Polemik Politik

Berasal dari Keluarga Non-Muslim, Keislaman Prabowo Diragukan

Penulis : Febri Ridho)*  

Prabowo Subianto adalah sosok capres yang belakangan ini namanya sering muncul di berbagai pemberitaan dan media. Ketua partai Gerindra ini lahir pada 17 Oktober 1951 di Jakarta. Terlahir dari keluarga yang mayoritas beragama non muslim, Prabowo kecil pun mengikuti jejak para orangtuanya. Beliau yang dulu bersekolah di luar negeri pun menjadikan pribadinya berpolah layaknya orang luar negeri.

Ayahnya yang diketahui bernama Soemitro Djojohadikusumo adalah orang yang sudah berhasil menjadikan Prabowo seorang politikus, pengusaha dan Perwira TNI. Victoria Institution adalah nama sekolah dasarnya di Malaysia yang beliau rampungkan dalam kurun waktu tiga tahun. Dan menamatkan pendidikan SMA di American School London. Setelah itu barulah dia melanjutkan pendidikan AKMIL di Magelang.

Menilik sedikit masa lalunya mengapa ia hidup berpindah – pindah dari Singapura hingga ke Amerika ternyata memiliki cerita tersendiri. Ayahnya yang dituding oleh Presiden Soekarno terlibat gerakan pemberontakan, menjadikan ayah dari Prabowo ini memboyong segenap keluarganya ke luar negeri. Tak lama berselang keluarganya tinggal di Singapura, masalah politik di negeri Singapura ini mengalami sedikit gejolak, yaitu pihak Singapura memilih hubungan baiknya dengan Indonesia. Hal itulah yang kemudian menjadi lantaran keluarga Prabowo kembali pindah ke Hongkong.

Selain Hongkong, banyak negara – negara lain yang disinggahi keluarga ini seperti Malaysia, Inggris dan Amerika. Hal ini dilakukan ayah Prabowo semata – mata untuk menghindari balas dendam rakyat terhadap apa yang dia lakukan terkait keterlibatannya pada gerakan pemberontakan yang berujung tumpah darah masyarakat Indonesia. Perlu diketahui peristiwa itu tercatat sebagai peristiwa kelam yang tak patut dilakukan oleh seorang pejabat.

Itulah tadi sekelumit perjalanan pendidikan serta kehidupan Prabowo. Berbicara tentang agama Prabowo, masih banyak berita yang simpang siur. Ada yang mengatakan dirinya Islam setelah proses mualaf, ada pula yang mengatakan dirinya muslim sejak kecil, bahkan ada yang mengatakan dirinya masih non-Islam. Keterlibatannya dalam Pilpres mendatanglah yang membuatnya masuk Islam. Hal ini dimaksudkan agar dirinya dapat menarik simpatik warga muslim untuk memilihnya sebagai Presiden di periode mendatang.

Namun, semua itu masih sebuah dugaan. Kebenaran tentang apa agama Prabowo sejatinya hanya pak Prabowo Subianto lah yang tahu. Tapi, jika ditelusur dari keturunan dan kalangan keluarganya, Prabowo ini berasal dari keluarga yang mayoritas non-muslim. Jika benar demikian, maka mengapa muslim di Indonesia masih mengelu–elukan beliau yang status agamanya masih disangsikan? Mungkin butuh kesadaran lebih bagi mereka. Agar lebih paham dan mengenal siapa sosok yang didambakannya untuk menjadi seorang pemimpin negara.

Mencuatnya kabar bahwa Prabowo adalah kalangan orang non-muslim juga diiyakan oleh sejumlah keluarganya yang menganut agama katolik. Dilihat dari nama Ibundanya yakni Marie Siregar, dapat dipastikan jika ibundanya adalah beragama non-muslim. Kedua adiknyapun mengikuti jejak ibundanya yaitu menganut agama Khatolik. Lain dengan Prabowo yang mengikuti ayahnya yang memang berasal dari keluarga muslim. Namun, karena Capres nomor urut 2 ini dibesarkan oleh tangan ibunda, maka tidak menutup kemungkinan dirinya mendapatkan sentuhan–sentuhan rohani kristiani. Itulah mengapa keislamannya tidak begitu kental di jiwanya. Malahan, dirinya dinilai lebih condong ke Khatolik. Apalagi, menilik masa lalunya yang sempat tinggal di negara–negara yang notabene bukan negara muslim. Bisa jadi, walaupun hanya sedikit Prabowo ini pola hidupnya mengikuti orang luar negeri.

Memang sejatinya, masalah agama sebenarnya tidak baik dicampur baurkan ke dalam ranah politik. Karena pemelukan suatu agama merupakan hak asasi manusia. Namun, Prabowo sendiri mungkin cemas dengan pencalonan dirinya sebagai Capres akan tidak mendapat banyak dukungan dari masyarakat. Pasalnya, masyarakat Indonesia penduduk mayoritasnya adalah muslim. Sehingga tak menutup kemungkinan masyarakat akan memilih pemimpin yang juga muslim dan amanah. Jadi, masyarakat menyoroti Prabowo menetapkan dirinya sebagai muslim dengan alasan tersebut. Agar dirinya mendapat banyak suara di Pilpres mendatang.

Jika benar kondisinya sedemikian rupa, lantas mengapa masih banyak muslim yang mendukungnya? Bukankah muslim yang baik harus mengangkat pemimpin yang berasal dari muslim juga? Yang kepastian tentang kemuslimannya tidak diragukan serta mengerti dan paham akan Islam? Jika umat Islam sendiri sudah tidak mengindahkan adab memilih pemimpin yang benar, lantas bagaimana kejayaan suatu negara yang notabene adalah negara Islam dapat maju pesat? Jika dalam memilih pemimpin saja mereka sudah tidak konsisten.

Menyambung kaidah memilih pemimpin dalam ajaran Islam tentunya disyaratkan pemimpinnya memiliki jiwa agama yang kuat, yang paham akan aturan dan berjiwa kepemimpinan sesuai keteladanan yang baik. Maka, diharapkan muslim yang cerdas juga menuruti kaidah ini untuk mendapatkan pemimpin yang sesuai dengan kriteria umat Islam. Bukan pemimpin yang asal muslim di catatan sipil, namun nol besar terhadap pengetahuan agama.

 

*) Penulis adalah Pengamat Politik dan Sosial

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close