Polemik Politik

Melawan Kampanye Negatif dengan Kreatif

Oleh : Rachmad Gibran )*

Kita bersyukur bangsa Indonesia memiliki anak-anak muda yang kreatif dan peduli dengan masa depan bangsa dan negara, sekalipun mereka secara terbuka menyatakan dukunganya kepada salah satu dari kedua kandidat tetapi mereka menunjukan dukunganya melalui cara mereka sendiri; kreatif dan inovatif. Mempromosikan pilihanya tanpa merendahkan, menjatuhkan apalagi memfitnah kandidat lain yang bukan menjadi pilihanya.

Jika Islam menggajarkan kepada umatnya untuk bersikap secara adil dan tidak dilandasi atas dasar kebencian sebagaimana yang tertuang dalam firman Allah Surah Al-Maidah ayat 8 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Maka dalam falsafah jawa juga terdapat pesan yang cukup positif, diantaranya “ngluruk tanpo bolo, menang tanpa ngasorake” (berjuang tanpa mengorbankan pendukungnya, menang tanpa merendahkan atau mempermalukan).

Sementara anak-anak muda kita menyampaikan pesan moral dengan caranya sendiri. Mulai dari membuat iklan televisi untuk mengajak anak-anak muda untuk ikut berpartisipasi. Ada juga yang membuat lagu yang ditujukan untuk salah satu kandidat, tetapi didalamnya juga berisi pesan untuk tetap menjaga perdamaian dalam perbedaan. Sebagai contoh, berikut lirik salah satu lagu yang disuarakan oleh beberapa musisi Indonesia; “ini zaman demokrasi, kalau beda jangan sensi. Musik keras jangan takut, kita bebas memilih jangan golput. Dari Sabang sampai Merauke, biar beda kita tetap damai”.

Substansi kampanye adalah sebagai ajang sosialisasi visi dan misi serta rencana kerja masing-masing kandidat. Banyak cara dan model kampanye yang cerdas, kreatif dan mendidik daripada penggunaan cara-cara tidak etis yang justru akan menyebabkan bencana dan kerusakan moral yang lebih besar. Kampanye jangan hanya dijadikan sebagai ajang mengekspresikan kebebasan massa yang tidak terkendali, apalagi menjadi arena mencaci, memaki dan memfitnah, bahkan mengancam lawan politiknya.

Umat Islam dan seluruh masyarakat bangsa Indonesia tentuanya, tidak menghendaki terpilihnya seorang pemimpin dari hasil proses yang curang dan penghalalan segala cara, termasuk dari hasil black campaign yang jauh dari etika dan moral agama apalagi hanya menjual isu SARA (suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) yang sudah menjurus pada tindakan ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dan fitnah yang amat dibenci dan di murkai Allah SWT.

Islam adalah agama yang mengajarkan kepada setiap umatnya untuk senantiasa mengedepankan ahlakul karimah dalam setiap tindakanya, termasuk dalam rangka pelaksanaan kampanye jelang Pilpres 2019 kali ini. Firman Allah Swt., Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.

Disinilah komitmen ‘kampanye damai dan berintegritas’ patut kita apresiasi sebagai wujud niat baik sekaligus komitmen kebangsaan dari masing-masing kandidat, para penyelenggara Pemilu, hingga masyarakat bangsa Indonesia secara keseluruhan dalam mensukseskan pelaksanaan Pemilu yang jujur, adil dan terpercaya. Hanya melalui proses Pemilu yang jujur, adil dan terpercaya inilah akan menghasilkan sosok pemimpin yang berintegritas hasil pilihan rakyat.

Kita berharap siapapun yang pada akhirnya nanti terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia untuk masa bakti lima tahun kedepan dapat melaksanakan amanah kepemimpinananya dengan baik dan bersungguh-sungguh, bekerja, berjuang untuk kemakmuran, kesejahteraan, keadilan dan kemajuan bangsa Indonesia secara keseluruhan, bukan hanya untuk kepentingan diri pribadi, partai pendukung maupun kelompoknya semata.

Dan bagi pihak yang tidak terpilih, kita merindukan sosok pemimpin yang memiliki jiwa kesatria; berani berjuang untuk menang dan menerima setiap kekalahan serta mengakui pihak yang menang bahkan bersedia mendukung pihak yang menang dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunanya yang ditujukan untuk kepentingan rakyat. Bukan sikap sebaliknya, tidak menerima kekalahan, mencari-cari kesalahan, mengeluarkan ancaman, menebar teror, atau lebih jauh berupaya menjegal pihak yang menang.

 

)* Penulis adakah mantan Santri di Jawa Timur

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close