Warta Strategis

Mendukung Larangan Mudik Lebaran Cegah Covid-19

Oleh : Raavi Ramadhan )*

Tahun 2021 masih pandemi dan masyarakat khawatir apakah diperbolehkan untuk mudik lebaran. Ternyata pemerintah kukuh melarang mereka untuk pulang kampung. Alasannya karena penyebaran corona masih mengganas. Keputusan ini demi keselamatan bersama dan harus kita apresiasi.

Mei 2021 menjadi waktu yang krusial karena ada hari raya idul fitri. Saat lebaran, biasanya masyarakat berbondong-bondong untuk pulang kampung, karena rata-rata mereka hanya bisa melakukannya setahun sekali. Penyebabnya karena alasan kesibukan atau biaya mudik yang cukup tinggi.

Akan tetapi, tahun ini Indonesia masih dilanda pandemi. Masyarakat masih berharap semoga di 2021 ini bisa mudik karena tahun lalu mereka terpaksa tidak bisa pulang kampung. Namun sayangnya tahun ini pemerintah tetap melarang mudik lebaran. Hal ini diungkapkan oleh Menko PMK Muhadjir Effendy. Alasannya karena angka penularan dan kematian akibat corona masih tinggi pasca liburan.

Menurut Muhadjir, masyarakat tidak boleh keluar kota tanggal 6 hingga 17 mei 2021. Lalu, mudik memang dilarang tetapi tetap ada cuti sehari pasca lebaran. Sedangkan bantuan sosial tetap akan diberikan. Larangan mudik tak hanya berlaku untuk ASN, polri, dan TNI, tetapi juga seluruh kalangan masyarakat.

Cuti sehari pasca lebaran diberikan dan para pekerja akan masih mendapat 2 hari libur. Sehingga mereka tidak akan merasa stres karena hari libur lebaran terlalu pendek. Libur yang tidak terlalu lama membuat mereka pikir-pikir jika akan mudik ke kampung halaman. Jika naik pesawat terbang, maka harus tes swab dan biayanya cukup tinggi.

Keputusan pemerintah ini memang menjadi pro kontra. Masyarakat ada yang kecewa karena gagal mudik. Namun tiket bis atau kereta apinya tidak hangus karena bisa di-reimburse atau ditukar tanggalnya. Akan tetapi, kita masih harus legowo. Lebaran di rantau atau di kampung sama saja, karena yang penting adalah esensi kesucian hari raya.

Kita harus ikhlas jika lebaran gagal mudik. Daripada nekat pulang kampung lalu membawa virus covid-19 dan akhirnya orang tua atau kerabat jadi sakit. Padahal mereka tergolong lansia dan beresiko tinggi jika terkena corona, karena memiliki penyakit bawaan. Daripada nanti malah membawa korban jiwa, lebih baik menahan diri dan tidak mudik sekali lagi.

Kalaupun kerabat tidak tertular corona, maka kita sendiri yang beresiko untuk ketularan saat dalam perjalanan. Bisa di dalam rest area, toilet, mobil travel, atau tempat lain.  Di tempat-tempat itu masyarakat cenderung susah untuk menjaga jarak dan rata-rata melepas masker saat istirahat, karena gerah dan kelelahan. Daripada terkena corona, lebih baik lebaran di rumah saja.

Ingatlah jika RS yang menampung pasien covid masih penuh. Isolasi mandiri tidak terlalu efektif, dan hanya baik untuk mereka yang menunjukkan gejala ringan. Jangan mengambil resiko terlalu tinggi. Lebih baik video call dengan orang tua dan kerabat di kampung. Mereka pasti mengerti mengapa alasan anak-anaknya gagal mudik pada tahun ini.

Apalagi ketika kita belum mendapat vaksinasi corona. Sehingga kekebalan tubuh terhadap virus covid-19 masih rendah. Saat mudik, imunitas cenderung turun karena perjalanan yang jauh dan rata-rata mengambil jalur darat, sehingga lebih mudah untuk kelelahan. Saat imunitas rendah, di situlah virus corona menyerang dan akibat paling fatal adalah kematian.

Jangan mengeluh dulu saat ada larangan mudik, karena pasti ada alasannya. Pemerintah membuat keputusan yang menguntungkan rakyatnya, karena memikirkan keselamatan kita. Larangan mudik ini demi keselamatan bersama, bukan sebuah arogansi pemerintah. Jadi sebagai warga negara yang baik, harus menaati peraturan ini dan tidak mudik untuk sementara waktu.

)* Penulis adalah kontributor lingkar Pers dan mahasiswa Cikini

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button