Polemik Politik

Tertawanya Sang Ormas Terlarang, HTI

Oleh : Yuda Pramono Andi*

Isu nasional yang paling vital belakangan ini adalah fenomena pro kontra pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh anggota Banser di Garut. Aksi ini menjadi viral karena pembakaran tersebut direkam dan diupload di media sosial sehingga menghebohkan hampir seluruh Indonesia. Banyak pro kontra yang muncul dalam menanggapi polemik tersebut. Ada yang bersikukuh bahwa itu adalah bendera HTI, namun lebih banyak lagi yang merasa bahwa yang dibakar adalah bendera tauhid.

Polri sebenarnya telah menangani kasus ini dengan cukup baik, dimana oknum yang membawa bendera tersebut sudah ditangkap dan sudah jelas-jelas mengaku mantan anggota HTI. Selain itu, secara tegas ketiga orang yang membakar bendera HTI tersebut sudah minta maaf, bukan karena membakar bendera HTI, namun karena membuat pro kontra di masyarakat. Tetapi permasalahan tidak selesai di sana dan masih banyak masyarakat yang merasa tidak terima bendera bertuliskan tauhid dibakar oleh anggota banser. Masyarakat yang marah menganggap bahwa permasalahan ini bukan tentang bendera ya, tetapi tentang tulisan tauhid di bendera tersebut yang menurut mereka pantang dibakar.

Mari kita mundur sejenak berbicara tentang bendera tauhid. Ada banyak organisasi radikal dan organisasi teroris di seluruh dunia yang “mengutip” kalimat tauhid dalam bendera organisasi mereka. Sebut saja yang sangat terkenal seperti ISIS dan Al’Qaeda. Dua organisasi teroris ini memakai kalimat tauhid dalam bendera mereka, dan kedua organisasi ini telah dikutuk oleh seluruh dunia karena aksi-aksi terorisme. Ada banyak negara yang membakar bendera ISIS dan Al’Qaeda yang mengutip kalimat tauhid, termasuk bahkan beberapa negara islam di timur tengah. Apakah masyarakat yang protes di Indonesia ini meragukan keislaman orang di timur tengah? Saya rasa tidak karena bahkan umat islam di Indonesia berkiblat ke timur tengah, yakni Arab Saudi. Sama halnya dengan HTI, bendera mereka juga mengutip kalimat tauhid. Masyarakat juga perlu tahu bahwa Hizbut Tahrir ini merupakan organisasi terlarang di sejumlah negara islam di dunia, salah satunya adalah negara ARAB Saudi sendiri. Mengapa negara yang menjadi panutan umat islam di seluruh dunia melarang HT tersebut? Sudah pasti ada yang salah dengan HT sehingga banyak negara yang melarang keberadaan organisasi tersebut. Namun anehnya, di Indonesia malah masih banyak simpatisan organisasi tersebut.

Puncak dari tanggapan terhadap pembakaran bendera HTI, sejumlah masyarakat di beberapa daerah di Indonesia melakukan “Aksi Bela Tauhid”. Hampir di seluruh lokasi aksi tersebut, masyarakat beramai ramai membawa bendera bertuliskan kalimat tauhid sambil meneriakkan takbir dimana-mana. Sebagai tuntutan utama mereka adalah pembubaran banser yang mereka anggap lebih pro umat non muslim daripada umat muslim itu sendiri. Sungguh miris melihat tuntutan tersebut. Padahal Banser atau GP ANSOR adalah salah satu organisasi yang berjasa besar bagi Indonesia, mulai sejak jaman perjuangan kemerdekaan hingga masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga dikenal baik sebagai organisasi yang sangat menggaungkan toleransi antar umat beragama. Mengapa organisasi sebaik dan sehebar banser ini diminta dibubarkan? Jelas ada oknum tertentu yang memprovokasi tuntutan ini, oknum yang tidak ingin menjaga persatuan Indonesia yang beragam ini. Hanya ada satu organisasi yang belum lama dibubarkan yang menolak Pancasila dan memperjuangkan khilafah murni di negeri Indonesia yang beragam ini, yakni HTI. Walaupun organisasi ini dibubarkan, namun idealisme sempit mereka sepertinya masih dipertahankan dan bahkan tetap disebarkan. Dan untungnya mereka, masih banyak masyarakat yang mudah dijebak dengan fanatisme yang berlebihan.

