Cuitan Media Sosial

Capres Antek Kafir, Cina dan Kristen?

Oleh : Saiful Mujani Research and Consulting*

Bila saat ini ada penurunan elektabilitas Jokowi sebagai calon presiden Indonesia, ini nampaknya terkait dengan keberhasilan propaganda untuk menggambarkan Jokowi sebagai ‘musuh umat Islam’.

Melalui beragam media – media massa, media sosial maupun berbagai forum pertemuan darat  — Jokowi dengan kasar digambarkan sebagai antek Kristen, Kafir, Cina, Zionis, Barat yang mengancam umat Islam di Indonesia. Prabowo, sebaliknya digambarkan sebagai pemimpin yang akan menyelamatkan umat Islam.

Salah satu indikator sederhana adalah, apa yang ditampilkan dalam media-media Islam online garis keras, yang dalam beberapa tahun belakangan ini menjadi salah satu sarana komunikasi efektif untuk penyebaran informasi di sebagian komunitas muslim.

Contoh terbaik adalah media online Voice-of-al-Islam, yang lazim disingkat VOA. Media ini dikenal memiliki garis redaksi yang sangat keras terhadap pihak-pihak yang mereka definisikan sebagai musuh Islam.

VOA selama ini memang dikenal menjadi rujukan banyak kalangan karena format propagandanya yang sangat eksplisit untuk menghantam kelompok gereja, Kristen/Katolik, Cina/Tionghoa, serta Barat, dan juga kelompok-kelompok dalam Islam sendiri yang dianggap sesat dan menyimpang, seperti Ahmadiyah dan Syiah.

Tulisan-tulisan di VOA lazim dijadikan rujukan diskusi-diskusi kelompok-kelompok Islam dan disebarluaskan melalui berbagai media sosial ataupun difotocopy untuk ditempel di masjid-masjid.

Pengamatan terhadap isi VOA saat ini secara jelas menunjukkan bahwa media ini berupaya membangun citra Jokowi sebagai agen yang sengaja ditanam untuk menghancurkan Islam dan sebaliknya menggambarkan Prabowo sebagai sosok yang paling layak memimpin Indonesia.

Penggambaran Tentang Jokowi

Dalam tulisan tertanggal 1 Mei 2014, VOA menyajikan artikel berjudul: “Prabowo atau Jokowi: Siapa Akan Menjadi Begundal Asing?”.

Tulisan ini mengandung muatan yang penuh kebencian pada warga Tionghoa.  Dengan sangat kasar, warga Tionghoa disebut sebagai kaum ‘A Seng’.

Menurut VOA, kekayaan alam Indonesia selama ini dikeruk oleh bangsa Asing dan bangsa A Seng.  Dengan data entah dari mana, VOA menulis bahwa bangsa  A Seng tumbuh pesat income per capitanya sehingga mencapai $ 30.000 dolar per tahun, sementara kaum pribumi tertinggal dengan pendapatan per kapita hanya $ 500 – 1.000 dolar per tahun.

Tulis VOA: “Jadi yang masih dimiliki bangsa dan rakyat Indonesia nothing alias nol. Indonesia hanya tinggal nama. Tetapi, semua kekayaan alamnya dan asetnya sudah milik Asing dan A Seng”.

Setelah itu VOA menjelaskan bahwa ketertinggalan kaum pribumi ini terjadi karena Indonesia tidak memiliki pemimpin yang benar-benar mencintai rakyat dan negaranya. “Para pemimpin yang ada hanyalah menjadi perpanjangan tangan kepentingan Asing dan A Seng”.

Jokowi digambarkan sebagai tokoh yang hanya akan menjadi pelayan Asing dan A Seng.  Pertemuan antara Jokowi dengan para duta besar Amerika Serikat, Inggris, Meksiko, membahas masa depan Indonesia, dijadikan bukti oleh VOA bahwa Jokowi hanyalah antek asing.

Pada 7 Mei 2014, VOA bahkan menurunkan berita bahwa Jokowi sebenarnya adalah warga keturunan Tionghoa dengan nama asli Herbertus Handoko Joko Widodo bin Oey Hong Liong, lengkap dengan foto pernikahannya.

Dalam tulisan itu, VOA mengungkapkan bahwa meroketnya nama Jokowi tak bisa lepas dari peran AS, kelompok Cina perantauan (Hoakiauw) dan Kongloemrat Hitam yang menggelontorkan dana triliunan rupiah.  “Jadi sesungguhnya Jokowi itu antek Asing dan A Seng. Naudzubillah min dzlik,” tulis VOA.

Propaganda anti Jokowi ini sudah dimulai sejak awal Jokowi dinyatakan sebagai capres resmi dari PDIP. Pada 17 Maret, VOA memuat hasil wawancara dengan Bachtiar Natsir. Judulnya sangat menakutkan: “Selangkah Lagi Jokowi Membuat Indonesia Kafir”.

