Rehabilitasi Sekolah Pascabencana Jadi Fondasi Pemulihan Sosial

Oleh: Nadira Citra Maheswari)*
Bencana alam selalu meninggalkan dampak berlapis bagi masyarakat. Kerusakan fisik seperti rumah, jalan, dan fasilitas umum kerap menjadi fokus utama pada fase awal tanggap darurat. Namun, di balik kerusakan yang kasatmata, terdapat dampak sosial yang jauh lebih kompleks dan berjangka panjang. Salah satu sektor yang sangat menentukan arah pemulihan sosial adalah pendidikan. Dalam konteks ini, sekolah pascabencana menjadi fondasi penting untuk menata kembali kehidupan masyarakat terdampak.
Ketika bencana terjadi, anak-anak berada pada posisi paling rentan. Mereka kehilangan bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga rutinitas, ruang aman, dan stabilitas emosional. Terhentinya kegiatan belajar mengajar dalam waktu lama berpotensi menimbulkan efek domino, mulai dari ketertinggalan akademik hingga gangguan psikososial. Oleh karena itu, pemulihan sekolah menjadi bagian krusial dari upaya membangun kembali tatanan sosial pascabencana.
Pemerintah menempatkan pemulihan pendidikan sebagai salah satu prioritas dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Upaya ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik bangunan sekolah, tetapi juga pada percepatan pemulihan fungsi pendidikan agar aktivitas belajar dapat segera berlangsung.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti mengatakan telah menandatangani 49 Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai upaya mempercepat pelaksanaan revitalisasi satuan pendidikan yang terdampak bencana alam di wilayah Provinsi Aceh. Mu’ti menerangkan PKS diprioritaskan bagi sekolah rusak sedang, pengadaan mebeler, alat permainan edukatif (APE), dan bukan untuk sekolah yang rusak total maupun relokasi.
Langkah tersebut mencerminkan pendekatan pemulihan yang terukur dan berorientasi pada keberlanjutan. Sekolah-sekolah yang masih memungkinkan untuk diperbaiki diprioritaskan agar proses pembelajaran dapat segera berjalan kembali. Keberlanjutan pendidikan dipandang sebagai kebutuhan mendesak, bukan sekadar pelengkap dalam penanganan pascabencana.
Di lapangan, sekolah pascabencana sering kali diawali dengan kehadiran sekolah darurat. Meski bersifat sementara, keberadaan sekolah darurat memiliki arti strategis bagi pemulihan sosial. Koordinator Posko Bencana Alam Universitas Malikussaleh (PBA Unimal), Ahmad Hambali mengatakan bahwa sekolah darurat tidak sekadar menggantikan ruang kelas yang hilang, tetapi menjadi fondasi pemulihan anak pasca bencana. Pernyataan ini menegaskan bahwa sekolah berfungsi sebagai ruang aman yang membantu anak-anak menata kembali kehidupan mereka setelah mengalami guncangan besar.
Sekolah darurat menyediakan struktur harian yang sangat dibutuhkan anak-anak pascabencana. Rutinitas belajar, interaksi dengan guru, serta kebersamaan dengan teman sebaya membantu mengurangi kecemasan dan trauma. Dalam suasana yang lebih terkontrol, anak-anak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan perasaan, membangun kembali rasa percaya diri, dan perlahan memulihkan kondisi psikologis mereka.
Pemulihan sekolah juga berdampak langsung pada stabilitas sosial masyarakat secara luas. Ketika anak-anak kembali bersekolah, orang tua memiliki ruang untuk fokus pada pemulihan ekonomi keluarga dan perbaikan tempat tinggal. Sekolah menjadi penopang penting yang membantu masyarakat keluar dari fase ketidakpastian menuju kondisi yang lebih stabil dan produktif.
Seiring berjalannya waktu, pemulihan pendidikan tidak hanya berhenti pada fase darurat. Pembangunan kembali sekolah permanen menjadi simbol kebangkitan komunitas terdampak. Sekolah yang dibangun ulang dengan standar yang lebih aman dan tahan bencana mencerminkan pembelajaran dari pengalaman masa lalu. Pendekatan ini tidak hanya memulihkan fungsi pendidikan, tetapi juga meningkatkan ketahanan sosial terhadap risiko bencana di masa depan.
Di sejumlah wilayah terdampak, proses pemulihan pendidikan menunjukkan perkembangan positif. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Gayo Lues, Basri mengatakan secara umum aktivitas pendidikan pada jenjang SMA, SMK, dan SLB sudah kembali berlangsung normal. Hal itu menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah kondisi darurat. Kembalinya aktivitas belajar mengajar menjadi indikator penting bahwa masyarakat mulai memasuki fase pemulihan yang lebih stabil.
Selain aspek fisik, pemulihan sekolah pascabencana juga menyentuh dimensi kurikulum dan pendekatan pembelajaran. Pendidikan kebencanaan mulai diintegrasikan sebagai bagian dari proses belajar. Anak-anak diajak memahami risiko bencana, cara mitigasi, serta pentingnya menjaga lingkungan. Pendidikan semacam ini berperan dalam membentuk kesadaran kolektif dan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat sejak usia dini.
Sekolah pascabencana juga kerap berkembang menjadi pusat aktivitas komunitas. Selain sebagai tempat belajar, sekolah digunakan untuk pertemuan warga, distribusi bantuan, hingga diskusi terkait pemulihan lingkungan sekitar. Fungsi ganda ini memperkuat posisi sekolah sebagai simpul sosial yang menyatukan berbagai elemen masyarakat. Keberadaan sekolah membantu memulihkan rasa kebersamaan yang sempat tergerus akibat bencana
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menjawab tantangan tersebut. Sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat lokal memungkinkan pemulihan sekolah berjalan lebih cepat dan tepat sasaran. Partisipasi masyarakat dalam proses pemulihan juga menumbuhkan rasa memiliki, sehingga sekolah dapat dirawat dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Pengalaman berbagai daerah menunjukkan bahwa investasi pada pendidikan pascabencana memberikan dampak jangka panjang yang signifikan. Anak-anak yang kembali bersekolah lebih cepat cenderung memiliki daya adaptasi yang lebih baik dan optimisme terhadap masa depan. Pada akhirnya, sekolah pascabencana bukan sekadar bangunan yang diperbaiki atau ruang kelas yang diganti. Ia adalah simbol kebangkitan, ruang pemulihan, dan fondasi bagi rekonstruksi sosial. Ketika sekolah kembali berfungsi, masyarakat tidak hanya mendapatkan akses pendidikan, tetapi juga harapan, stabilitas, dan arah baru untuk membangun masa depan yang lebih tangguh.
*) Penulis adalah Content Writer di Galaswara Digital Bureau