Polemik Politik

Anggota Separatis Papua Kembali ke Indonesia

Oleh : Abner Wanggai )*

Seorang anggota KKSB akhirnya menyerahkan diri ke hadapan aparat. Ia memilih berpihak ke NKRI karena merasa telah ditipu mentah-mentah oleh pemimpinnya. Selain itu, hati nuraninya menjerit saat mengadakan aksi penembakan ke masyarakat sipil Papua yang tidak bersalah.

KKSB (kelompok kriminal separatis bersenjata) adalah kumpuan oknum yang sering meresahkan masyarakat. Mereka melawan aparat dengan senapan, bahkan berani menembak warga sipil yang tidak tahu apa-apa, sampai ada korban jiwa. Padahal warga tersebut sama-sama orang Papua. Kekejaman mereka membuatnya dibenci oleh masyarakat.

Namun ada anggota KKSB yang akhirnya bertobat dan dengan rela menyerahkan diri ke hadapan seorang tokoh agama di Kampung Mbua. Dengan didampingi perwakilan masyarakat dan difasilitasi aparat, ia berikrar akan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tidak mau lagi menjadi pemberontak yang brutal. Namanya adalah Tenius Tebuni.

Saat proses penyerahan diri, Tenius menandatangan surat pernyataan keluar dari KKSB dan kembali ke NKRI. Menurut IGN Suriastawa, Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, pada awalnya Tenius diberi janji akan diberi uang dan kebutuhan sehari-hari. Janji manis itu menggiurkan dan ia mau saja walau diajak masuk ke hutan belantara.

Namun sayang lidah tak bertulang. Tenius mengaku, selama menjadi anggota kelompok kriminal separatis bersenjata, ia keluar masuk hutan Papua yagn masih perawn, dan sering kelaparan. Karena tidak ada makanan dan kekurangan logistik lain. Janji yang tidak ditepati oleh sang komandan, membuatnya keluar dan akhirnya berbalik ingin membela Indonesia.

Fenomena KKSB memang rumit karena ternyata tidak semua anggotanya ingin jadi separatis. Bisa jadi ada Tenius-Tenius lain yang diberi janji surga. Namun ketika tidak ditepati, mereka tidak berani menyerahkan diri. Bisa jadi mereka takut akan dianggap pengkhianat KKSB atau takut akan dipenjara. Padahal mereka adalah korban dan aparat pasti bijak menangani kasus ini.

Jika ditilik dari sejarahnya, KKSB berafiliasi dengan OPM yang menginginkan kemerdekaan Papua. Tahun 1971 pentolan OPM mendeklarasikan Republik Papua Barat dan menolak bersatu dengan Indonesia. Padahal sejak tahun 1963, Papua sudah resmi berntegrasi dengan Indonesia.

OPM yang punya bendera bintang kejora akhirnya punya pasukan dan mereka bersenjata untuk terus menginginkan perpisahan Bumi Cendrawasih dengan Indonesia. Ketika ada anggota KKSB yang ditangkap, mereka bisa playing victim dan mencari simpati dari pihak luar. Padahal pemerintah negara lain tidak memiliki kewenangan untuk membela mereka.

Jika ada organisasi negara lain seperti Vanatua yang menanyakan tentang kemerdekaan Papua, maka mereka pasti tidak tahu tentang sejarah Papua. Jika sebuah wilayah sudah bergabung, buat apa dipisahkan? Lagipula, OPM dan KKSB hanya segelintir oknum di Bumi Cendrawasih. Kenyataannya, warga sipil Papua setia kepada NKRI dan tidak mau berpisah.

Mereka juga bisa terhenyak ketika mengetahui ada anggota KKSB yang kembali ke pangkuan NKRI. Karena bukannya menambah kemakmuran, malah menambah penderitaan. Siapa bilang memberontak itu enak? Jika tidak beruntung, bisa-bisa mati kelaparan di hutan. Karena tidak ada lagi tanaman yang bisa dimasak.

Terlebih, Pangdam Cendrawasih Mayjen TNI herman Asaribab mengajak KKSB untuk bersatu. Dengan tujuan membangun Papua bersama-sama. Para anggota KKSB dan simpatisannya wajib disadarkan, bahwa yang selama ini mereka bela itu salah. Dalam artian, jangan terpancing emosi dan akhirnya jadi pengkhianat dari saudara sesuku dan setanah air.

Kembalinya anggota KKSB ke pangkuan ibu pertiwi jadi bukti bahwa selama ini organisasi mereka salah. Jika memang Papua merdeka, mau apa lagi? Padahal selama Papua sudah bersatu dengan Indonesia, ada banyak kemajuan infrastruktur dan bidang ekonomi. Jadi diharap anggota KKSB lain juga menyerahkan diri dan jangan mengacau lagi.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di yogykakarta

Show More

Related Articles

Back to top button
Close