Warta Strategis

Siaga di Tengah Duka: Apresiasi Bagi Tim Penyelamat Kecelakaan Lion Air JT 610

 

Jakarta, LSISI.ID – Dunia penerbangan Indonesia kembali berduka. Hal ini menyusul jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Senin pagi, (29/10/2018). pesawat dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang itu sempat hilang kontak sekitar 13 menit pasca lepas landas pada pukul 06.20. Pesawat Boeing 737 Max 8 yang digunakan maskapai Lion Air itu jatuh tak lama setelah Badan SAR Nasional mendapatkan laporan dari air traffic controller pesawat hilang kontak.

Mendapatkan laporan ini, Basarnas pun segera mengirimkan tim untuk melakukan pencarian dan penyelamatan terhadap korban. Dilansir Kompas.com, (1/10/2018) di hari yang sama dengan kecelakaan terjadi, pengiriman tim ke lokasi hilang kontak oleh Basarnas langsung dilakukan, mulai pada 06.50. Menyusul kemudian pada 07.20 KN 224 mulai bertoal menuju koordinat Lokasi Kejadian Perkara (LKP). Rubber Boar (RB) 03 juga bertolak menuju LKP. Sekitar 2 jam berikutnya, atau sekitar pukul 09.35 tim RB 1 (penyelam) dan POB (person on board) 2 bertolak ke lokasi. Beberapa menit kemudian, tepatnya pada 09.53 RB 02 POB 13 menyusul bertolak ke lokasi.

KN Damari KP LKP dengan POB juga menuju lokasi pada 10.40. Pencarian hari pertama pun dimulai dengan hasil nihil pada penyelaman di sekitar LKP (pada pukul 12.07). Titik terang pun ditemukan menyusul ditemukannya potongan tubuh di sekitar LKP oleh Tim Lapangan (Capt. KN 224). Sebanyak 3 kantong temuan pun berhasil dibawa ke posko utama Pelabuhan JICT 2.

Tim Basarnas terus bergerak hingga temuan terus bertambah. Pada pukul 14.45 sebanyak 6 kantong jenazah berhasil dibawa ke Rumah Sakit POLRI. Hingga pukul 17.00 pada hari kecelakaan terjadi, serpihan ekor pesawat telah ditemukan, tetapi badan pesawat masih belum juga ditemukan.

Selang sehari pesawat nahas itu jatuh, sebanyak 26 kantong jenazah telah dibawa ke DVI Mabes POLRI. Pencarian pun terus diperluas dari 5 mil menjadi 10 mil pada hari ke-3 pencarian. Perluasan area pencarian ini bukan saja untuk menemukan korban dan badan pesawat, tetapi juga kotak hitam. Temuan kotak hitam akan menjadi kunci untuk mengungkap sebab jatuhnya pesawat. Upaya itu pun akhirnya membuahkan hasil. Kamis, (1/10/2018) sekitar pukul 10.00, kotak hitam tersebut akhirnya ditemukan.

Kotak ini ditemukan Sertu Marinir Hendra Saputra, anggota tim penyelam TNI AL pada kedalaman 30 meter. Kotak hitam tersebut kemudian dibawa oleh Kapal Riste Baruna Jaya 1 milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Sementara itu, hingga 31 Oktober 2018 atau hari ketiga pencarian, tim Basarnas berhasil menemukan 49 kantung jenazah berisi potongan tubuh dan 25 kantung jenazah berisi kepingan pesawat.

Melihat kronologi di atas, ada sebuah benang merah yang patut ditarik. Di tengah kabar duka yang menyelimuti dan upaya pencarian terhadap korban yang masih terus berlangsung ini, apresiasi terhadap tim Basarnas patut diberikan. Tentu, karena kesigapan mereka dalam melakukan pencarian dan upaya penyelamatan terhadap korban serta kotak hitam. Kerja selama 24 non stop dengan medan yang tak mudah (dalam perairan) adalah hal yang sulit dilakukan.

Semangat kepada para tim Basarnas patut diberikan. Sementara lantunan doa juga dukungan moril kepada para kerabat korban juga sepantasnya kita berikan agar mereka tetap tabah. Insiden jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 memang bukan insiden pertama jatuhnya pesawat, tetapi diharapkan kejadian serupa tak akan kembali terjadi. Semoga! (y)

 

 

 

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close