Polemik Politik

Presiden Jokowi Terus Perkuat Relasi Antar Pihak Pasca Pemilu

 

Oleh: Ayub Kurniawan*

Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi) terus memperkuat relasi antar pihak pasca pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Tentunya adanya rekonsiliasi dan konsolidasi menjadi sangat penting agar kembali tercipta keharmonisan bangsa.

 

Relasi antar pihak yang sebelumnya mungkin sempat sedikit meregang dan memanas pada pelaksanaan pesta demokrasi dan kontestasi politik tersebut, hendaknya saat ini mampu kembali diperkuat.

 

Penguatan mengenai relasi antar pihak tersebut juga didukung penuh dan langsung oleh Kepala Negara, Presiden Jokowi. Dalam momentum Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah, hendaknya segenap elemen mampu kembali merajut tali silaturahmi dalam membangun bangsa ini secara bersama-sama.

 

Terkait hal tersebut, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi menilai bahwa adanya gelar griya yang diadakan oleh Presiden RI ketujuh tersebut di Istana Negara merupakan sebuah momen terbaik dalam rangka semakin memperkuat adanya relasi antar pihak setelah Pemilu, baik itu dari kalangan tokoh politik maupun masyarakat sipil di akar rumput.

 

Semua pihak dalam kondisi yang baik dan damai, bahkan gelar griya di Istana Negara tersebut juga menjadi sebuah momentum silaturahmi untuk para tokoh politik dengan penuh akan kehangatan dan keceriaan.

 

Sebagai informasi bahwa gelar griya di Istana Negara sendiri merupakan yang pertama kali kembali diadakan setelah selama tiga tahun berturut-turut harus ditiadakan akibat dampak pandemi COVID-19.

 

Tidak hanya para menteri saja, namun pejabat lain juga tampak hadir dalam acara itu, termasuk para duta besar (dubes) dari negara sahabat. Ada banyaknya para tokoh politik yang hadir menunjukkan bahwa memang momen Idul Fitri 1445 Hijriah menjadi acara yang sangat penting untuk terus memperkuat relasi diantara para tokoh sesudah bersaing secara sehat dalam Pemilihan Umum (Pemilu).

 

Karena pesta demokrasi dan kontestasi politik tersebut sudah selesai dilaksanakan, maka saat ini adalah seluruh pihak cukup untuk menunggu saja bagaimana semua rangkaian proses tersebut berjalan termasuk menyambut hasil sengketa Pilpres yang dilaksanakan di Mahkamah Konstitusi (MK).

 

Tentunya agenda open house di Istana Kepresidenan tersebut dapat menjadi sebuah kesempatan yang baik untuk kembalu merajut hubungan dan tali persaudaraan pasca perhelatan Pemilu 2024.

 

Pengamat politik dari Universitas Airlangga, Cecep Hidayat mengatakan bahwa tenu saja seluruh pihak memiliki harapan yang baik dan saling optimis bahwa semuanya mau untuk saling terbuka kembali merajut persaudaraan, mau kembali menjalin komunikasi dan merajut kembali hubungan yang sempat meregang akibat dampak Pemilu.

 

Adanya rekonsiliasi dan konsolidasi antara pihak merupakan sebuah modal yang sangat penting untuk bisa kembali membangun masa depan bangsa dan memajukan negeri ini ke depannya secara bersama-sama.

 

Sementara itu, Menteri Agraria dan Tata Rung (ATR) atau Badan Pertanahan Nasional (BPN) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyatakan bahwa adanya gelar griya Idul Fitri 1445 Hijriah yang dilaksanakan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara menjadi simbol kekuatan bangsa ke depannya.

 

Hal tersebut menjadi sangat penting karena bangsa Indonesia memang baru saja selesai melaksanakan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Sehingga dengan adanya gelar griya tersebut menunjukkan para pemimpin bangsa ini mampu solid untuk bersatu bersama dengan berbagai tokoh dan masyarakat untuk menatap Indonesia penuh akan optimisme. Saat ini merupakan momentum terbaik untuk melakukan rekonsiliasi dan kembali bersatu demi menyongsong masa depan bangsa lebih baik lagi dengan bergotong royong.

 

 

Di sisi lain, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Fatwa, Asrorun Niam Sholeh juga menyatakan bahwa memang perayaan Idul Fitri 1445 Hijriah menjadi momentum yang sangat penting untuk melakukan rekonsiliasi nasional setelah seluruh masyarakat di Indonesia menggelat Pemilihan Umum (Pemilu).

 

Dalam momentum 1 Syawwal 1445 Hijriah seperti sekarang ini, hendaknya seluruh pihak mampu menjadikannya sebagai tahun kebersamaan dan persaudaraan, sekaligus sebagai momen adanya rekonsiliasi nasional setelah sempat terpecah dalam perbedaan pilihan politik beberapa waktu lalu.

 

Terlebih, adanya momentum kebersamaan dalam perayaan Idul Fitri 1445 Hijriah sendiri menjadi sebuah titik yang sangat penting untuk kembali meneguhkan komitmen segenap rakyat Indonesia dalam membangun sebuah negara yang di dalamnya terdapat kebaikan serta tercermin pula dari bagaimana perilaku penduduknya.

 

Masyarakat hendaknya mampu merayakan momentum Hari Lebaran ini dengan saling menjaga kepentingan bersama sebagai sebuah bangsa yang satu meski baru saja mengadakan kontestasi politik. Adanya persatuan dan kesatuan merupakan sebuah etos dan semangat dalam Idul Fitri yang memang harus terus dijunjung bersama.

 

Saatnya kini semuanya bisa saling memaafkan dan bersatu kembali untuk membangun kepentingan bangsa ini menuju masa depan yang jauh lebih cerah dan memajukan negeri secara bersama-sama karena kontestasi politik setiap lima tahunan itu memang sudah berakhir.

 

Dalam mewujudkan hal tersebut, Presiden Jokowi terus berupaya untuk memperkuat adabya relasi dan tali persaudaraan antar pihak pasca Pemilihan Umum (Pemilu) agar tercipta rekonsiliasi serta konsolidasi yang baik.

 

*) Kontributor Yayasan Satu Kawan Sejuta Sahabat

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button

Adblock Detected

Kami juga tidak suka iklan, kami hanya menampilkan iklan yang tidak menggangu. Terimakasih