Polemik Politik

Demonstrasi Mahasiswa Rawan Disusupi Penumpang Gelap

Oleh : Denny Kurniawan )*

Aksi Demonstrasi Menolak Revisi UU KUHP ternyata berujung bentrok dan anarkis. Aparat kepolisian berhasil mengamankan sejumlah peserta aksi yang diduga menjadi pelaku kerusuhan. Ternyata, tidak hanya mahasiswa saja yang diamankan, tetapi ratusan pelajar juga turut ditangkap. Bahkan, sejumlah orang juga kedapatan menyamar sebagai pelajar maupun mahasiswa untuk memprovokasi massa menyerang aparat keamanan.

Seperti di Medan, dimana sejumlah pelajar bahkan kedapatan membawa barang berbahaya di dalam tas mereka, Yakni 2 bom molotov.

            Sementara itu, Pelajar di Pamekasan berinisial SY, mengaku tak tahu soal arti kata revolusi, meskipun dirinya ikut berteriak saat berdemo bersama ribuan mahasiswa di DPRD Pamekasan. SY dan teman-temannya juga mengaku tidak takut meskipun akan mendapatkan sanksi oleh gurunya karena ikut berdemonstrasi.

            Pada kesempatan berbeda, aksi demonstrasi di Sumatera Barat diwarnai dengan pengrusakan ruang sidang gedung DPRD Sumatera Barat dan pembakaran kursi anggota DPRD. Hal tersebut dilakukan setelah massa melakukan orasi sekitar 3.5 jam.

            Massa pun semakin beringas dengan membakar kursi anggota dewan. Beruntung api berhasil dipadamkan oleh petugas kepolisian. Tak hanya itu, kaca meja juga pecah dan kursi juga banyak yang rusak. Ruang Sidang Utama pun terlihat sangat berantakan.

            Kerusakan ternyata juga merembet pada ruang perpustakaan, semua buku-buku dilempar keluar, meja dan kursi patah. Alat-alat elektronik seperti televisi dan komputer hancur berantakan. Mereka juga membakar buku-buku dan sampah di depan gedung DPRD Sumatera Barat.

            Di Jakarta, Unjuk rasa atau Demo Mahasiswa ke DPR Senayan, Jakarta pada 24 September kemarin berakhir ricuh, aparat keamanan terpaksa menghalau mereka dengan menggunakan water canon dan tembakan gas air mata.

Aksi tersebut ternyata berdampak cukup serius terhadap aktifitas publik, dimana sejumlah rute angkutan umum jalur khusus dialihkan karena akses jalannya terhalang oleh Demo Mahasiswa. Salah satunya karena rute yang melintasi depan gedung DPR/MPR Jalan Gatot Subroto. Bahkan hingga keesokan paginya, beberapa halte Transjakarta belum beroperasi.

Selain menutup jalan, peserta Demo juga merusak gerbang tol di Senayan dan Pejompongan. Namun kerusakan tersebut segera diperbaiki dan dapat digunakan kembali pada pukul 06.00.

Pada malam harinya sekitar pukul 21.30, tim pengendali massa dari Polda Metro Jaya berhasil memukul mundur pengunjuk rasa. Massa pendemo merangsek ke atas Stasiun Palmerah, ketika ada seruan mundur melalui pengeras suara aparat kepolisian.

            Imbauan agar Mahasiswa mundur lantas diwarnai dengan aksi lempar batu dan botol – botol berisi air dari arah massa mahasiswa. Sejurus kemudian, lemparan itu dibalas dengan tembakan gas air mata. Semburan gas air mata yang mengeluarkan asap berhasil membuat mahasiswa kocar – kacir.

            Bahkan semburan gas air mata juga menembus stasiun Palmerah, sebagian penumpang yang menunggu kereta di peron stasiun juga panik karena matanya tiba – tiba perih dan beberapa orang mengaku susah bernafas.

            Pihak kepolisian mencatat, akibat dari kericuhan tersebut 39 anggota kepolisian mengalami luka – luka hingga patah tulang, ada yang terkena batu dan panah, saat ini mereka tengah mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.

            Atas maraknya aksi anarkisme dalam penyampaian aspirasi tersebut, Warga kota Bandung merasa prihatin dengan adanya kejadian yang merugikan banyak pihak. Nyatanya banyak yang merasa terganggu akibat aksi anarkis tersebut.

            Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat saat itu tampak tidak jelas apa yang disuarakan. Aksi yang awalnya kondusif dan berjalan damai, akhirnya berubah menjadi tidak jelas dan cenderung anarkis.

            Ketua Forum Kerjasama Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) Kota Bandung, Saeful, menilai, gejolak unjuk rasa saat ini jauh dari akhlak yang mulia. Terlebih, menurutnya, masyarakat Kota Bandung memiliki sikap santun dan tidak mengenal kekerasan.

            Pihaknya juga mengajak kepada seluruh masyarakat agar bersabar dan menghilangkan amarah, terutama saat berunjuk rasa. Hal tersebut dikarenakan, anarkisme bukan merupakan cerminan orang-orang beragama.

            Tentu sah-sah saja aksi demonstrasi digelar untuk menyuarakan aspirasi, tetapi bukan berarti aksi tersebut harus diwarnai dengan tindakan yang tidak beradab, apalagi sampai merusak fasilitas publik, hal tersebut tentu akan merugikan banyak pihak, sehingga jangan sampai keterlibatannya dalam aksi tersebut lantas membuat keonaran yang semestinya tidak terjadi.

)* Penulis adalah pengamat sosial politik

Show More

Related Articles

Back to top button
Close