Kabar Ringan

Memilih Pemimpin Amanah, Jangan Hanya yang Hidup Mewah

Dapatkah Sandiaga Uno berbaur dengan masyarakat jelata dalam memimpin nanti?

Oleh : Joko Aristanto *)

 

Posisi ke-85 pada daftar 100 orang terkaya di Asia membuat Sandiaga Uno. Sang Cawapres yang digandeng Prabowo Subianto ini terbiasa hidup mewah. Sandiaga Uno yang terkenal dengan kekayaannya inipun kemudian menjadi sorotan oleh masyarakat. Dapatkah Sandiaga Uno berbaur dengan masyarakat jelata dalam memimpin nanti? Atau justru dia Cawapres yang anti orang miskin? Semua itu masih menjadi pertanyaan di hati rakyat Indonesia menjelang Pilpres 2019.

Wajar saja mereka mempertanyakan sikap Sandi nantinya. Sebab, masyarakat masih sangat berharap memiliki pemimpin yang merakyat. Kekayaannya yang mencapai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp 7,2 trilyun ini dikhawatirkan tidak bisa menjadi pemimpin yang merakyat, mengingat pola hidupnya yang serba mewah selama ini.

Selain itu, dikhawatirkan juga kekayaannya ini membuatnya anti orang miskin dan menjadikan kesenjangan antara dirinya dengan rakyat yang dipimpinnya. Padahal, peranan pemimpin harus dekat dengan rakyat yang dipimpinnya. Tidak cukup soal itu, rakyat juga mengkhawatirkan kepemimpinan Sandi kelak hanya diperuntukkan kaum pengusaha dan kaum yang bersosial tinggi saja. Padahal, rakyat biasalah yang sangat membutuhkan perhatian dari pemimpin.

Bagaimana sikap Sandi nanti saat memimpin memang masih menjadi teka – teki, apalagi kepiawaiannya dalam memimpin belum terbukti secara matang. Hal ini dapat dilihat pada masa jabatannya sebagai Wakil Gubernur DKI yang belum maksimal ia kerjakan. Bahkan, sebelum selesai menjabat Cawapres nomor urut 2 ini memilih berhenti dan mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden. Jadi, masyarakat belum paham betul bagaimana gaya kepimimpinan Sandiaga Uno saat itu.

Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017 – 2022 ini juga menjadi sorotan karena dinilai masih belum tuntas melaksanakan program – programnya bersama Anies Baswedan. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang menilai dirinya lebih cocok menjadi pengusaha karena kesuksesannya di bidang usaha, ketimbang kesuksesannya di bidang politik dan kepemimpinan.

Merambah dari opini masyarakat tersebut, Prabowo juga mendapat penilaian dari masyarakat. Dirinya dinilai menggandeng Sandi lantaran kekayaan Sandi yang cukup untuk menopang biaya yang akan dikeluarkan di Pilpres mendatang. Mengingat biaya Pilpres itu tidak sedikit mulai dari perencanaan, kampanye dan sebagainya.

Oleh karena itu, kecerdasan Prabowo menggandeng Sandi dinilai tepat mengingat kekayaan Prabowo tidak seberapa jika dibandingkan dengan kekayaan Sandiaga Uno yang dikenal old money, atau yang sudah terlahir kaya.

Alih – alih berbicara soal kekayaan Prabowo dan Sandiaga Uno, masyarakat menyoroti mereka berdua dari berbagai sudut. Jelas, diantara mereka saling mengeruk keuntungan dari pihak – pihaknya itu. Bagaiman bisa dianggap demikian? Hal ini terlihat dari sikap Prabowo yang mantap memilih Sandi sebagai partnernya karena dianggap kaya dan mampu mengcover biaya Pilpres. Sedangkan Sandi mengais keuntungan dari pihak Prabowo karena Prabowo dianggap memiliki popularitas yang cukup tinggi di bidang politik. Ibarat pelajaran biologi, mereka menggunakan sistem simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan satu sama lain.

Entah seperti apa cara mereka dalam melakukan upayanya mencapai kemenangan di Pilpres mendatang, namun sorotan masyarakat masih sebatas kekayaan yang mereka miliki. Bukan kepemimpinan yang berhasil mereka capai. Pasalnya Sandi datang dari kalangan pengusaha yang kemudian muncul sebagai politikus, sehingga dianggap masyarakat kurang mumpuni dalam melaksanakan tugasnya sebagai wakil kepala negara. Menjadi wakil gubernur saja belum terbukti amanah, bagaimana menjadi wakil kepala negara?

Apalagi, gaya hidup Sandi yang mentereng dinilai jauh dari kata merakyat. Hal ini yang kemudian menjadi kekhawatiran lebih di hati masyarakat kalau – kalau Sandiaga Uno memimpin Indonesia dengan gayanya yang borjuis. Sedangkan rakyat yang dipimpinnya sebagian kaum menengah ke bawah.

Tercatat di aplikasi laporan harta kekayaan penyelenggaraan negara, Sandiaga Uno memiliki aset yang sangat banyak. Mulai dari tanah, bangunan sampai simpanan kas. 15 lokasi tanah dan bangunan ini tercatat sebagai kekayaannya. Bagi kaum awam, nilai ini sangatlah fantastis. Bahkan tidak bisa membayangkan seberapa banyak jika diuangkan. Hal inilah yang dianggap sebagai kesenjangan. Kalau masyarakat bilang, “kita dengan Sandi itu jomplang.” Jomplang yang dimksud adalah tidak seimbang. Bagaikan langit dengan bumi.

Maka dari itu, masyarakat sangat berharap Prabowo dan Sandi kelak jika terpilih bisa melihat bumi  yang selama ini mereka pijaki. Jika tidak, maka rakyat akan hancur terpijak – pijak saja. Sedangkan mereka terus berjaya di titik fokusnya sebagai langit atau atasan tanpa mau melihat penderitaan rakyat yang terpijak. Sebab, kebiasaan hidup yang mewah terkadang membuat seseorang enggan menengok ke dalam pemderitaan orang lain.

Itulah opini yang dikeluarkan oleh masyarakat kecil terkait kepemimpinan Prabowo dan Sandiaga Uno di masa mendatang. Sekalipun masih menjadi teka – teki, tapi mereka sudah bisa memprediksi lantaran gaya hidup mewah mereka yang dianggap cenderung cuek terhadap kaum papa.

 

*) Penulis adalah pengamat masalah sosial politik.

 

 

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button

Adblock Detected

Kami juga tidak suka iklan, kami hanya menampilkan iklan yang tidak menggangu. Terimakasih