Bachtiar adalah  Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Dia memang dikenal sebagai salah seorang yang dekat dengan kelompok-kelompok Islam garis keras. Jebolan Universitas Madinah ini  adalah salah satu tokoh yang kemudian terlibat dalam pendirian Koalisi Indonesia Raya yang pada 20 April dideklarasikan Amien Rais.

Dalam wawancara dengan VOA ini, Bachtiar memperingatkan umat Islam bahwa Jokowi akan membuka jalan bagi lahirnya pemimpin-pemimpin kafir di Indonesia. Di Solo, kursi walikota yang ditinggalkan Jokowi diisi oleh pemimpin Kristen; begitu juga di Jakarta, kursi gubernur akan diisi orang Kristen, kalau Jokowi terpilih menjadi presiden.

Menurut Bachtiar,  Jokowi hanya akan membawa musibah bagi bangsa Indonesia.  Hanya saja, katanya lagi, masyarakat selama ini tertipu oleh media yang  “berada di tangan konglomerat Cina dan Zionis”.

Bachtiar menuduh, Jokowi dengan dukungan konglomerat Cina yang merupakan kelompok minoritas di Indonesia berusaha mengangkangi kekuasaan,dan menggunakan kalangan Muslim abangan yang dapat dijadikan boneka guna merengkuh kekuasaan di Indonesia.

VOA menyimpulkan bahwa Jokowi adalah bom waktu bagi Indonesia, karena “di belakang Jokowi sarat dengan kepentingan kelompok konglomerat Cina, Kristen, dan ditambah dengan Syi’ah. Semua itu akan menciptakan konflik horisontal bagi masa depan Indonesia.”

Pada 7 April 2014, VOA menurunkan tulisan yang menghina Jokowi dengan judul: “Tahun 2019, Preman Pasar Klewer-Solo Menjadi Presiden Indonesia?”.

VOA menilai Jokowi tidak memiliki kompetensi secuilpun dalam mengelola negara. Menurut VOA, Jokowi membuat terpana rakyat karena manipulasi media. Jokowi menjadi terkenal karena sering blusukan serta dianggap tidak korup dan  sederhana.”Badannya kurus, kosa katanya sedikit dan hanya bisa senyum-senyum,” tulis VOA menggambarkan Jokowi.

Dengan geram, VOA menulis: “Rasionalitas rakyat sudah tidak bisa berjalan. Segalanya sudah tertutup. Begitu nasib bangsa Indonesia. Bangsa yang menuju pariah (jembel).”

Di bagian penutup artikel, VOA menulis: “Usai Jokowi seandainya menjadi presiden, barangkali tokoh baru nanti, yang sangat ekstrim berasal dari kalangan rakyat jelata, muncul dari Pasar Klewer, Solo.”

Pada 20 April 2014, VOA menurunkan tulisan tentang langkah Amien Rais menggalang partai-partai Islam dalam koalisi Indonesia Raya.

Menurut VOA, koalisi itu dibangun karena  kalangan Islam dan nasionalis, sudah tahu, bahwa Jokowi hanyalah boneka  bagi kepentingan Barat, Zionis, dan kalangan Kristen, yang ingin menguasai negara dan bangsa Indonesia.  “Amin Rais ingin menyadarkan ancaman  Asing dan A Seng yang sudah di depan hidung, dan menyelamatkan negara dan bangsa,” tulisVOA.

Untuk memperkuat argumen, VOA menyatakan bahwa “ menurut sumber yang sangat shahih, dari wartawan senior dari koran terkemuka Singapura”, Jokowi telah memilih tokoh Kristen, yaitu Jenderal Luhut Binsar Panjaitan, yang akan menjadi pendampingnya, sebagai cawapres.”

Di bagian akhir tulisan VOA menyerukan gerakan rakyat serentak, yaitu gerakan ABJ (Asal Bukan Jokowi).

Dari empat tulisan itu saja, terlihat betapa VOA secara konsisten menumpahkan kebenciannya pada Jokowi. VOA dengan sengaja membangun imej sang Gubernur Jakarta sebagai tokoh yang dengan sengaja diproyeksikan kelompok Kristen, Cina, Zionis, Barat untuk menjadi Presiden Indonesia dalam rangka menghancurkan Indonesia.

Tentu saja dalam propaganda semacam ini, kebenaran tidaklah penting. Sebagai contoh, ketika VOA menggambarkan Jokowi bertemu dengan para duta besar negara asing sebagai bukti bahwa Jokowi adalah boneka Barat, VOA begitu saja mengabaikan fakta bahwa yang datang ke pertemuan itu di antaranya juga adalah duta besar Myanmar, Peru dan Meksiko. Belakangan VOA juga mengabaikan saja fakta bahwa Jokowi pun bertemu dengan para duta besar Timur Tengah.

