Warta Strategis

Polemik Pemutaran Film G30S/PKI

Oleh: Ardian Wiwaha )*

 

Ajakan Panglima TNI Gatot Nurmantyo untuk mengingat kembali perihal kisah dan sejarah peristiwa kekejaman G30SPKI melalui film semi dokumenter “Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI” di layar-layar kaca televisi nasional menuai pro dan kontra dikalangan masyarakat. Tak sedikit kalangan baik politisi maupun badan atau ormas yang menolak ajakan yang diungkapkan oleh Panglima seusai melakukan ziarah ke makam Proklamator Bung Karno di Kota Blitar, Jawa Timur, Senin (18/9).

Namun demikian, banyak juga beberapa pihak yang setuju dan menyambut baik ajakan Panglima tersebut. Selain dari pada untuk mengenang sejarah dan mengedukasi tentang bahaya fakta maupun laten terkait PKI, menyebarluaskan ajakan untuk memahami makna sejarah tentang kekejaman PKI kala dulu juga dinilai oleh sebagaian elit untuk membuka tabir sejarah yang dewasa ini mulai dipelitintir dan dibengkokkan ke kiri dan kekanan.

Kritik Terhadap Ajakan

Dengan pertimbangan bahwa beberapa bagian dari adegan film G30SPKI yang memunculkan contoh buruk terkait kekerasan dan kekejaman PKI, tak ayal beberapa kelompok seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengingatkan agar film G30S/PKI itu agar tidak ditonton oleh anak-anak. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menilai, di film tersebut adegan kekerasan tidak cocok untuk anak-anak. “Film ini tidak tepat ditonton anak-anak karena penuh dengan kekerasan, seperti penyiksaan dan pembunuhan, bahkan mayat diseret. Di film itu juga banyak diksi yang tidak pas untuk dikonsumsi anak-anak” ujar Retno, Jumat (15/9).

Sementara itu, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Yati Andriyani menilai ada unsur pemaksaan dari instruksi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk menonton kembali film terkait peristiwa G30S/PKI. Di satu sisi, ketika pemutaran film G30S/PKI itu akan dilakukan, maka sebaiknya film lain terkait sejarah 1965 pun jangan dilarang. Pasalnya, selama ini masih ada penolakan dari kelompok tertentu pada film sejarah 1965 versi lain seperti ‘Senyap’ dan ‘Jagal’. Bahkan untuk memperkuat argumennya, Yati menyinggung perihal unsur kekerasan serta alat propaganda pemerintah rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto.

Bahkan terdapat salah satu kritik yang paling fenomenal yakni dari Effendi Simbolon kader partai PDIP, yangmana secara tidak langsung berseberangan dengan ajakan sang panglima TNI untuk memamhami melalui cara menonton kronologi sejarah kekejaman PKI yang telah menghabisi sekitar tujuh perwira dan satu bintara muda terbaik bangsa Indonesia.

Dukungan Pemutaran Film G30SPKI

Seperti yang diutarakan oleh Ketua Komisi Dakwah MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis yang beranggapan pemutaran kembali film G30S/PKI dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, banyak pembelajaran yang bisa didapatkan dari film tersebut, meskipun menceritakan kisah kelam sejarah Indonesia. “Ya bagi kita kan itu (G30S/PKI) bagian dari sejarah dan sejarah itu tidak boleh dilupakan. Dituangkan dalam film sebagai sarana pembelajaran kita sehingga dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara bisa lebih baik,” ujar Cholil,

Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menilai wajar apabila di media sosial saat ini sedang ramai ajakan menonton film G30S/PKI. Pasalnya, hari bersejarah itu tak lama lagi akan diperingati.  “Saya kira memang mendekati tanggal 30 September ya. Kalau dengan film itu kemudian mengingatkan rakyat kembali tentang tragedi kemanusiaan ini, ya itu satu hal yang wajar saja publik diberi informasi yang sebenarnya terjadi,” ujarnya di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (15/9).

Selain itu, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Wuryanto menyebut bahwa pemutaran film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI bertujuan untuk memperjelas fakta sejarah. Ia membantah bahwa rencana pemutaran film tersebut di markas-markas TNI bisa memanaskan situasi di masyarakat. Bahkan tak tanggung-tanggung, dirinya berani menyatakan bahwa  beberapa pihak yang panas atau tersinggung dengan adanya agenda pemutaran film tersebut, justru malah dianggap sebagai simpatisan bahkan terlibat langsung dengan persebaran PKI dewasa ini.

 

Oleh karena itu, guna mengingat kembali kejamnya keberadaan PKI tahun 1965, yang telah membantai beberapa jenderal dan prajurit terbaik bangsa, tak ada salahnya bagi kita semua untuk ikut berpartisipasi hingga mengenal lebih dekat sejarah kelam PKI yang hingga detik ini haram keberadaaannya di bumi Indonesia. Ayo kenali sejarah dan tolak PKI.

 

)* Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan FISIP Universitas Indonesia

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close