Sendi Bangsa

Aktivis Deklarasi Melawan Hoax

Pesan viral yang berisi tentang intoleransi yang memecah belah keutuhan bernegara, mulai banyak ditemukan di media social (medsos). Terlebih, upaya menggiring opini perpecahan, begitu masif disebar di medsos. Itu disampaikan mantan Kepala Bakesbangpol Jember yang kini menjadi staf ahli Bupati Jember, Widi Prasetyo.

Saat menjadi pemateri diskusi publik yang digelar Lembaga Studi Informasi Strategis – Indonesia (LSISI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) IAIN Jember, Senin (27/2) kemarin Widi berbicara lebar tentang berita hoax.        Menurut Widi, peredaran berita di media sosial dinilainya melebih media mainstream yang sudah memiliki nama dan kredibilitas. Besarnya arus informasi media sosial tersebut, akhirnya mengalahkan kepercayaan berita dari media pada umumnya. “Menjadi bahaya, ketika medsos menyebar kabar memecah-belah keutuhan bangsa,” jelasnya.

Dia menilai, upaya mencari kabar yang berimbang dan bisa dipertanggungjawabkan, rupanya masih rendah dilakukan masyarakat. Semakin diperparah, mereka langsung menyebar berita yang cenderung hoax dan menjadi viral (Perbincangan, Red). “Saling sindir. Saling debat. Kemudian berselisih paham,” tuturnya.

Kun Wasis, dosen IAIN Jember yang juga mantan wartawan, menilai ada tantangan baru yang harus dilakukan pewarta berita. Katanya, tantangannya ada pada tingkat kepercayaan publik terhadap berita yang dikabarkannya. “Sehingga, wartawan sangat dituntut profesional dan memegang teguh kode etik jurnalistik,” paparnya.

Bagi Kun, semakin rendahnya penilaian tentang profesionalitas seorang wartawan, akan berbanding terbalik dengan mendongkrak popularitas pelaku medsos. Padahal katanya, mengakses medsos dengan akun anonim (samaran, Red), masih sangat mudah dilakukan di dunia maya. “Sehingga, orang tidak bertanggungjawab yang berkeinginan memecah belah, juga mudah menyebar berita hoax,” pungkasnya.

Misbah, seorang mahasiswa IAIN Jember yang juga aktivis HMI, menilai penting ada keterlibatan mahasiswa untuk melawan gerakan intoleransi. Apalagi di media sosial. Sebab katanya, medsos sudah menjadi representasi kehidupan nyata bermasyarakat. Dia pun melakukan gerakan konkrit. Salah satunya, menggelar deklarasi melawan intoleransi dan berita hoax yang digelarnya di salah satu rumah makan yang ada di Mangli, kemarin. “Karena kami menilai sangan berbahaya,” tuturnya.

 

Sumber : RadarJember.com

 

Show More

Related Articles

Back to top button
Close