Polemik Politik

Mewaspadai Anggota Eks Ormas Terlarang Terlibat Gerakan Radikal

Oleh : Catur Ramadhan )*

Anggota Eks Ormas terlarang tentu menjadi kelompok yang patut dipantau gerak-geriknya, meski izin organisasinya telah dicabut, tetapi ideologi yang dianutnya masih ada dalam pikirannya dan memungkinkan dirinya bertindak secara radikal. Masyarkat diimbau untuk tetap waspada dan melaporkan aktivitas terlarang tersebut kepada pihak berwajib.

Keterkaitan antara Ormas terlarang dengan jaringan teror bukanlah isapan jempol. Anggapan tersebut tentu bukan tanpa alasan, dimana sebelumnya pihak Kepolisian telah menemukan sejumlah barang bukti berupa atribut baju dan buku dengan logo Front Pembela Islam (FPI) dalam penggeledahan terduga teroris di Kabupaten Bekasi dan Condet Jakarta Timur.

             Padahal FPI merupakan ormas yang sudah dinyatakan sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah pada akhir Desember 2020 lalu.

             Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran tidak mengatakan denga tegas apakah terduga teroris yang diringkus tersebut memiliki keterkaitan dengan ormas FPI.

             Dirinya mengatakan semua barang bukti yang ditemukan nantinya akan menjadi temuan awal yang didalami oleh pihak Densus 88 Antiteror Polri.

             Berdasarkan barang bukti yang diperlihatkan oleh kepolisian, terlihat baju berwarna hijau putih dengan logo berbentuk bundar bertuliskan kata FPI Front Pembela Islam. Tak hanya itu, terlihat pula atribut yang berlogo bertuliskan Laskar Pembela Islam.            

             Sebelumnya polisi juga telah menggerebek terduga teroris di Bekasi dan Condet yang merupakan rangkaian perburuan polisi setelah peristiwa ledakkan bom bunuh diri di Katedral Makassar.

             Hingga Senin 29 Maret 2021 sore, polisi telah menangkap sebanyak 13 orang terduga teroris di sejumlah lokasi, termasuk Condet dan Bekasi.

             Empat dari 13 terduga teroris tresebut ditangkap di Makassar. Mereka diduga turut membantu pelaku bom bunuh diri di Makassar. Mereka membantu pasangan suami istri pelaku bom bunuh diri untuk membeli bahan-bahan peledak.

             Sementara itu Tim Densus 88 Antiteror Polri menangkap sejumlah terduga teroris di Makassar beberapa waktu lalu. Kapolda Sulsel Irjen Merdisyam menyebutkan beberapa terduga teroris yang ditangkap adalah simpatisan Front Pembela Islam (FPI).

             Merdisyam menuturkan bahwa para anggota FPI tersebut telah berbaiat kepada Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi. Mereka telah berbaiat kepada ISIS pada tahun 2015.

             Salah satu terduga teroris yang merupakan simpatisan FPI bernama Ahmad Aulia (30). Melalui video dirinya mengaku sebagai bagian dari simpatisan FPI yang berbaiat kepada ISIS.

             Dalam tayangan tersebut dia mengakui bahwa dirinya ditangkap pada tanggal 6 Januari 2021 di Polda Sulsel. Adapun dirinya ditahan atau ditangkap di kantor Polisi Polda Sulawesi Selatan karena berbaiat kepada Daulatul Islam yang memimpin Daulatul Islam, yaitu Abu Bakar Al-Baghdadi, saat deklarasi FPI mendukung Daulatul Islam pada Januari 2015 lalu.

             Ahmad Aulia juga mengaku turut serta berbaiat bersama dengan seratusan simpatisan FPI di markas FPI Makassar, Jalan Sungai Limboto, Makassar, Sulawesi Selatan. Pembaiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah pengurus FPI pusat dan Makassar.

             Saat berbaiat, dirinya mengaku bahwa prosesi tersebut dihadiri oleh Munarman selaku pengurus FPI pusat pada saat itu, Ustaz Fauzan dan Ustaz Basri, yang memimpin baiat pada saat itu.

             Pada kesempatan berbeda, sejumlah barang bukti yang didapat dalam operasi penangkapan terduga teroris di Condet Jakarta Timur dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, ditampailkan diatas meja ukurang panjang yang disediakan di gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Beberapa barang diantaranya adalah buku-buku, senjata tajam, poster, bahan-bahan kimia dan beberapa pakaian serta topi.

             Diantara barang bukti tersebut, properti yang paling mencolok adalah munculnya kaos dan topi beratribut Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Pembela Islam (LPI).

             Selain itu, dari penggeledahan juga ditemukan lima bom aktif yang sudah terkait dalam bentuk kaleng dengan sumbu yang terbuat dari Triaseton Triperoksida.

             Kaum radikal cenderung melihat pemerintah adalah sekelompok orang yang dzalim. Mereka akan menggoreng segala kebijakan pemerintah untuk memuluskan agenda kelompoknya.

Syaikh Dr Muhammad Adnan Al-Afyouni menegaskan, Nabi Muhammad tidak pernah membunuh dan selalu bergaul dengan siapa-pun tanpa memandang agama, baik Yahudi maupun Nasrani.

             Keterlibatan terhadap gerakan radikal bisa diikuti oleh siapa saja, apalagi jika dirinya terlanjur anti terhadap dasar negara yang berlandaskan pancasila, segala doktrin tentang penghancuran akan terus diamini tanpa melalui pemikiran kritis.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Samarinda

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button