Begitu juga dengan tuduhan bahwa Jokowi meroket namanya karena didukung media yang dikuasai kaum Cina dan Zionis. VOA mungkin dengan sengaja melupakan nama-nama pemilik dan pimpinan media berikut ini: Chairul Tanjung, Surya Paloh, Goenawan Mohamad, Abu Rizal Bakrie, Dahlan Iskan, Erik Tohir, dan sebagainya. Tentu mereka bukan Cina dan Zionis. Mereka bahkan semua beragama Islam.

Apalagi soal data bahwa pendapatan per kapita warga etnik Tionghoa di Indonesia adalah $ 30.000, sementara ‘pribumi’ hanya $ 500-1.000 per tahun. Itu jelas tidak ada rujukan data yang bisa digunakan. Soal bahwa Jokowi didukung para konglomerat hitam tak ada datanya.

Data bahwa Jokowi keturunan Tionghoa hanyalah merujuk pada pernyataan Ridwan Saidi. Ironisnya VOA sendiri menulis (8 Mei 2014) bahwa tidak ada kepastian mengenai orangtua Jokowi. “Namun,” tulis VOA, “kalau dilihat dari wajahnya, Jokowi terlihat masih keturunan Cina.” Nah!

Tapi mempersoalkan profesionalisme VOA memang tidak relevan. Yang terpenting bagi VOA adalah menghantam Jokowi, sekaligus menyebarkan kebencian pada kaum Kristen dan Tionghoa. Untuk menunjukkan bahwa ini bukan cuma karya jurnalistik, di bagian awal tulisan, VOA lazim memberi imbauan: “Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!”.

Prabowo

Sejalan dengan penyebaran kebencian pada Jokowi, VOA juga memobilisasi umat Islam untuk mendukung Prabowo.

Secara konsisten, VOA menampilkan tulisan-tulisan yang menampilkan sosok Prabowo sebagai calon pemimpin Indonesia yang akan menyelamatkan umat Islam dan Indonesia.

Ini misalnya terlihat dalam tulisan VOA pada 24 Maret 2014, berjudul “Prabowo Subianto: Indonesia Akan Dikuasai Para Maling dan Asing.”

Di sepanjang tulisan, VOA memuji-muji Prabowo yang melakukan orasi di Gelora Bung Karno. Sang mantan jenderal digambarkan sebagai pemimpin yang “lantang dan keras bicara, tanpa tedeng aling-aling.”

VOA mengutip berbagai pernyataan retorikal Prabowo. Di acara Gerindra itu VOA menggambarkan Prabowo sebagai sosok yang akan melawan korupsi, yang berpihak pada kedaulatan rakyat, yang akan menolak Indonesia dijadikan jajahan asing, serta bersaing dalam politik secara jujur dan benar.

Sebagai kontras, VOA menulis juga tentang sosok Jokowi yang digambarkan sebagai boneka para konglomerat Cina seperti James Riyadi, Prayogo Pangestu dan Tommy Winata.

Kekaguman VOA pada Prabowo juga nampak pada tulisan “Beranikah Prabowo Melawan Kekuatan Global Asing dan A Seng?” (3 April 2014).

Tulisan yang merujuk pada kehadiran Prabowo pada Sarasehan Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan itu menggambarkan sosok Prabowo sebagai orang yang harus berhadapan dengan  para penjajah bangsa seperti Amerika, Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Singapura.

Prabowo digambarkan di sana sebagai pemimpin yang akan menarik umat Islam lepas dari keterpurukannya. VOA juga secara khusus mengutip pernyataan Prabowo yang menunjukkan kedekatannya dengan Nahdlatul Ulama.

Dikutip pula beberapa narasumber yang memandang Prabowo sebagai pemimpin yang mampu membawa Indonesia siap bersaing di dunia internasional.

Begitu juga orasi Prabowo di depan ribuan buruh pada 1 Mei, diberitakan VOA dengan sangat positif. Dalam liputan itu, VOA menampilkan Prabowo sebagai sosok yang menentang pengaliran kekayaan Indonesia ke luar negeri dan menolak bangsa Indonesia sekadar menjadi kacung bagi bangsa lain. Selain itu, Prabowo juga digambarkan sebagai pemimpin yang berani menerima tuntutan buruh.

Dengan demikian terlihat jelas bahwa VOA menampilkan Jokowi dan Prabowo secara kontras: Jokowi adalah orang yang akan menghancurkan Islam sementara Prabowo adalah orang yang akan menyelamatkan Islam.

Namun pilihan VOA ini memang sangat masuk akal. Jokowi dan PDIP jelas tidak akan berpihak pada agenda kelompok Islam garis keras. Sebaliknya, Partai Gerindra memiliki manifesto yang mendukung gagasan ‘pemurnian agama’ yang diyakini kelompok-kelompok tersebut.

Mudah-mudahan hati nurani dan akal sehat rakyat masih bekerja.

*) Artikel ini telah dimuat di http://www.saifulmujani.com/blog/2014/05/13/capres-antek-kafir-cina-dan-kristen

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close