Polemik Politik

FPI Perlu Dibubarkan Sekarang Juga

Oleh : Zakaria )*

FPI sebagai organisasi massa yang mengaku membela umat, namun mengecewakan karena membuat keonaran. Mereka bukannya menebar kedamaian, tapi malah merusak kerukunan antar umat di Indonesia. Masyarakat memviralkan tagar bubarkan FPI di Twitter, karena sudah lelah dengan ulah mereka.

Tahun 1998, FPI lahir dan langsung menarik perhatian masyarakat, karena mereka berjanji akan membela umat yang tak berdaya. Kemunculan ormas ini baru ada pasca reformasi, mungkin karena di masa orde baru mereka ditekan oleh keadaan. Namun sayang simpati masyarakat berubah jadi benci, karena FPI suka seenaknya sendiri dan sok suci.

Masih tertancap di ingatan saat anggota FPI membuat program sweeping saat bulan Ramadhan. Mereka mengamuk saat ada warung makan yang buka, padahal bisa jadi pemilik dan pengunungnya non muslim. Sikap anggota FPI yang memaksakan kehendak, membuat masyarakat jadi mencibir dan mendoakan semoga organisasi massa itu dibubarkan saja.

Apalagi saat kasus Rizieq jadi headline pemberitaan. Para anggota FPI rela jadi pagar hidup dan mengawal Rizieq ke mana saja, baik saat baru datang di bandara maupun di rumahnya, di kawasan Petamburan. Saat menyambut Rizieq, mereka bahkan merusak fasilitas-fasilitas di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, dan kerugiannya puluhan juta.

Untuk apa ada organisasi massa tapi malah melakukan vandalisme di area publik? Daripada membuat keonaran selanjutnya, lebih baik dibubarkan saja. Masyarakat juga membuat hashtag #bubarkanFPI di Twitter dan sempat menjadi trending topic. Penyebabnya karena mereka geram akan tingkah anggota ormas tersebut yang sudah kelewatan.

Selain kampanye di dunia maya, di dunia nyata masyarakat juga menginginkan bubarnya FPI. Puluhan orang berdemo dengan damai di depan Mapolda NTT. Mereka mengungkapkan keinginannya agar ormas tersebut berhenti mengacaukan kedamaian di Indonesia, dan bubar secara baik-baik.

Sementara di Jakarta, sebuah ormas bernama Laskar Pemuda Muslim Indonesia juga ingin agar FPI dibekukan. Penyebabnya karena oganisasi massa tersebut terus menggoreng isu identitas dan SARA. Padahal SARA adalah sasaran empuk dari perpecahan umat, karena merupakan hal yang sangat sensitif.

Ketua Dewan Pembina Pusat Laskar Pemuda Muslim Indonesia Abdillah Zain menyatakan bahwa ia dan rekan-rekannya sudah berulang kali berdemo agar pemerintah membubarkan FPI. Penyebabnya karena ormas tersebut menjadi ancaman negara. Dalam artian, FPI memang menginginkan pergantian ideologi Indonesia, dari pancasila ke khilafiyah. Sehingga bisa dikategorikan kelompok separatis.

Selain kalangan masyarakat, Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurrachman juga mengancam akan membubarkan FPI. Karena mereka tak pernah taat hukum. Dalam artian, ormas tersebut selalu membuat kekacauan di kalangan masyarakat dan membuat peperangan antar suku dan agama. Apa bedanya dengan provokator yang pengecut?

Sebenarnya jika pemerintah dengan tegas membubarkan FPI, maka boleh-boleh saja. Karena izin ormas ini sudah berakhir sejak tahun 2019. Karena Mendagri Tito Karnavian dan Menko Polhukam Mahfud MD tidak memperpanjang izin FPI. Sehingga jika ormas ini berulah, bisa ditertibkan dengan tindakan yang tegas.

Masyarakat justru senang jika FPI bubar karena nantinya tidak ada lagi yang mengatasnamakan pembela umat tapi malah mengobarkan permusuhan antar umat dan suku di Indonesia. Karena FPI tak pernah paham makna bhinneka tunggal ika. Mereka tak paham indahnya pluralisme di Indonesia, yang sempat dikampanyekan oleh mantan presiden Gus Dur (alm).

Pembubaran FPI sangat dinanti-nanti oleh banyak orang. Karena mereka merasa muak dengan tingkah ormas itu yang seenaknya sendiri saat melakukan sweeping di masyarakat. FPI juga memakai isu SARA agar menjadi buah bibir. Ketika FPI dibubarkan, maka anggotanya harus menerima dengan ikhlas, karena izin ormas ini sudah tidak berlaku di Indonesia.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Bogor

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button