joko Widodo belum mengomentari hal itu, menurutnya, Jokowi hanya akan cepat merespon tuduhan – tuduhan yang mencederai demokrasi saja.

            “Belum. Kalau Jokowi mah senyum – senyum,  santai – santai saja kan,” terang Ngabalin di posko relawan Kotak Hijau, Jalan Brawijaya IX, Jakarta Selatan.

            “Tapi kalau sudah menyangkut mencederai sistem nilai dalam demokrasi pasti beliau ngomong. Umpama mengenai azan, lahan, pasti beliau bicara. Tapi kalau yang begitu – begitu ndak lah,” pungkasnya.

            Atas kericuhan yang terjadi, pihak kepolisian maupun Bawaslu Yogyakarta dianggap kurang mengantisipasi terkait adanya keributan kunjungan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto. Namun Bawaslu Yogyakarta mengaku telah melakukan tindakan antisipasi.

            “Kalau ada tudingan Bawaslu dan Kepolisian tidak mengantisipasi kericuhan itu jelas tidak benar,” ujar Koordinator Div Penindakan dan Pelanggaran Bawaslu DIY, Sri Rahayu Werdiningsih

            Sri menegaskan bahwa pihaknya memiliki bukti upaya antisipasi yang telah dilakukan. Bukti itu dalam bentuk foto bergambar petugas bawaslu dan kepolisian yang sedang menyisir dan menurunkan spanduk bergambar Jokowi – Ma’ruf yang sedang dipasang di area dekat acara Prabowo.

            “Beberapa waktu sebelum Prabowo datang, dan sebelum acara berlangsung, jajaran pengawas kami bersama kepolisian sudah melakukan pencegahan,” Ujar Sri.

            Sementara itu menurut Peneliti Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsudin Haris berkata, jika kampanye tertata maka tak mungkin ada kericuhan. Meski begitu, dia tak menutup kemungkinan adanya kesengajaan pihak tertentu yang ingin membuat kericugan di sebuah acara kampanye.

            Ia juga menambahkan, meningkatnya gesekan fisik di pilpres 2019 antara pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden, disebabkan oleh manajemen kampanye yang masih buruk. Ia mengatakan gesekan yang kerap terjadi di tingkat bawah itu seharusnya bisa dihindari.

            Kurang dari dua bulan jelang kontes demokrasi, tensi diantara pendukung kedua kubu paslon memang semakin memanas. Tak hanya adu argumen, namun ledakan amarah dan gesekan fisik kerap terjadi.

            Di kesempatan yang lain pada akhir Februari lalu, bentrokan antar kedua pendukung paslon terjadi di Bantul, Yogyakarta. Selain itu, di Temanggung Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK), salah satu organisasi sayap PPP, juga bentrok dengan kader PDIP.

            Haris juga mengatakan, selain manajemen yang buruk, ada pula kemungkinan kericuhan ini juga sengaja dimunculkan “Mungkin juga ada yang tak tahu lah, menciptakan situasi yang demikian untuk kepentingan – kepentingan politik, itu juga tidak mustahil,” kata Haris.

            Kericuhan ini tentu tercatat dalam sejarah baru, bahwa toleransi dalam perbedaan di Indonesia masih rendah, hanya karena perbedaan pandangan politik, sesama warga negara Indonesia secara tidak segan beradu fisik.

)* Penulis adalah mahasiswa Universitas Tadulako

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close