Polemik Politik

Bang Sandi Pilih Siapa?

Minimnya pengalaman dalam memahami masyarakat beserta persoalannya mendorong Sandiaga untuk memainkan strategi lain dalam menarik hati masyarakat

Penulis : Ahmad Harris*

Selalu ada yang menarik untuk dibahas jika berkaitan dengan Sandiaga Uno. Calon Wakil Presiden nomor urut 2 itu mampu menarik perhatian masyarakat dalam tiap kampanyenya, khususnya saat blusukan ke pasar tradisional. Mulai dari meletakkan petai ke atas kepala hingga satir tempe setipis kartu ATM cukup menjadi perbincangan hangat masyarakat. Namun, yang paling lucu diantara semuanya adalah isi kampanye Sandiaga Uno itu sendiri. Dalam kampanye di pasar-pasar tradisional, Sandiaga Uno terus fokus menyampaikan harga-harga di pasar cenderung naik dan menyulitkan masyarakat.

Tak berhenti disitu, Sandiaga Uno juga membangun narasi pelemahan rupiah dan mengaitkannya dengan uang seratur ribu yang hanya bisa membeli cabai dan bawang di pasar. Sebenarnya, isi Sandiaga Uno bukan merupakan hal yang lucu jika diaminkan oleh masyarakat dan pedagang pasar. Sayangnya, pedagang pasar tidak sependapat dengan kampanye Sandiaga Uno. Menanggapi kampanye Sandiaga, Ketua Komite Pedagang Pasar, Abdul Rosyid mengatakan Sandiaga hanya memanfaatkan pedagang pasar sebagai alat politik untuk mencari dukungan.

Jika ditelusuri, memang Sandiaga Uno selalu membahas tingginya harga-harga di pasar tanpa pernah memberikan gambaran solusi yang akan ia jalankan jika nantinya terpilih. Seandainya Sandiaga Uno mampu memberikan program yang dapat menstabilkan harga pasar, mungkin pedagang pasar tidak akan ribut dengan kampanye Sandiaga Uno. Meski demikian, masyarakat tentu tak bisa memaksa cara kampanye tiap pasangan calon.

Mungkin strategi politik yang ia gunakan hanya sebatas menyebarkan keresahan tentang harga pasar tanpa peduli cara untuk mengatasinya. Mungkin juga, Sandiaga Uno memiliki cara untuk menstabilkan harga pasar tetapi takut untuk menyampaikannya ke masyarakat. Apalagi, warga Jakarta masih mengingat dengan jelas, janji Sandiaga Uno terkait program OK OCE yang nyatanya tidak mengalami progress signifikan. Bahkan, dapat dikatakan mengalami kemunduran dan tidak membantu masyarakat.

Terlepas dari hal tersebut, Sandiaga Uno pada dasarnya memiliki hak untuk menyampaikan ekspresinya terkait masalah-masalah ekonomi khususnya yang terjadi di pasar tradisional. Tentu, hak tersebut akan lebih didukung oleh masyarakat jika ia menyampaikan permasalahan sesuai dengan kenyataan di lapangan. Namun, sebagai pengusaha kaya, tampaknya sulit bagi sosok Sandiaga Uno untuk memahami akar masalah di pasar. Sosok Sandiaga Uno yang hidup dalam kemewahan mungkin tidak pernah menginjakkan kaki sebelum Pilpres 2019. Bagaimana mungkin seorang yang hanya beberapa kali ke pasar mampu mengatakan harga di pasar terus naik dari waktu ke waktu?

Minimnya pengalaman dalam memahami masyarakat beserta persoalannya mendorong Sandiaga untuk memainkan strategi lain dalam menarik hati masyarakat. Mulai dari mengklaim dirinya sebagai keturunan bangsawan, Ulama, hingga Santri, ia lakukan untuk meningkatkan elektabilitasnya. Sayang seribu sayang, masyarakat Indonesia saat ini sudah sangat cerdas untuk menilai. Apalah artinya memilih seseorang keturunan bangsawan jika ia tak memiliki visi dan misi untuk Indonesia. Sebaliknya, apa salahnya memilih seorang dari keturunan rakyat biasa tetapi mampu membuat Indonesia lebih sejahtera. Jika cukup cerdas, Sandiaga Uno sekalipun pasti tahu harus memilih yang mana, bukan?

*) Mahasiswa FISIP Universitas Dharma Agung

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close