Kabar RinganPolemik PolitikSendi BangsaSosial BudayaWarta Strategis

Penangkapan Sugi Nur Raharja

Penulis : Abdul Harris*

Penyidik Polda Jatim akhirnya menyerahkan tahap kedua, kasus dugaan ujaran kebencian dengan tersangka Sugi Nur Raharja, pada selasa 19 Februari 2019 ke Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera menjelaskan, Sugi diantar ke Kejaksaan, usai menjalani tes kesehatan di Rumah Sakit Bhayangkara, Polda Jatim. Pelimpahan tahap dua tersebut, berdasarkan surat dari Kejaksaan Tinggi Jawa Timur nomor B1093/054EP1/2/2019 perihal Pemberitahuan penyidikan perkara pidana dengan tersangka Sugi Nur Raharja alias Gus Nur. Setelah ditetapkannya Sugi Nur Raharja sebagai tersangka, Polisi menegaskan tak ingin dianggap melakukan kriminalisasi ulama. Polisi telah melakukan tugasnya dalam menangani kasus pencemaran nama baik ini.

Kombes Pol Frans Barung mengatakan pihaknya hanya mewadahi laporan yang masuk ke Polisi. Penetapan tersangka ini juga berdasarkan fakta – fakta hukum yang telah di cocokkan dengan keterangan empat saksi ahli yakni dari dua ahli pidana, satu ahli ITE dan satu lagi ahli bahasa. “Dimana letak kriminalisasi yang dilakukan Polda? Kecuali itu bukan tidak pidana dijadikan pidana atau tidak ada tindak pidana dijadikan pidana,” Kata Frans Barung. Penetapan Sugi Nur Raharja juga menuai apresiasi dari PCNU, pihaknya menilai bahwa Gus Nur pantas mendapatkan status tersangka. “Polisi memproses secara baik sesuai pengaduan. Ya, jangan sampai polisi terpengaruh oleh kelompok – kelompok yang menamakan Islam, mengatasnamakan dakwah dan macem – macem itu,“ Ujar Muhlibin.

Apa yang diucapka Gus Nur, kata Muhlibin memangg dengan jelas telah memenuhi unsur penyebaran kebencian dan penuh provokasi. Untuk itu, ia menilai Gus Nur sudah pantas mendapatkan apa yang ia dapat. Gus Nur diganjar pasal 27 ayat 3 UU ITE dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara. Kasubdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim, AKBP Harisandi menjelaskan, Gus Nur sudah ditetapkan tersangka 7 hari sebelumnya. Dia sempat mangkir ketika pemanggilan pertama sebagai tersangka karena masih menghadiri pengajian di luar daerah. Harisandi menambahkan adapun barang bukti diamankan penyidik yaitu video yang dianggap menyinggung hingga berbuntut pemuda NU melakukan pelaporan ke Polda Jatim.

Gus Nur dilaporkan lantaran diduga  telah menghina Nahdlatul Ulama dan Banser di dalam video berdurasi satu menit 26 detik yang telah diunggah di media sosial tersebut. Dr H Moh Ma’ruf sebagai perwakilan kader Muda NU mengatakan lebih dari 3 jam pihaknya diperiksa di ruangan Ditreskrimsus Polda Jatim mengenai kasus pencemaran nama baik tersebut. “Saya sebagai pelapor atas nama forum pembela kaum Muda NU melaporkan Gus Nur karena sudah menghina warga NU dan Banser,” ujarnya.

Dalam laporannya tersebut, dia menyerahkan barang bukti berupa satu keping CD yang berisi video yang menghina kaum NU. Karena itulah, pihaknya mendesak pihak Kepolisian khususnya Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan untuk mengusut tuntas kasus yang telah menciderai kaum NU ini. Pihaknya meminta supaya Polda Jatim dapat segera menindaklanjutinya supaya tidak sampai terjadi konflik horizontal yang berpotensi menimbulkan konflik SARA. “Kepolisian harus segera memproses lantaran bukti sudah sempurna tinggal polisi selangkah lagi, hal ini penting agar tercipta kepastian hukum.

Dalam catatan GP Ansor, Gus Nur dikenal melalui media sosial dengan konten bernuansa provokatif. Dari video – video yang diunggah, pria yang sekarang tinggal di Palu Sulawesi itu sering menyampaikan pernyataan yang menyinggung dan menjelek – jelekkan NU, Ansor, Banser, Pemerintah, juga TNI / POLRI, atas dasar tersebut GP Ansor Semarang segera bertindak, memantau kegiatan dimaksud. Dirinya juga pernah menyebarkan propaganda dengan membanding – bandingkan antara Banser, KOKAM dan HTI.  Kala itu seorang panitia naik ke panggung dan membisiki Gus Nur, lalu dalam sekejap ia menurunkan intonasi ceramah dan menjadi lebih santun. Ia juga pernah menuai kontroversi dalam ceramahnya yang viral di media sosial, kala itu ia mengeluarkan ujaran kebencian kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sebuah ceramah.

Dalam video tersebut, Sugi alias Gus Nur mengajak Jamaah untuk berhitung jumlah huruf J-O-K-O-W-I. Dengan metodologi yang tidak disebutkan, jumlah huruf pada nama itu kena hitungan angka 83. Lalu, Sugi Nur, mengaitkan angka itu dengan nama surat Al – Muthofifin (surat ke 83 Al – Qur’an) yang jumlah ayatnya ada 36 itu. Karena makna surat tersebut adalah “curang” maka Sugi Nur kemudian menyimpulkan bahwa pemakai nama Jokowi disebutnya curang. Tak hanya itu, dihadapan para jemaah yang ada, Sugi Nur sempat melontarkan kalimat yang kontroversial. Dimana Ia meminta jemaah yang memilih Jokowi saat pemilu untuk keluar dari Masjid.

Usut punya usut, GN alias Gus Nur adalah orang biasa bukan anak kiai, apalagi seorang Gus, santri saja bukan alias dirinya tidak pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Bahkan waktu di desanyapun ngaji saja dia tidak pernah. Dia juga tidak disukai oleh masyarakat di desanya, lalu dia akhirnya tidak kuat tinggal di desanya, lalu dia akhirnya tidak kuat tinggal di desanya dan pergi entah kemana, selang beberapa tahun, dua muncul di youtube dan bergelar “Gus”. Sempat juga terdengar kabar, selama menghilang dia tinggal di Bali. Menurut informasi, dia mendapat gelar Gus setelah seringnya dia membawa jama’ah ziarah ke makam orang – orang shaleh.

*) Mahasiswa FISIP Universitas Dharma Agung

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close