Polemik Politik

Mengutuk Aksi Teror di Markas Polisi Kalsel

Oleh : Raditya Rahman )*

Daerah Daha Selatan, Kalimantan Selatan, geger karena ada peristiwa penyerangan di kantor polisi. Sebanyak 5 orang teroris menyerang Mapolsek Daha Selatan dan menyebabkan seorang polisi meninggal dunia. Masyarakat mengutuk aksi mereka yang tega menyerang kantor polisi sehingga ada yang sampai kehilangan nyawa.

Daha Selatan adalah daerah di Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Di pulau Borneo ternyata juga ada teroris yang mengancam kedamaian dan keamanan masyarakat. Mereka tega menyerang Mapolsek Daha Selatan dan menyebabkan seorang petugas gugur saat berjaga. Sontak seluruh lapisan masyarakat mengecam aksi teroris ini yang berani menyerang kantor polisi sampai menyebabkan korban jiwa.

Peristiwa penyerangan ini terjadi tanggal 1 juni 2020. Para teroris yang terdiri dari 5 orang sengaja memilih untuk menyerang pada dini hari, karena keadaan masih sepi. Diperkirakan juga petugas yang berjaga hanya sedikit. Awal dari penyerangan ini adalah ketika mereka membakar sebuah mobil patroli di depan Mapolsek Daha Selatan.

Belum puas dengan membakar mobil, mereka menyerang ke dalam Mapolsek. Brigadir Leonardo yang sedang berjaga di dalam jadi korban, tubuhnya terkena sabetan pedang katana dan tidak terselamatkan. Ketika rekannya datang, tubuhnya sudah bersimbah darah dan sayangnya ia gugur dalam tugas mulia.

Petugas lain pun menelepon untuk meminta bantuan untuk menyerang balik para teroris. Akhirnya teroris itu lari dan ada yang malah bersembunyi di dalam Mapolsek. Ketika ada tembakan peringatan, mereka malah tidak mau menyerahkan diri. Aksi baku tembak pun tak dapat dihindarkan. Seorang teroris jadi korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Masyarakat mengecam keras aksi teroris itu. Mengapa harus kantor polisi yang diserang? Sedangkan mereka adalah penjaga dan pengayom masyarakat. Teroris benar-benar tidak punya hati dan malah menganggap polisi adalah halangan mereka untuk merdeka. Petugas dianggap sebagai representasi pemerintah, dan kaum radikal memang terang-terangan membenci pemerintahan yang sekarang dan ingin mengganti azas pancasila.

Banyak orang juga menyesalkan mengapa harus ada aksi teror di dalam kantor polisi? Para teroris juga tidak takut resiko tertembak dan bisa jadi mereka malah bahagia ketika tewas dalam peristiwa penyerangan. Karena dianggap mati syahid, padahal definisi syahid bukanlah seperti itu.

Teroris itu melakukan penyerangan dan menghebohkan masyarakat, padahal kita masih ada di bulan Syawal. Bukankah masih dalam suasana Idul Fitri dan seharusnya saling memaafkan? Namun yang ada malah kerusuhan yang membuat geger. Para teroris tidak peduli akan bulan yang dijadikan waktu penyerangan, karena kebencian mereka pada pemerintah dan petugas sudah membabi-buta.

Analis intelijen Ridlwan Habib menerangkan bahwa teroris yang menyerang Mapolsek Daha selatan, Kalsel, adalah orang-orang yang sudah terlatih. Mereka bukanlah anak kemarin sore, karena sudah tahu strategi penyerangan. Para teroris sengaja memilih untuk menyerang di pagi buta karena susasananya masih sunyi senyap. Lagipula, biasanya petugas yang berjaga bisa kurang konsentrasi karena mengantuk setelah melek semalaman. Terlebih, ketika pagi buta keadaan masih gelap, sehingga mudah untuk melarikan diri.

Diduga, teroris itu adalah jaringan dari ISIS. Mereka menganggap polisi adalah representasi dari toghut yang jahat, sehingga harus diberantas. Sayangnya teroris itu menggunakan  strategi dan kecerdasannya untuk membunuh orang lain. Bisa jadi mereka sudah dicuci otaknya sehingga membenci pemerintah dan menganggap polisi adalah penjahat.

Peristiwa penyerangan Mapolsek Daha Selatan menyebabkan gugurnya seorang petugas. Seorang teroris juga tewas ketika diserang balik. Aksi teror ini dikecam keras oleh masyarakat, karena kaum radikal berani menyerang kantor polisi dan tega membunuh petugas yang tidak bersalah.

)* Penulis adalah warganet, tinggal di Bogor

Show More

Related Articles

Back to top button