Menurut saya, saat ini orang HTI sedang tertawa gembira. Bagaimana tidak, dari aksi pembakaran bendera mereka, menghadirkan banyak dukungan dari masyarakat Indonesia. Terlebih lagi, organisasi GP ANSOR dan Banser yang selama ini menghalangi ideologi mereka, dituntut untuk dibubarkan. Sungguh keberhasilan yang luar biasa bagi sebuah organisasi yang jelas-jelas telah dibubarkan dan dilarang, namun masih bisa eksis secara tidak langsung. Kegembiraan mereka ditambah lagi dngan adanya aksi oknum-oknum bodoh yang menurunkan sang panji merah putih dan menggantinya dengan bendera hitam bertuliskan tauhid yang sering dibawa HTI. Adalah sebuah petaka besar jika bendera kebangsaan sampai diturunkan semudah itu dan diganti dengan bendera lain. Bahkan, pelaku yang melakukan penukaran bendera tersebut tampak bangga telah berhasil menurunkan bendera merah putih. Mereka tidak sadar bahwa dibelakang mereka, HTI sedang merayakan keberhasilan ya memprovokasi masyarakat di Indonesia semudah ini. Mungkin kedepan pelaku yang menukar bendera merah putih tersebut akan ditangkap, ditangkap sebagai kambing hitam akan rencana busuk HTI untuk kembali di Indonesia.

Jika masih ada masyarakat Indonesia yang masih buta dan tetap bersikukuh bahwa mereka membela kalimat tauhid, perlu dibuktikan semangat juangnya. Jika memang bendera hitam yang dibakar oleh banser bukan bendera HTI, bisa dicoba untuk membawa bendera yang sama ke Arab Saudi, kibarkan disana dan mungkin bisa berfoto bersama dengan aparat keamanan Arab Saudi. Sebelum itu, perlu diingatkan kembali bahwa HT dilarang keras di Arab Saudi. Mungkin anda masih utuh saat berangkat kesana, namun mungkin tidak bisa kembali karena anda akan bermukim di salah satu sel penjara Arab Saudi.

Saat ini mungkin tidak hanya HTI yang tertawa, namun saya juga. Saya hanya tertawa miris mengapa masyarakat Indonesia semudah ini terprovokasi oleh oknum pemecah belah seperti HTI. Mengapa ada orang bodoh yang tidak dapat menghargai bagaimana sulitnya para pejuang dahulu mengibarkan bendera merah putih di tanah Indonesia. Mengapa orang bodoh ini dengan bangga dan senyum sumringah menurunkan sang saka merah putih dengan gampangnya dan mengganti dengan bendera lain. Sadarkah kita bahwa kita sedang diadu domba oleh HTI dalam kasus ini? Sadarkah kita bahwa para pejuang dahulu sedang menangis sedih ketika bendera yang mereka perjuangkan dengan jiwa dan raga tidak dipandang oleh generasi penerusnya?

Jika anda masih bersikukuh membubarkan Banser sebagai salah satu tameng bagi Pancasila, maka anda telah membuka peluang bagi HTI dan organisasi sejenisnya untuk kembali di Indonesia. Dan jika anda masih ragu dengan kekuatan Pancasila, silahkan angkat kaki dari bumi pertiwi, sekalian ajak HTI dan kroninya serta jangan lupakan bendera kebanggaannya. Percayalah, negara tidak akan mempersulit penghianat seperti itu untuk menghilang dari bumi pertiwi. Namun jika anda seorang Indonesia dan Pancasila, mari sadar dan bungkam HTI selama-lamanya dari Indonesia.

*)Penulis adalah Pengamat Masalah Politik

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button

Adblock Detected

Kami juga tidak suka iklan, kami hanya menampilkan iklan yang tidak menggangu. Terimakasih