Warta Strategis

Nusa Penida Festival 2017 di Tengah Aktivitas Gunung Agung, Aman untuk Dikunjungi

Jakarta, LSISI.ID – Ajang tahunan Nusa Penida Festival (NPF) yang memasuki tahun ke empat (IV) kembali digelar, 6-9 Desember 2017 ini.

Acara ini akan menggerakkan potensi destinasi wisata yang tetap berbasis seni, budaya dan alam.

Jika tahun 2016 silam dilaksanakan di Desa Ped, Pulau Nusa Penida, tahun ini dipusatkan di Pantai Mahagiri, Desa Jungut Batu Nusa Lembongan.

Dengan menyajikan program reguler maupun aktivitas baru yang selalu memiliki perbedaan dari tahun ke tahun perhelatan ini digelar.

Jelas saja, Nusa Penida selain memiliki karakteristik alam yang berbeda dengan berbagai sudut keindahannya, yang juga dianggap sebagai “Blue Paradise” atau surga biru, Nusa Penida juga memiliki berbagai kesenian yang sangat erat kaitannya dengan budaya lokal yang masih alami dan belum terkontaminasi dunia modern.

“Selama empat hari dari tanggal enam sampai sembilan nanti banyak agenda yang kami gelar dan sudah dibeda-bedakan, dimana untuk hari pertama agenda cukup padat dengan diawali dengan pembukaan festival, yang dilaksanakan di Pantai Mahagiri, Desa Jungut Batu,” kata panitia Festival Nusa Penida 2017, I Nyoman Widana, Sabtu (2/12/2017).

Di hari pertama nanti, akan ada upacara larung laut (pakelem) untuk keseimbangan alam agar semua dalam perlindungan-Nya di tengah kondisi Gunung Agung yang saat ini masih mengalami erupsi.

“Saat pelaksanaan pakelem akan ditampilkan Tari Rejang massal oleh 1.500 penari, dari warga lokal Nusa Penida,” ujarnya.

Pakelem ini merupakan adat warga Nusa Penida, sebagai wujud terima kasih kepada alam yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat nusa penida.

Sementara Nusa Lembongan yang memiliki tarian khasnya Sanghyang Jaran juga akan dipentaskan, yang dijadwalkan pentas pada malam harinya. Dilanjutkan dengan pementasa baleganjur serta live musik.

Untuk hari kedua, lebih pada kegiatan ringan dan pertandingan lokal, yang juga dipastikan akan menyedot mata wisatawan untuk menyaksikannya.

Seperti lomba gebug bantal, lomba gala-gala, kemudian lomba merangkai prani, lomba mengikat bulung (rumput laut), lomba busana adat yang khusus untuk wisatawan asing.

Lomba-lomba ini dilaksanakan dengan melibatkan wisatawan.

Tentu ini akan memberikan kenangan tersendiri bagi wisatan yang berkunjung. dan juga berwisata menikmati bawah laut Lembongan dan Wisata Mangrove yang memang tidak asing lagi dimata wisatawan.

“Hari ketiga lebih pada agenda pelestarian alam, dengan kegiatan bersih-bersih pantai, transplantasi karang dan menaman pohon mangrove, hingga lomba perahu mini,” tambah Widana.

Di akhir acara juga dilaksanakan berbagai lomba, dan live musik bersama Tika Pagraki dan Aya Laras.

Dihubungi terpisah terkait NPF dijadwalkan ulang, Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta, menyebutkan event tahunan ini adalah hal yang sangat penting untuk dilaksanakan.

“Di tengah kelesuan pariwisata saat ini, bandara buka tutup, Gunung Agung awas, otomatis pariwisata anjlok, nah di sinilah kita harus berpromosi, bahwasannya Nusa Penida masih aman untuk dikunjungi, Bali masih aman buktinya festival kita gelar,” terangnya.

Ajang NPF bukanlah ajang pesta, akan tetapi adalah bentuk promosi Bali masih “aman” untuk dikunjungi.

“Dulu memang sempat dijadwalkan dan batal karena kondisi tidak memungkinkan dan saat itu gunung agung dalam kondisi awas untuk pertamakalinya dan Pemda juga belum siap karena harus membantu sesama,” terang Suwirta.

Meski demikian karena masih dalam kondisi prihatin bencana, terkait susunan acara diungkapkannya ada sedikit perubahan terutamanya terhadap kehadiran artis nasional.

“Agar tidak terlalu glamor. Meski sebenarnya tidak apa-apa kita mengundang artis nasional. Hanya perasaan saja yang tidak enak melihat kondisi saudara kita saat ini,” ujar orang nomor satu di Klungkung ini.

Menurut Bupati, NPF bukan sekadar ajang promosi pariwisata saja, namun banyak kegiatan aksi nyata yang menggugah kepedulian sebagai implementasi dari Gema Santi.

Salah satunya bersih-bersih pantai dan pelestarian karang laut dan mangrove, sebagai jaringan ekosistem yang sangat bermanfaat di Pulau Nusa Penida.

Setelah memasuki tahun ke empat, NPF kian mengukuhkan soliditas warga dalam membangun keberlanjutan aktivitas kepariwisataan yang telah memberikan kontribusi besar bagi perekonomian setempat.

Tentunya tetap melestarikan seni budaya dan daya dukung lingkungan.

Perhelatan perayaan masyarakat Nusa Penida ini, diyakini memberi daya kreasi untuk menggairahkan kehidupan kreatifitas dan sosial masyarakatnya.

Nusa Penida Festival 2017 tahun ini mengusung tagline yang sudah ditetapkan yakni The Blue Paradise Island “Pulau Surga Biru”. pada Festival ini panitia mengundang Menteri Pariwisata, Arif Yahya.

 

Sumber : Tribun Bali

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close