Taklimat Presiden Prabowo Meneguhkan Indonesia sebagai Bangsa Besar yang Tangguh dalam Keberagaman

Oleh: Dewi Anggina Lestari*
Taklimat Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul menjadi penegasan penting mengenai jati diri Indonesia sebagai bangsa besar yang lahir, tumbuh, dan bertahan di atas kemajemukan. Di hadapan hampir seluruh unsur pemerintahan pusat dan daerah, Presiden tidak sekadar menyampaikan arahan teknokratis, tetapi menghadirkan refleksi strategis tentang posisi Indonesia di mata dunia serta tanggung jawab moral para pemimpin dalam menjaga persatuan nasional. Pandangan bahwa Indonesia kerap disebut sebagai bangsa yang mustahil oleh pihak luar justru dijadikan Presiden sebagai cermin untuk memperkuat rasa percaya diri nasional dan mempertegas bahwa persatuan Indonesia bukan kebetulan sejarah, melainkan hasil kesadaran kolektif yang terus dirawat.
Penilaian dunia internasional terhadap Indonesia sebagai negara yang sulit dibayangkan keberlangsungannya sesungguhnya berangkat dari logika konvensional tentang negara-bangsa. Dengan ratusan kelompok etnis, ragam ras, agama besar, serta bahasa daerah yang sangat banyak, Indonesia sering dipersepsikan rawan terfragmentasi. Namun, Presiden menekankan bahwa realitas tersebut tidak melemahkan Indonesia. Sebaliknya, keberagaman itulah yang menjadi fondasi kekuatan nasional ketika dikelola dengan kepemimpinan yang adil dan visi kebangsaan yang jelas. Dalam konteks ini, taklimat Presiden dapat dibaca sebagai peneguhan bahwa kebinekaan bukan sekadar slogan, melainkan modal strategis pembangunan nasional.
Pesan Presiden menjadi relevan di tengah tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari rivalitas geopolitik, krisis ekonomi, hingga disrupsi sosial akibat perubahan teknologi dan iklim. Di tengah tekanan tersebut, Indonesia tetap berdiri sebagai negara kesatuan yang relatif stabil. Presiden memandang stabilitas ini tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang otomatis, melainkan hasil kerja keras dan tanggung jawab berkelanjutan dari seluruh penyelenggara negara, khususnya para kepala daerah yang berada di garis terdepan pelayanan publik. Oleh karena itu, Rakornas 2026 ditempatkan sebagai momentum menyatukan visi dan persepsi agar seluruh jajaran pemerintahan bergerak dalam irama yang sama.
Dalam arahannya, Presiden menaruh perhatian besar pada karakter kepemimpinan. Ia mengingatkan bahwa rakyat Indonesia pada dasarnya menginginkan kehidupan yang tenang, harmonis, dan adil. Harapan tersebut hanya dapat dipenuhi apabila pemimpin menjalankan amanah dengan kejujuran dan keberpihakan pada kepentingan umum. Presiden menegaskan bahwa kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan pribadi atau kelompok sempit tidak memiliki tempat dalam tata kelola pemerintahan yang sehat. Pesan ini menjadi koreksi sekaligus penguatan etika politik bagi para kepala daerah agar tidak terjebak pada praktik kekuasaan yang menjauh dari rakyat.
Pernyataan Presiden tersebut sejalan dengan penjelasan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi yang menekankan bahwa Rakornas 2026 dihadiri secara lengkap oleh seluruh kepala daerah dan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah. Kehadiran yang hampir menyeluruh ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun koordinasi nasional yang solid. Prasetyo menyampaikan bahwa pertemuan ini diharapkan mampu menyatukan langkah, visi, dan persepsi antara pusat dan daerah, sekaligus menjadi ruang evaluasi terhadap program-program yang belum optimal pada tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo. Dalam kerangka itu, komitmen terhadap tata kelola pemerintahan yang baik dan pemberantasan korupsi ditegaskan sebagai agenda utama.
Taklimat Presiden juga mengandung pesan kewaspadaan. Para pemimpin daerah diingatkan agar tidak bersikap lugu dalam menghadapi dinamika politik, ekonomi, dan sosial yang terus berubah. Kewaspadaan ini bukan berarti kecurigaan berlebihan, melainkan kemampuan membaca situasi, memahami kepentingan strategis, dan mengambil keputusan yang tepat demi kepentingan rakyat. Dalam pandangan Presiden, pemimpin yang memahami realitas lapangan dan konteks global akan lebih mampu menjaga stabilitas daerahnya sekaligus berkontribusi pada kekuatan nasional.
Apresiasi Presiden kepada Menteri Dalam Negeri atas penyelenggaraan Rakornas turut memperlihatkan dimensi emosional kepemimpinan. Presiden menyampaikan keyakinannya bahwa semangat yang lahir dari ketulusan para penyelenggara pemerintahan merupakan jaminan bagi masa depan bangsa. Pernyataan ini mengandung pesan optimisme yang kuat, bahwa keberhasilan pembangunan tidak semata ditentukan oleh kebijakan dan anggaran, tetapi juga oleh integritas dan niat baik para pelaksananya. Optimisme tersebut penting untuk membangun kepercayaan diri birokrasi di tengah tuntutan publik yang semakin tinggi.
Secara keseluruhan, taklimat Presiden Prabowo dalam Rakornas 2026 dapat dibaca sebagai seruan moral dan politik untuk memperkuat persatuan, memperbaiki kualitas kepemimpinan, dan meneguhkan komitmen terhadap kepentingan rakyat. Dengan menjadikan persepsi dunia internasional tentang Indonesia sebagai bangsa yang mustahil sebagai pemantik refleksi, Presiden justru mengajak seluruh elemen pemerintahan membuktikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang mampu melampaui keraguan tersebut. Persatuan dalam keberagaman, kepemimpinan yang adil dan jujur, serta tata kelola yang bersih menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga melangkah maju sebagai negara besar yang disegani.
*Penulis merupakan Akademisi Ilmu Pemerintahan