Warta Strategis

Prabowo, Sosok Pemimpin yang Emosional

Oleh :  Ade Chyntia )*

“Yang saya suka itu, tegas tapi tidak suka marah-marah.” Begitu kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat berpidato di hadapan caleg Partai Hanura. Jokowi menyebut bahwa seorang pemimpin tidak akan bisa menyampaikan pesannya kepada masyarakat jika dilakukan dengan marah-marah. Oleh karena itu, ia lebih menyukai pemimpin yang tegas ketimbang yang suka marah-marah. Ia menggarisbawahi bahwa tegas bukan berarti otoriter. Marah boleh jadi adalah salah satu ekspresi emosi yang manusiawi bagi banyak orang. Akan tetapi, bagaimana jika luapan emosi semacam itu dilakukan oleh politisi? Apakah mengekspresikan temperamen di muka publik bisa berbuah keuntungan atau kerugian? Sebagaiman tokoh yang kehilangan kontrol terhadap temperamennya dapat menimbulkan protes oleh masyarakat yang tersinggung. Alih-alih bisa mengatur emosi masyarakat dengan melepas emosi sendiri, politisi justru berpotensi menjadi sasaran amarah dari masyarakat yang tersinggung. Mark Perry dalam artikelnya di Politico menyebut bahwa jika seorang politisi harus marah, maka ia harus menemukan saat yang tepat. Ia mencontohkan bagaimana sosok-sosok seperti Franklin Roosevelt, Abraham Lincoln, dan George Washington mengatur amarahnya.

Lalu siapa sebenarnya pemimpin marah-marah yang dimaksud Jokowi? Tidak bisa menuduh memang, akan tetapi, jika konteksnya adalah politik elektoral, saat ini ia tengah berhadapan dengan Prabowo Subianto. Secara kebetulan, mantan Pangkostrad ini tergolong sering meluapkan emosinya di depan publik. Jokowi sendiri mengklaim tidak sedang menyindir elite politik Indonesia mana pun. Akan tetapi, spekulasi tentang siapa sosok pemimpin yang suka marah-marah itu bergulir di berbagai media tersebut menggambarkan sosok Prabowo Subianto tidak memenuhi sosok pemimpin yang tegas dan terbilang pemarah. Berbagai tindakan dianggap sebagai sosok yang tidak bisa dianggap tegas tanpa marah-marah. Hal tersebut dilihat dari sejumlah situasi di mana Prabowo lepas kontrol atas emosinya.

Seperti diketahui, Prabowo Subianto terlihat sempat merasa geram saat hadir di tengah warga Ponorogo. Hal itu dipicu melihat emak-emak berebut buku yang dibagikan tim Prabowo saat dirinya berpidato. Tim Prabowo diketahui membagikan buku berjudul ‘Paradoks Indonesia’. Saat acara tersebut Prabowo menaikan volume suaranya dan berkata “Saudara mau diam atau saya yang bicara, saudara naik ke sini (panggung). Kalau mau sopan saya bicara dulu, ini ingin lanjut atau tidak. Jangan ribut sendiri,” . Sesaat kemudian suasana kondusif, Prabowo pun melanjutkan pidatonya di hadapan ratusan simpatisan

Sosiolog Universitas Indonesia Thamrin Amal Tomagola menilai, karakter dan sifat emosional di dalam diri Prabowo Subianto sangat berbahaya jika diserahkan untuk memimpin masyarakat Indonesia.  Apalagi, Prabowo memiliki sikap tegas yang tidak beradab dan berbudaya bahkan cenderung beringas. Menurut Thamrin, penilaiannya tentang Prabowo memiliki dasar yang kuat karena diambil berdasarkan rekam jejak dan perjalanan sejarah hidupnya. Sejak muda, lanjut Thamrin, Prabowo telah menunjukkan tanda-tanda memiliki ketidakstabilan emosi, ketidakmatangan berpikir dan ketenangan dalam bertindak. Padahal, seorang presiden harus memiliki kestabilan emosi, kematangan berpikir dan ketenangan sebelum bertindak. Thamrin mencontohkan, Prabowo pernah meninggalkan tugas saat mengikuti pendidikan militer di Magelang, Jawa Tengah. Prabowo kemudian pulang ke Jakarta. Tidak lama kemudian, ia diantar kembali ke sekolah militeroleh bapaknya.

Di militer ini dikenal istilah desersi (lari dari dinas ketentaraa).Dari kejadian itu menunjukkan bahwa Prabowo tidak memiliki kematangan berpikir dan kestabilan emosi. “Terlalu kekanak-kanakkan,” ujar Thamrin. Tidak hanya itu, lanjut Thamrin, Prabowo juga memiliki catatan buruk saat berdinas di ketentaraan seperti beberapa kali berupaya melakukan perebutan kekuasaan bersenjata. Selain itu, Thamrin menilai, sikap tegas yang kerap dicitrakan oleh Prabowo selama ini juga mengarah pada kekerasan. Menurutnya, ketegasan yang dimiliki Prabowo disampaikan dengan cara yang sangat beringas.

Tentu, sekali lagi marah adalah sesuatu yang manusiawi. Akan tetapi, jika sosok sekelas politisi yang melakukannya, bisa jadi ada efek yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, jika perlu, para politisi seperti Prabowo, perlu mengatur temperamennya agar tepat sasaran. Hal ini sesuai dengan pernyataan Seneca sebagaimana dikutip oleh Perry, bahwa jika amarah dibiarkan keluar, umumnya akan terjadi kehancuran. Amarah jika ditujukan pada musuh politik, bisa saja memberikan keuntungan seperti yang dialami presiden AS tersebut. Sementara itu, jika dialamatkan pada sosok yang acak dengan emosi tak terkontrol, efeknya bisa saja kontraproduktif.

Oleh karena itu, rakyat harus menilai pemimpin berdasarkan kriteria-kriteria yang terukur sebelum memilih pada April mendatang. Selain kriteria memiliki pengalaman di pemerintahan, kriteria lainnya seperti karakter dan sifat harus juga menjadi pertimbangan. Jangan sampai Indonesia memiliki pemimpin yang otoriter dan semena-mena terhadap rakyatnya sendiri.

 

)* Pemerhati politik

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button