Polemik Politik

Waspada Radikalisme Menyasar Kaum Wanita

Oleh : Indah Rahmawati)*

Kaum radikal terus mencari mangsa untuk mendapatkan anggota baru. Mereka tak hanya menyasar kaum adam, tapi juga wanita. Wanita dianggap cocok jadi kader karena ia bisa mendidik anaknya untuk mengakui radikalisme serta menciptakan keluarga separatis. Kondisi ini tentu amat mengerikan, karena wanita adalah tiang negara.

Wanita ternyata juga jadi sasaran tembak oleh kaum radikal, tidak hanya anak-anak dan laki-laki. Mengapa harus wanita? Karena mereka dianggap sebagai sosok yang butuh pelindung, sehingga kaum radikal menawarkan keamanan dan rasa nyaman. Kaum radikal memiliki modus dengan membentuk komunitas seperti keluarga, padahal isinya separatis.

Menurut Letkol Laut Setyo Pranowoe, Deputi 1 Bidang Pencegahan BNPT RI, wanita adalah sasaran dari kaum radikal, karena mereka menganggap bahwa kaum hawa lebih kuat untuk didoktrin. Bahkan juga digunakan sebagai tokoh utama dalam aksi teror (pelaku primer). Lebih bahaya lagi kalau mereka meledakkan bom dan mengajak anak-anak yang tak berdosa.

Mengapa ada wanita muda yang mau jadi anggota kaum radikal? Karena mereka memang pandai membujuk, sehingga para gadis bersimpati. Para ibu juga mau jadi anggota kaum radikal karena diiming-imingi jatah kavling di surga kelak setelah meninggal karena bom yang dibilang syahid. Padahal masuk surga atau neraka, bukan manusia yang menentukan.

Oleh karena itu, kaum hawa harus membentengi diri agar tidak tercebur jadi kaum radikal. Jangan sampai jadi korban berikutnya dan nasibnya seperti para wanita yang tidak bisa pulang ke Indonesia. Karena jadi anggota kaum radikal yang niatnya jihad di luar negeri dan terlanjur membakar paspor, nyatanya malah diserang musuh dan diabaikan orang Indonesia.

Para korban radikalisme itu sudah menyesal dan ingin pulang tapi sayang nasibnya tidak jelas. Jika tidak ada paspor maka tidak bisa pergi, apalagi dalam keadaan perang. Status mereka sebagai WNI juga dipertanyakan. Kaum radikal adalah penghianat, dan mereka bisa tidak diakui sebagai warna negara Indonesia, karena kecemplung ke aliran radikalisme.

Wanita juga harus waspada ketika ada acara atau seminar  yang didatangi. Jika temanya menarik, apalagi gratis, tentu menarik minat kaum hawa. Namun ternyata acara itu hanya modus dari kaum radikal untuk mengenalkan organisasinya. Banyak wanita diajak untuk berkeliling dan menyebarkan ajaran radikalisme berkedok aliran kedamaian.

Begitu pula jika sedang mencari jodoh. Banyak wanita yang memasrahkan pada penasehat spiritualnya untuk dijadikan calon suami dan hanya melihat biodata serta pasfoto. Namun ternyata setelah menikah, ternyata ia adalah anggota kaum radikal. Sehingga mau tak mau sang istri juga jadi kader dan mengikuti ke mana saja suami menyebarkan ajaran radikalisme.

Jangan hanya percaya pada 1 sumber, namun periksa luar dalamnya. Sekarang kita sudah dimudahkan dengan teknologi, jadi lihat dulu profil sang calon di media sosial. Jika terbukti ia suka menyumpahi pemerintah dan bahkan mengajak untuk anti pancasila, tinggalkan saja. Sebelum semuanya terlambat dan wanita itu terpaksa jadi anggota kaum radikal.

Jika sudah terlanjur jadi kaum radikal maka biasanya akan susah bertemu dengan orang tua. Karena dianggap sebagai orang di luar kaumnya dan tidak lagi sealiran dengan mereka. Sebagai wanitayang punya perasaan halus, maka akan sangat terluka dan sangat menyesal karena terjebak dengan keadaan.

Waspadalah wahai kaum wanita. Jangan sampai terperosok dan jadi anggota kaum radikal karena mereka bisa mendekat dengan berbagai modus. Mulai dari menawarkan jodoh hingga janji akan kehidupan yang layak. Padahal kegiatan kaum radikal sangat merugikan dan bisa ditindak, karena menghianati keutuhan negara Indonesia.

)* Penulis adalah Mahasiswi IAIN Kendari

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button