Sosial Budaya

Waspada Terbitnya Kembali Media Abal – Abal Penyebar Hoax

Oleh : Wiwin Septiana*

Menjelang kontes politik, beredar rumor bahwa Tabloid Obor Rakyat akan kembali mengisi kemeriahan kampanye menuju perayaan pesta demokrasi Indonesia 2019. Media cetak penebar hoax Obor Rakyat sempat menimbulkan polemik pada masa Pilpres 2014, akibat berita bohong atau hoax yang digunakan untuk menyerang pasangan Jokowi – JK. Dalam edisi pertamanya yang terbit pada Mei 2014, Obor Rakyat menerbitkan tulisan berjudul “Capres Boneka” dengan menampilkan karikatur Jokowi yang sedang mencium tangan Megawati Soekarnoputri. Tak lama kemudian, edisi kedua kembali terbit dengan menerbitkan judul “1001 Topeng Jokowi”, kedua edisi tersebut berisikan berita bohong mengenai keluarga Joko Widodo.

            Kala itu Obor Rakyat membingkai Jokowi sebagai “boneka” yang dikendalikan oleh PDIP dan melayani kepentingan Megawati. Sebagian dari tulisan pada tabloid itu juga memberikan tuduhan bahwa Jokowi merupakan muslim yang menyimpang, keturunan China dan simpatisan komunis. Obor Rakyat dicetak sekurang – kurangnya 100.000 eksemplar dan disebarkan ke pesantren dan masjid di pulau Jawa. Tudingannyapun membuat gempar hingga skala nasional. Hal ini disebabkan oleh pelbagai media yang turut membahas isu tersebut dengan sudut pandang masing – masing.

            Tentu pimpinan redaksi Obor Rakyat, Setyardi, perlu berpikir ulang sebelum menerbitkan Obor Rakyat kembali. Apalagi jika format isu yang ingin dihembuskannya serupa dengan yang ia lakukan di 2014. Karena media cetak tersebut dianggap telah melewati batas hukum, tim pemengangan Jokowi – JK akhirnya melaporkan hal ini pada pihak kepolisian. Dalam sidang putusan akhir, 2 orang petinggi dari Obor Rakyat dinyatakan bersalah dengan dijatuhi pidana kurungan selama 1 tahun penjara, atas pelanggaran pasal 310 ayat 2 tentang pencemaran nama baik.

            Menjelang Pilpres 2019 tentu banyak pihak melakukan kampanye dengan berbagai cara muslihatnya. Antisipasi dan pencegahan agar modus kampanye hitam seperti yang terjadi pada Obor Rakyat tahun 2014 tidak terulang perlu ditumbuhkan dari masing – masing pribadi maupun pihak – pihak yang berwenang. Tyson dan Purnomo pernah menggelar survei di Bandung, Jakarta, dan Surakarta pada Juni – Juli 2015 guna mengukur efek yang ditimbulkan dari terbitnya Obor Rakyat. Total responden berjumlah 324 orang. Dalam survei tersebut membuktikan bahwa 58 % diantara mereka pernah mendengar tentang laporan Obor Rakyat.

            Dari kelompok yang mengatakan demikian, 34 % diatantaranya ingat bahwa laporan itu menyebut bahwa Jokowi bukanlah muslim yang baik. Sebanyak 21 % kelompok itu juga ingat bahwa Obor Rakyat menyebut Jokowi sebagai keturunan China atau dekat dengan taipan China. 9 % dari kelompok tersebut ingat bahwa Isu Jokowi keturunan komunis turut disebarkan Obor Rakyat.

            Dari survei tersebut menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia pernah mengetahui kabar mengenai orang tua Jokowi yang penganut Kristen atau Jokowi beretnis China. Sebagian juga menganggap PKI sedang berusaha bangkit kembali. Jumlah yang mengetahui kabar itu memanglah lebih sedikit daripada yang tidak mengetahuinya, mereka yang tahu lantas mempercayai kabar tersebut juga lebih sedikit ketimbang yang tidak percaya. Pertanyaannya, tipe responden seperti apakah yang mengetahui dan percaya akan kabar semacam itu?

            Isu komunisme dianggap sedang berusaha bangkit diketahui dari 28 % kelompok yang menyatakan tertarik isu politik dan pemerintahan. Pencacahan responden kategori ini lebih lanjut menyatakan : bahwa hanya sebagian kecil dari mereka yang mendukung Jokowi Ma’ruf 17 % percaya komunisme sedang berusaha bangkit. Temuan ini bisa dibandingkan dengan responden yang menjawab tahu ketika ditanya “Apakah Ibu / Bapak tahu atau pernah mendengar berita yang menyebut Prabowo Subianto terlibat dalam peristiwa penculikan dan penghilangan paksa aktifis demokrasi pada 1997 – 1998?” jumlahnya sebanyak 30 %.

            Dari kelompok yang menyatakan tertarik isu politik dan pemerintah, sekitar empat dari sepuluh diantaranya tahu kabar yang menyebut Prabowo terlibat penculikan tersebut. Pada kelompok responden ini, sebagian besar pendukung Prabowo – Sandiaga 63 % tidak mempercayai kabar itu. Sedangkan sebagian besar 65 % pendukung Jokowi – Ma’ruf percaya. Angka – angka tersebut menggambarkan bahwa dukungan seseorang pada Paslon ternyata mempengaruhi sikapnya terhadap isu – isu miring yang melekat pada diri paslon yang mereka dukung.

            Adanya rumor bangkitnya Obor Rakyat tersebut menghadirkan komentar pedas dari berbagai lini media sosial. Masyarakat yang enggan dan menolak hadirnya kembali Obor Rakyat secara blak – blakan diungkapkan karena dianggap hanya sebagai sumber provokatif yang sangat tidak mendidik dan merusak kepercayaan masyarakat kepada sosok presiden.

            Hal ini tentu membuktikan bahwa berita hoax adalah ancaman serius bagi demokrasi bangsa, masyarakat harus jeli akan adanya media yang menjual kehebohan demi menghancurkan reputasi pihak tertentu. Obor Rakyat juga memiliki rencana untuk terbit secara online, hal ini dikarenakan Obor Rakyat ingin mengikuti perkembangan zaman dimana aktifitas pers mulai merambah pada dunia digital.

            Menyikapi hal ini Ketua Dewan Pers Stanley Yosep Adi menuturkan bahwa Dewan Pes akan membentuk Satgas Media Online guna memerangi media abal – abal. Satgas tersebut akan berkoordinasi dengan Polri dan Dirjen Aptika Kominfo. Tugas dari Satgas tersebut adalah memantau dan menutup media abal – abal. Stanley mengatakan pihak yang berwenang melakukan penutupan media abal – abal adalah Kominfo.

            Dewan Pers juga memastikan bahwa dengan terbentuknya Satgas tersebut tidak akan menutup media yang berkualitas. Selain itu, kepolisian juga mesti turut aktif dalam memberangus aksi penyebaran hoax baik melalui media cetak, elektronik maupun media online. Ancaman nyata negeri ini bukan datang dari penjajah bersenjata, namun ancaman nyata dari bangsa ini adalah berita bohong yang mampu mengoyak persatuan Indonesia.

*Penulis adalah Mahasiswi Universitas Subang

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close