Polemik Politik

Reuni 212 Tak Kunjung Mendapat Izin, PA 212 Ngotot Menggelar Acara

Oleh : Raditya Rahman )*

Pemberitaan akan diadakannya kembali reuni 212 cukup menggegerkan warga masyarakat yang kontra terhadap aksi ini. pihak kontra sangat menyayangkan jika aksi ini benar – benar akan digelar kembali. Pasalnya, banyak masyarakat yang merasa dirugikan dengan adanya gerakan ini.

Dari berbagai segi, dapat ditinjau bagaimana aksi ini cukup membuat resah masyarakat. Contohnya, kerusuhan – kerusuhan yang terjadi pada saat demo seperti pembakaran kendaraan yang menyebabkan asap polusi. Selain itu, kemacetan panjang juga turut membuat jengkel warga yang hendak melintas area demo.

Isu mengenai reuni yang akan digelar desember mendatang saat ini juga sedang mejadi polemik negeri. Kubu pro dan kontra ini terus menunjukan pendapatnya masing – masing.  Polemik ini kian memanas hingga mendapat banyak sorotan dari berbagai pihak.

Sekalipun banyak yang melarang aksi ini digelar kembali sebagai acara reuni, namun anggota PA 212 ini terus menunjukan sikapnya yang ambisius. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya anggota di berbagai daerah yang terus melakukan persiapan untuk aksi reuni ini desember mendatang.

Persiapan mereka dimulai dari melakukan perkumpulan – perkumpulan kecil di daerahnya, membuat kaos yang bertuliskan kalimah taudhid dan simbol 212 yang khas. Bagi yang awam, 212 ini mungkin dikira  bagian tokoh wiro sableng . Namun, 212 ini ternyata merupakan gerakan aksi demo yang sempat ramai dibincangkan oleh berbagai media. Lekat dengan polemik penistaan agama yang dilakukan oleh gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama pada saat itu.

Seperti aneh di telinga memang. Aksi yang belum mendapatkan izin ini terus dipersiapkan sedangkan belum tahu akan diberi izin atau tidak. Jika diberi izin pun belum tentu aksi ini akan berjalan lancar sebab, banyak sekali pihak kontra yang siap menolak acara ini.

Hal ini kemudian memicu juru bicara PA 212, Novel Bamukmin  bersuara dan menyatakan pendapatnya yang berbunyi sekalipun tidak mendapatkan ijin aksi ini akan tetap digelar, malah bisa jadi mengobar semangat anggota di luar daerah untuk turut berdemo.

Di samping itu, kalimat kontra dari berbagai non pro pihak tak kalah antusiasnya. Mereka juga akan dengan sigap menolak aksi ini. sebab, menurut pihak kontra ini aksi ini sudah tidak perlu digelar sekalipun alasannya untuk reuni silaturahmi anggotanya. Kemudian, mereka juga menilai alasan reuni ini hanya untuk mengkamuflase kepentingan politik.

Kepentingan politik yang seperti apa? Yaitu kepentingan politik dalam kampanye pilpres mendatang yang dibalut alasan aksi bela islam. Begitu mengetahui adanya unsur politik di dalam aksi ini, pihak kontra jumlahnya semakin bertambah. Mereka kekeh untuk tidak memberikan aksses pada aksi ini sebelum polisi memberikan ijin.

Mereka berpendapat, aksi ini sudah melenceng dari fungsi utamanya yaitu membela islam. Dianggap melenceng karena aksi ini sudah ditumpangi politik. Seharusnya, aksi ini murni untuk membela agama, itupun sudah dianggap selesai dengan dipenjarakannya Ahok sebagai orang yang di demo untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya yang dianggap sudah menistakan agama.

Dengan ditangkapnya Ahok ini, menjadi titik terang bahwa aksi ini sudah sukses dilaksanakan dan seharusnya sudah berhenti. Namun ini malah terus digelar secara berkala. Jadi, untuk apalagi aksi ini terus ada? Bukankah masalah utamanya telah selesai?

Kini, polemik sudah terlanjur terjadi, pihak pro dan kontra hanya bisa menunggu keputusan polisi saja. Jika polisi mengizinkan maka aksi reuni ini akan tetap digelar. Namun jika tidak mendapat izin, aksi ini tidak akan kembali digelar.

Menanggapi kalimat Novel Bamukmin tentang diizinkan atau tidak aksi akan tetap digelar, maka pihak polisi diminta untuk mempertimbangkan keputusannya. Sebab kalimat tersebut seperti mengandung makna tidak ada kaitannya izin polisi dengan aksi 212 Desember mendatang ini. Toh diizinkan atau tidak, rombongan aksi ini akan tetap menggelar rencana mereka. Kesan yang ditimbulkan dari kalimat itu juga seperti tidak mengindahkan adanya polisi yang seharusnya terlibat sebagai jalur izin dalam acara yang reuni 212 yang akan datang.

Masih tentang kalimat novel yang bersih keras akan tetap melaksanakan reuni 212 ini, menjadi simpatik penilaian rakyat terhadap gerakan ini. Masyarakat lambat laun menilai bahwa orang – orang di dalamnya cenderung keras kepala dan tidak patuh terhadap aturan yang ada.

Jika acara tersebut memang menimbulkan keramaian di tempat umum, maka izin keramaian pun harus mereka kantongi. Bukan malah ngotot mempertahankan pendapat dan kemauannya agar tetap menggelar aksi reuni 212 ini sekalipun tak diberi izin. Siapa yang seharusnya memberi izin? Polisi jawabannya. Jadi, berjalan atau tidaknya aksi ini tergantung dari izin polisi sekalipun Anies Baswedaan selaku gubernur DKI saat ini diduga telah memberi izin tempat.

 

)* Penulis adalah pemerhati sosial politik                     

 

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close