Polemik Politik

Waspada Radikalisme di Lingkungan Sekolah

Oleh : Bagus Prasetyo )*
Saat ini lingkungan sekolah sudah ada yang tercemar oleh ajaran radikalisme. Hal ini sangat disayangkan karena murid bisa bingung dan menganggap paham mereka benar. Pemerintah menanggulangi masuknya paham radikalisme di lingkungan sekolah dengan beberapa cara. Di antaranya mengganti buku pelajaran yang berisi konten radikalisme.
Publik pernah dibuat heboh dengan buku pelajaran yang memuat materi dengan kata-kata bom, jihad, perang, dan bantai. Padahal buku tersebut ditujukan untuk murid TK. Spontan langsung ditarik dari peredaran dan diselidiki, mengapa sampai diberikan kepada sebuah lembaga pendidikan untuk anak-anak. Ternyata radikalisme sudah masuk ke lingkungan sekolah.
Menurut Mentri Agama Fachrul Razi, ada 3 jalur untuk tempat masuk paham radikalisme ke lingkungan sekolah. Yang pertama adalah melalui kurikulum. Terutama di sekolah yang tidak memakai kurikulum K-13. Mereka memakai kurikulum lain yang sayangnya bisa disisipi oleh ajaran radikalisme. Jadi di proses pembelajaran, murid malah diajari untuk berjihad ke Syiria.
Jalur kedua adalah melalui buku. Seperti yang dicontohkan di atas, ternyata ada buku pelajaran yang memuat paham radikal. Misalnya ajaran untuk memerangi kafir dengan peperangan dan kekerasan. Padahal di era modern, perang seperti ini tidak mungkin terjadi. Murid juga jadi seseorang yang intoleran karena tidak mau bergaul dengan selain kaumnya.
Sementara jalur ketiga adalah melalui guru. Seorang guru seharusnya mengajarkan tentang pengetahuan dan kebaikan. Namun ia malah menyetelkan film tentang perang Palestina dan mengajak murid untuk membantai musuh. Murid yang masih polos akan tercuci otaknya lalu menganggap ucapan guru benar, padahal pengajar tersebut adalah anggota kelompok radikal.
Untuk mengatasinya maka sekolah harus teliti dalam memakai buku untuk bahan pembelajaran di kelas. Guru dan kepala sekolah harus membaca satu-persatu materinya sebelum memutuskan untuk membeli buku itu. Jangan sampai salah dan ternyata ada cerita tentang radikalisme yang membuat murid jadi salah kaprah dan berada di jalur yang tidak benar.
Wakil presiden KH Ma’ruf Amin juga menyatakan bahwa buku pelajaran yang mengandung konten radikalisme akan ditelusuri siapa penulis dan penerbitnya. Miris sekali bahwa ada buku seperti itu di tingkat SD, bahkan PAUD. Buku tersebut akan diperbaiki isinya dan ajaran radikalisme harus dihapus, agar murid tak lagi mendapat pengaruh dari kaum radikal.
Sekolah juga wajib menyeleksi calon guru yang mengajar. Harus dilakukan psikotes, wawancara tentang kebangsaan, dan dilihat juga akun media sosialnya. Jangan sampai ternyata ia anggota kelompok radikal yang mengajarkan murid-murid tentang jihad serta kebencian terhadap pemerintah. Satu guru yang salah akan merusak otak ratusan murid.
Jika ada sekolah yang kurikulumnya ternyata pro radikalisme, maka orang tua jangan segan untuk memindahkan anak ke lembaga pendidikan lain, walau harus berkorban uang, tak apa-apa. Daripada anak terpapar radikalisme sejak dini. Mereka bisa nekat kabur dari rumah dan ingin jihad ke luar negeri karena otaknya sudah terpengaruh oleh ajaran kaum separatis.
Untuk mengatasi murid yang sempat terpapar ajaran radikalisme, maka orang tua bisa membetulkannya dengan mengajarkan nilai nasionalisme. Misalnya dengan menyetel lagu-lagu kebangsaan di rumah, dan mengadakan upacara bendera di rumah tiap hari besar nasional. Juga mengajak anak untuk menonton film tentang sejarah kemerdekaan Indonesia.
Paham radikalisme masuk ke sekolah melalui buku, kurikulum, dan guru. Buku yang mengandung radikalisme harus diperbaiki isinya. Sekolah juga tak boleh sembarangan menerima guru yang ternyata anggota kaum radikal. Orang tua juga waspada ketika sekolah anak kurikulumnya mengandung radikalisme dan memindahkan mereka ke tempat lain.

)* Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI).

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button