Polemik Politik

BPN Prabowo-Sandi Catut Gatot Nurmantyo, Potret Politik Minim Etika

Oleh : Rizal Arifin )*

            Lama tak terdengar kabarnya, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo tiba-tiba hadir dengan segudang kemarahan. Ulah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi membangunkan macan itu dari tidur panjangnya. Sepertinya kelompok ini tidak pernah bosan membuat resah dan mencari sensasi.

            Adalah pencatutan foto Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo pada baliho di posko BPN Prabowo-Sandi di Solo. Jelas publik tersontak, seakan tidak percaya Gatot yang selama ini berdiam diri tiba – tiba menyatakan dukungan ke Prabowo-Sandi. Ibarat berbisik di keramaian, kabar ini menjadi buah bibir yang ramai diperbincangkan. Secepat kilat Jend (Purn) Gatot Nurmantyo pun menanggapi suara sumbang agar tidak menjadi tanda tanya di masyarakat.

            Melalui akun twitter pribadinya, ia menyampaikan bahwa pencatutan itu tanpa konfirmasi, baik secara tertulis maupun verbal. Pihak BPN Prabowo-Sandi secara sepihak memajang foto sang jenderal tanpa izin dan pemberitahuan kepada yang bersangkutan. Bahkan tak tanggung-tanggung, foto yang dipajang pun adalah berseragam lengkap saat masih bertugas sebagai TNI. Tidak hanya seorang Jend (Purn) Gatot Nurmantyo tetapi institusi TNI pun dilecehkan. Lembaga yang bebas nilai politik praktis dibawa masuk ke pusaran politik dengan cara yang tidak pantas.

            “Mengenai berita seperti tersebut di atas dan ada foto saya pada baliho posko BPN Prabowo-Sandi di Solo, saya nyatakan bahwa saya tidak tahu menahu, tidak pernah dimintai persetujuan atau diberi pemberitahuan baik secara lisan maupun verbal,” tulis Gatot di akun twitternya.

            Gatot pun lantas meminta kepada segenap tim BPN Prabowo-Sandi agar mencopot baliho yang mencatut fotonya segera. Anggota BPN Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahean mengungkapkan pihaknya meminta maaf kepada Jenderal Gatot atas tindakan kawan-kawan dan sahabatnya di lapangan, yang memang mereka tidak menduga bahwa itu menimbulkan protes”.

            Dari ketengan diatas tampak jelas ada unsur kesengajaan mencatut foto Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo berseragam TNI lengkap digunakan sebagai alat politik. Ini adalah sebuah potret amoral berpolitik. Dimana tidak yakin dengan kemampuan dan gagasan yang ditawarkan hingga segala cara pun dihalalkan. Tak dapat dibayangkan bila sang jenderal terlambat mengkonfirmasi, beribu polemik dan pertanyaan pun membuat ricuh masyarakat dan institusi TNI.

            Seolah membenarkan ujaran Winston Churchill (Peraih Nobel sastra dari Inggris), “Dalam perang Anda hanya bisa terbunuh sekali, tapi dalam politik anda bisa mati berkali-kali”. Itulah gambaran nyata kedunguan BPN Prabowo-Sandi, setiap hari bikin kericuhan, lalu klarifikasi minta maaf, gitu aja terus sampe lebaran kuda. Jika kita lihat lebih mendalam, mereka memanfaatkan kelengahan publik atas setiap sensasi bodoh yang dilontarkan. Berharap ada yang kecolongan, lalu terbentuklah literasi publik atas kebohongan yang mereka buat secara terstruktur, sistematis, dan masif.

            Memang politik adalah lembah abu-abu, kadang berwujud neraka dan tak jarang menjadi pelepas dahaga. Ini adalah konsekuensi demokrasi, pembenaran dari pihak yang selalu berkelit. Harus dipahami bahwa etika adalah batasan dari tipu daya politik. Sepertinya BPN Prabowo-Sandi tidak mengindahkan hal ini, seolah seperti anak kecil yang tidak dibebankan hukum padanya.

            Mungkin memang tak elok, tapi itulah nyatanya. Prabowo-Sandi dan para konconya seperti tidak memiliki etika dalam berpolitik. Setiap saat selalu mencari celah untuk menipu dan membohongi masyarakat dalam manuver politiknya. Apakah ini sebuah langkah konyol kehabisan akal atau memang ini adalah tabiatnya. Ruang publik selalu diisi oleh gebrakannya yang menghalalkan segala cara, melawan moral pada konstruksi sosial masyarakat Nusantara, dan seabrek hal bodoh lainnya.

            Tidak bisa dibayangkan apabila Indonesia dengan kebhinekaannya dipimpin oleh orang yang tidak menjunjung tinggi nilai moral universal. Untuk mendapatkan dukungan dan simpati pada gelaran Pilpres 2019 saja mereka melakukan cara seperti ini. Ini renungan kita sebagai anak bangsa, tentu kita tidak ingin menjadikan Indonesia sebagai negeri yang amoral. Kita dihargai dunia justru karena sikap empati dan etika yang tinggi. Mohon kita selamatkan kearifan lokal kebangsaan kita sebagai negeri yang beradab.

)* Penulis adalah Pegiat Demokrasi

Show More

Related Articles

Back to top button