Cuitan Media SosialKabar RinganWarta Strategis

SIKAPI HOAX DENGAN BIJAK

SIKAPI HOAX DENGAN BIJAK
warning Internet Hoax

Resah…… begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi media sosial saat ini. Bagaimana tidak, saban hari berita hoax seliweran di timeline akun media sosial saya. Judulnya yang kontroversial membuat saya tertarik untuk membaca isinya. Namun, fakta yang terkandung didalamnya adalah fakta yang dibuat-buat.

Belum lama ini, hoax menjadi tren perbincangan masyarakat, dari kalangan awam hingga pemerintah. Hoax juga kerap digunakan sebagai alat politik untuk sekedar meningkatkan elektabilitas juga ajang balck campign dengan tujuan menjatuhkan lawan. Fenomena ini mulai terlihat sejak Pilpres 2014 dan didukung pesatnya perkembangan media informasi dan teknologi.

Tidak main-main, Hoax yang beredar tersebut saling menjatuhkan satu sama lain, pandangan masyarakat pun dibuat kabur dalam menilai mana yang benar dan mana yang salah. Saling serang di media sosial terus terjadi hingga menjadi perdebatan yang tidak ada akhirnya. Lantas, apakah kedepannya kita akan seperti ini terus?

Kekuatan berita hoax sebenarnya tergantung dari pembacanya itu sendiri. Terkadang seseorang membagikan berita hoax karena melihat judulnya saja yang kontroversial tanpa membaca isinya terlebih dahulu. Akhirnya, berita tersebut berhasil menjadi trending topic karena dibahas di berbagai daerah meskipun kebenarannya masih diragukan. Oleh karena itu, setiap orang harus memiliki filtrasi terhadap informasi dan berita-berita yang beredar di media sosial.

Pemerintah sepertinya telah memikirkan permasalahan ini dari jauh-jauh hari. Langkah konkrit untuk menghadapi penyebaran hoax diambil secara tegas dengan melakukan revisi UU ITE. Terkuaknya kasus Saracen menjadi bukti bahwa pemerintah secara serius ingin memberantas penyebaran hoax di Indonesia. Pemerintah melalui Kemkominfo juga mencanangkan gerakan anti-hoax untuk mengajak pastisipasi dari masyarakat sebagai pengguna media sosial. Namun, itu saja rasanya tidak cukup, kesadaran diri masing-masing adalah kunci untuk dapat meminimalisir penyebaran hoax.

Sebenarnya anti hoax dapat dimulai dari gerakan tiap individu dalam mengakses berita di media. Hal yang harus diperhatikan agar kita tidak termakan oleh berita hoax adalah dengan berhati-hati saat mendapatkan berita yang berjudul provokatif. Cobalah untuk mencari sumber referensi dari media lainnya sebagai pembanding. Yang kedua adalah dengan mencermati alamat situs. Akan lebih baik jika berita yang kita akses adalah dari website atau sumber yang resmi ataupun tidak diragukan lagi validitasnya. Ketiga adalah memeriksa fakta yang terkandung dalam berita. Budayakan cek, ricek, dan kroscek dalam mencerna informasi agar terhindar dari penyesatan informasi. Keempat yaitu cek keaslian foto. Tidak jarang hoax disebarkan dengan memuat foto-foto yang direkayasa sehingga menambah keyakinan pembaca dalam mempercayai berita tersebut. Yang kelima adalah ikut serta dalam grup diskusi anti-hoax. Grup ini bermanfaat untuk saling berbagi mengenai berita hoax yang tersebar, serta saling berbagi pengetahuan tentang media yang menyebarkan berita hoax. Yang terakhir adalah kita dapat  melaporkan berita hoax melalui sarana yang tersedia di masing-masing media atau dapat mengadukan konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan melayangkan e-mail ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id.

Mari kita bijaklah dalam mencerna berita maupun informasi yang berkembang di media saat ini. Jangan mau untuk dibodohi oleh pemberitaan hoax yang tidak berkualitas. Orang yang bijak tentunya tidak akan memikirkan dirinya sendiri, maka dalam membagikan berita juga tentunya memperhatikan keasliannya agar tidak menyesatkan orang lain. Berita hoax harus diperangi agar masyarakat tidak mudah untuk diprovokasi dan akhirnya menyebabkan retaknya persatuan dan kesatuan bangsa.

Nurrahman

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close