Polemik Politik

Genderuwo, Firehouse of Falsehood

Oleh: Yana Rosiani*

Jakarta,LSISI.ID – Publik politik tanah air belakangan ini menjadi riuh dengan berbagai pernyataan bombastis yang menjadi kontroversi. Kampanye politik yang sudah dimulai sejak September 2018 lalu. Ada yang mengatakan memproduksi kebohongan adalah jalan tempuh yang kerap digunakan untuk memenangkan kontestasi politik. Kemungkinan itu nyatanya turut mewarnai kondisi politik Indonesia saat ini.

Tahun politik kali ini mungkin adalah usaha terakhir Prabowo Subianto yang sudah berusia 66 tahun untuk mendapatkan jabatan politik kelas atas. Ia telah tersingkir sejak krisis keuangan Asia yang merusak, yang memaksa ayah mertuanya yang berkuasa panjang, Presiden Suharto, keluar dari jabatannya pada Mei 1998.

Sekarang Dia kembali menjadi saingan satu-satunya bagi Presiden Joko Widodo. Muncul sebagai pesaing tunggal sayangnya tipe politik falsehood dan menyebarkan ketakutan menjadi strategi utama kubunya. Firehouse of Falsehood adalah jenis politik yang digunakan Rusia dan Donald Trump.

Pada dasarnya, teknik ini menggunakan obvious lies atau kebohongan tersurat yang direncanakan untuk membangun ketakutan. Sebagai propaganda, cara ini dinilai sangat efektif sebab memengaruhi bagian otak yang bertanggung jawab untuk mendeteksi rasa takut dan mempersiapkan diri pada kondisi darurat.

Lalu dalam kondisi politik indonesia kini, siapakah yang memainkan firehouse of falsehood itu?. Bekas panglima pasukan khusus bertubuh besar yang selalu keras berteriak dalam berbicara ini nampaknya sering menakuti-nakuti dan memunculkan pesimisme di masyarakat.

Bahkan sejak sebelum resmi menjadi calon presiden, mantan jendral ini sudah mulai menakuti masyarakat dengan pernyataannya bahwa Indonesia akan bubar pada 2030. Bukan hanya dari pernyataannya, nampaknya sejarah bersama pasukan elite Indonesia sebagai komandannya menggambarkan Prabowo sebagai sosok yang menakutkan.

Sejarah yang menyatatkan namanya sebagai pihak bertanggung jawab kasus pelaku penculikan aktivis tahun 1998 yang tergabung dalam tim mawar. Kejadian ini menimbulkan kenangan buruk dan menakutkan terutama bagi keluarga korban penculikan.

Gaya bicara keras dan entah berdasar fakta dari mana sering dilakuakn oleh Prabowo. Tak heran perkataannya kemudian menimbulkan ketidaksukaan dan ketakutan dari masyarakat. Model firehouse of falsehood yang sukses di Rusia dan AS itu nampaknya sukses di adopsi oleh dia dan timnya.

Nampaknya istilah politik genderuwo yang juga turut meramaikan diksi politik di Indonesia kini sangat sesuai dengan mantan jendral ini. Bahkan Wakil Sekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik menyatakan Prabowo menebarkan rasa takut dengan gaya khas beliau yang menyampaikan dengan cara meniupkan ketakutan. Konfirmasi dari tim koalisinya menujukkan bahwa benar sang Mantan Jendral ini sengaja menebarkan ketakutan dan memainkan politik dusta. Layaknya sosok mistis khas Indonesia yang bertubuh besar, menakutkan dan menipu manusia untuk kemudian diculik, seperti itulah implementasinya.

Seharusnya calon pemimpin bangsa ini dan para politikus yang akan bertarung di pemilu menggunakan perang data bukan perang menakuti. Untuk mencerdaskan masyarakat harusnya memunculkan visi-misi dan program yang jelas dan tepat. Bukan saling serang memunculkan interpelasi

Masyarakat Indonesia harus menerima pencerdasan bukan di suguhkan wayang dengan genderuwo sebagai lakon. Sehingga masyarakat dapat senantiasa mengedepankan persatuan dan kesatuan dan memegang teguh Pancasila. Bukan memecah persatuan para pemilih dengan kebohongan dan ketakutan. Karena bila tidak demikian, dikhawatirkan Indonesia benar-benar berpotensi habis pada 2030.

Generasi optimistis dan generasi penuh harapan harus terus dijaga dalam semangat pemuda Indonesia. Demografi penduduk Indonesia menjadi pemicu optimisitas karena akan adanya bonus demografi di tahun 2045. Bonus itu harus bisa menjadikan Indonesia negara Maju dan Berjaya.

*) Pengamat Ruang Publik

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close