Sendi Bangsa

Kontroversi Nilai dan Sikap Bahar bin Smith sebagai “Ulama”

Penulis : Sapri Rinaldi*

Bahar bin Smith dilaporkan dua pihak karena cermah yang disampaikan berisi hinaan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Isi ceramah tersebut secara gamblang menyatakan bahwa “Jokowi banci” dan “Jokowi haid”. Ceramah itu beredar di media sosial pada Rabu (28/11). Oleh sebab itu, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo melakukan pencekalan Bahar untuk keluar negeri sesuai surat dari Bareskrim Polri tertanggal 1 Desember 2018 ke Dirjen Imigrasi.

Pelaporan Bahar ke Polri dilakukan oleh Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid dan Sekjen Jokowi Mania sebagai kasus Hate speech terhadap simbol negara. Bahar dilaporkan dengan Pasal UU Nomor 1 Tahun 1946 KUHP No 40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis, UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 2008 tentang ITE, serta Pasal 207 KUHP, Pasal 16 juncto Pasal 4 huruf b angka 1, dan Pasal 45 ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2).

Menindaklanjuti pelaporan tersebut, Polri bergerak cepat untuk melakukan investigasi dan memeriksa ahli hukum pidana serta informasi dan transaksi elektronik (ITE) serta mengumpulkan bukti-bukti, yang salah satu buktinya ialah rekaman atau video ceramah Bahar.

Ceramah Bahar yang berisi hate speech dapat diganjar dengan hukum dua tahun penjara mengacu pada  UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP, serta dapat menjadi enam tahun jika berlandaskan UU ITE.

Kasus hate speech ini bukan merupakan hal pertama bagi Bahar bin Smith berurusan hukum dengan Polri. Sebelumnya pada 2012, Bahar pernah berurusan hukum (tersangka) dan ditahan karena memimpin aksi sweeping di Kafe de Most, Bintaro, Jakarta.

Saat itu, massa yang dipimpin Bahar mendatangi kafe tersebut dengan persenjataan seperti celurit, stik golf, golok, dan pedang samurai, serta bendera ormas. Para pelaku kemudian merusak dan menghancurkan barang-barang di kafe dan memukul dua karyawan kafe.

Selain itu, Juli 2012, polisi turut mengungkap jejak kekerasan pemimpin Majelis Pembela Rasulullah Bahar dalam memimpin penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah di Kebayoran lama pada 2010. Selain itu, 2010 Bahar turut serta dalam kerusuhan Makam Mbah Priok.

Ulama : Pantaskah Bahar bin Smith?

Kontroversi ceramah Bahar bin Smith yang dianggap telah menghina simbol negara, dan ujaran kebencian serta diskriminasi ras dan etnis mendapat respon dari segala kalangan.

Ketua Komnas Perempuan Azriana Manalu menilai bahwa cermah Bahar bin Smith sarat bias gender dari pandangan patriarki dan berkonotasi (menggambarkan) kaum perempuan merupakan second class yang tidak penting, tidak punya ketegasan, kecerdasan dan keberanian.

Hal tersebut tidaklah mencermin sikap seorang ulama dalam ceramah Bahar bin Smith. Seorang ulama haruslah menyampaikan ceramah yang mampu membuat jamaahnya menjadi damai dan tentram.

Bahar bin Smith perlu belajar lebih dalam terhadap Buya Ahmad Syafii Maarif bagaimana sikap, ceramah, dan teladan seorang ulama. Buya Syafii pernah menyatakan agama harus dipakai untuk mengarahkan pemeluknya kepada hal-hal yang lebih baik. Bahkan Buya Syafii menyatakan agama itu harus mengajarkan kemanusian dan toleransi.

Namun, saat ini banyak orang yang mengeklaim sebagai Habib bahkan ulama menggunakan Islam sebagai alasan pembodohan. Menebarkan kebencian atau mengkafirkan orang lain atas dasar agama tanpa mengetahui tingkatan kafir orang lain. Hal ini pernah pula disampaikan salah satu penceramah, yaitu Ustadz Khalid Basalamah bahwa tidak diperbolehkan menghina pemimpin (presiden).

Meninjau hal tersebut, haruslah masyarakat dan umat mengetahui bahwa agama tidaklah pantas digunakan untuk menghilangkan rasa kemanusiaan dan toleransi serta untuk menghina orang lain, serta tidaklah semuanya orang yang menggunakan orang yang mengaku ulama memiliki nilai kepantasan untuk menyandang gelar tersebut.

 

*) Pengamat Sosial dan Politik

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close