Polemik Politik

Layakkah Prabowo Memimpin Indonesia?

By: Alifah Salsabila *

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto dikenal dengan penyampaian sejumlah kritik untuk pemerintah. Tak hanya menggaungkan slogan “Make Indonesia Great Again”, ia juga turut menyindir pemimpin Indonesia yang menurutnya hingga hari ini tidak memiliki keberanian untuk mengatakan tentang kebijakan perdagangan bebas yang diberlakukan di Indonesia.

Tidak hanya itu, Prabowo juga kerap melayangkan kritikan terhadap kinerja pemerintah, mulai dari pemikirannya terkait kedaulatan Indonesia yang mulai terancam akibat sistem ekonomi dan politik yang jauh menyimpang dari cita-cita pendiri bangsa. Akibatnya, kedaulatan bangsa juga terancam karena segelintir orang kaya ingin menguasai seluruh aspek kehidupan, termasuk politik. Kemudian masalah pemerintah yang diaggap telah melanggar Undang-Undang Pilkada, ekonomi Indonesia yang kurang baik dan berlangsung tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyat, aparat TNI yang lemah, kehidupan bangsa dan negara Indonesia yang sudah salah alur dan tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945, serta kritiknya terhadap pemerintah yang terus membagi-bagikan sembako. Pembagian sembako dianggapnya tidak mampu memperkuat perekonomian rakyat.

Kritikan-kritikan yang dinyatakan Prabowo untuk menyerang lawan politiknya tidak mencerminkan calon pemimpin yang memiliki profesionalisme dan kewibawaan tinggi. Prabowo hanya dapat mengkritik karena hanya itu yang dapat ia lakukan, dapat mengkritik saja namun tak pernah memberikan solusi. Dapat kita lihat, Capres Prabowo Subianto tidak mempunyai pengalaman di pemerintahan. Ia tak mampu menjadi pemimpin karena belum paham kebutuhan masyarakat, dan juga keahlian TNI ada pada bidang pertahanan dan keamanan sehingga Prabowo tidak paham soal kesehatan, pendidikan, perekonomian, sehingga tidak kompeten untuk menjadi Capres saat ini, bila dibandingkan dengan pasangan Jokowi-Ma’ruf yang sudah memiliki rekam jejak baik soal pemerintahan, yang diyakini lebih mampu mengakomodir situasi negara saat ini.

Setiap orang punya hak suara. Elite boleh saja pecah, tapi rakyat bisa memilih dengan baik, rakyat kita cerdas dan bisa membedakan mana fakta dan fitnah. Sekarang kita harus memilih pada siapa otoritas akan diberikan terhadap pemimpin yang akan maju nantinya. Janganlah mencari pemimpin yang hanya baru mau belajar namun carilah yang lebih berpengalaman. Melalui Pilpres 2019 nanti, mari kita jadikan momentum memilih pemimpin yang tak punya sejarah masa lalu yang kelam, pemimpin yang tak punya tradisi yang berlawanan dengan kemanusiaan, pemimpin yang bersih.

*) Penulis adalah mahasiswa FISIP Universitas Mulawarman

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close