Kabar RinganPolemik PolitikSendi BangsaSosial BudayaWarta Strategis

Revitalisasi Pasar, Genjot Elektabilitas Jokowi.

Oleh : Budi Sudarsono*

Pasar merupakan denyut perekonomian mikro yang ada di setiap daerah. Usaha pemerintah untuk merevitalisasi ribuan pasar rakyat dinilai telah mendongkrak elektabilitas Joko Widodo dalam kontestasi Pilpres 2019. Pembangunan pasar tersebut mendapatkan apresiasi dari para pedagang dan pengelola pasar.

            Budi Hariyanto selaku kepala Pasar Probolinggo Lampung Timur menyatakan bahwa, para pedagang memberikan apresiasi kepada pemerintah atas peremajaan pasar mereka. Pihaknya mengutarakan bahwa berkat peremajaan tersebu, ada peningkatan omzet pengunjung sekitar 20 persen sampai 30 persen dari sebelum dilakukan revitalisasi.

            “Kami merasakan bahwa ada peningkatan yang lumayan setelah perbaikan pasar. Karena sekarang jadi lebih bersih, lebih nyaman dan pengunjung meningkat,” ujarnya.

            Menurut Budi, pasar sayur di Probolinggo sudah sangat nyaman jika dibandingkan sebelum revitalisasi. Namun demikian, tutur Budi, masih ada beberapa pembenahan seperti tempat parkir, listrik dan lainnya.

            Sementara Kepala UPT Pasar Umum Karanggede, Boyolali, Jawa Tengah, Mohammad Adam Nur Fathoni mengatakan, dari 12 pasar di wilayahnya, saat ini masih berlangsung revitalisasi.

            “Kalau kita lihat di Boyolali itu sudah 66 persen pasar diperbaiki oleh pemerintah, hanya tersisa pasar – pasar kecil, kegiatan ini baru ada di masa pemerintahan sekarang,” tuturnya.

            Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi – Ma’ruf, Ace Hasan Syadzily mengatakan, program revitalisasi pasar rakyat merupakan langkah riil pemerintah dalam membangun perekonomian rakyat. Menurutnya, Jokowi menjadikdan pasar – pasar tradisional tersebut lebih baik dan nyaman bagi masyarakat.

            “Itu bukan hanya konsistensi, tapi juga bentuk komitmen Pak Jokowi terhadap pengembangan kantong ekonomi melalui pasar,” Ujar Ace.

            Menurutnya, revitalisasi pasar rakyat itu ujungnya adalah untuk meningkatkan produktifitas perekonomian masyarakat. Bahkan, revitalisasi pasar bisa meningkatkan hubungan sosial masyarakat melalui transaksi secara langsung. Dimana, menjadikan pasar – pasar tradisional tersebut lebih baik dan nyaman bagi masyarakat.

            “Karena aktifitas ekonomi paling riil itu sebenarnya ada di pasar, di sana pedagang, pembeli, bahkan petani bisa saling interaksi secara langsung,” tutur Politikus Golkar Tersebut.

            Emrus Sihombing selaku pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan mengatakan, secara teoritis, kinerja yang ditunjukkan oleh Jokowi akan berpengaruh pada perilaku pemilih (voting behaviour). Sebab, pasar bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Pak Jokowi dan timnya harus berupaya untuk merebut hati masyarakat. Sebab, elektabilitas belum melewati angka 60 persen,” tambahnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pihaknya menuturkan bahwa revitalisasi pasar merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan elektabilitas Jokowi di Pilpres 2019.

“Memang harus diukur dengan riset. Tapi saya pikir itu akan berpengaruh ke elektabilitas elektoral Jokowi,” tutur Pangi

Program revitalisasi pasar memiliki tujuan agar pasar tradisional atau pasar rakyat bisa dikelola dengan manajemen yang baik dan bagus. Kebersihan pasar, termasuk kebersihan para pedagangnya harus tetap dijaga. Jangan sampai becek, kotor dan bau.

Capres nomor urut 01 tersebut juga mengaku banyak berkeliling di hampir seluruh pasar tradisional di Indonesia, menurutnya arsitektur Pasar Badunglah yang paling artistik.

Wali kota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra menjelaskan, bahwa program revitalisasi pasar ini dirasa sangat efektif dan mampu memberikan kemanfaatan ekonomi yang maksimal bagi masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat pada keberhasilan revitalisasi pasar rakyat yang dilaksanakan di beberapa pasar, seperti Pasar Agung yang semula hanya beromzet Rp 2,5 miliar per bulan, setelah direvitalisasi mampu meraup omzet Rp 16 miliar.

Selain itu, Pasar Nyanggelan yang semula beromzet Rp 2 miliar, setelah direvitalisasi mampu meraup Rp 7 miliar per bulan.

Pihaknya menekankan, revitalisasi pasar juga memberikan transformasi perubahan perilaku untuk meningkatkan harkat dan martabat pedagang pasar. Disamping itu juga memberikan cerminan peradaban kota, dengan mewujudkan pasar rakyat yang bersih, segar dan terpercaya.

“Dengan revitalisasi pasar ini, pola perilaku masyarakat terus bertransformasi dengan peningkatan kualitas SDM sebagai bukti kemajuan peradaban kota,” tutur Rai Matra.

Penghargaan sebagai pengelola pasar Terbaik berhasil diraih oleh pasar Nyanggelan dan Pasar Poh Gading, serta penghargaan The Best Acctraction Trend Market se- Asia Tenggara berhasil diraih oleh Pasar Sindu, Sanur Kecamatan Denpasar Selatan.

*) Alumni Mahasiswa Udayana

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close