Polemik Politik

Dekat Dengan Pemerintah Cina Tak Membuat Prabowo Peduli Muslim Uighur

Setidaknya kedekatan Capres nomor urut 2 dengan pemerintah Cina dapat menjadi media untuk memberikan saran kepada Cina agar tidak semena – mena terhadap Muslim Uighur

Oleh : M. Ridho*)

 

Sungguh memilukan nasib Muslim Uighur di Cina yang hingga saat diperlakukan secara tidak adil. Sebagian dari mereka ditangkap dan diisolasi di kamp – kamp milik Cina. Selain itu mereka juga dipaksa untuk meninggalkan keyakinannya sebagai muslim. Kabarnya lebih dari satu juta orang ditahan di kamp – kamp tersebut dengan dalih diberikan pelatihan kejuruan sebab wilayah Xinjiang mendapat beberapa ancaman, diantaranya adalah terorisme, ekstremisme, dan separatisme. Oleh sebab itu mereka dilatih khusus untuk sigap menghadapi ancaman ini.

Namun, fakta lain terungkap dari para tahanan Muslim Uighur yang mengaku dirinya dan tahanan lain mendapatkan perlakuan kejam dari Cina yaitu disiksa secara fisik dan mental. Fenomena ini tentunya sangat memilukan dan patut mendapatkan perhatian dunia, sebab ini termasuk pelanggaran hak asasi manusia.

Duniapun kemudian mengecam Cina yang sudah keterlaluan menyiksa Muslim Uighur ini. Tak seharusnya pemerintah Cina melakukannya sebab tuduhan mengenai saparatis di Xinjiang ini belum tentu benar mereka pelakunya. Kemudian, kecaman – kecaman dari berbagai negara tak terkecuali Indonesia, pada akhirnya dikaitkan dengan kepedulian tokoh – tokoh negara. Sama halnya dengan sorotan publik terhadap Prabowo yang dinilai dekat dengan pemerintah Cina. Publik menilai tidak bisakah Prabowo memanfaatkan kedekatannya itu untuk menekan peristiwa yang menimpa Muslim Uighur ini?

Padahal, jika Prabowo memang peduli dengan umat Muslim, seharusnya dia berperan serta untuk turut memerangi tindakan pemerintah Cina yang dinilai melanggar hak asasi manusia tersebut. Setidaknya kedekatan Capres nomor urut 2 dengan pemerintah Cina dapat menjadi media untuk memberikan saran kepada Cina agar tidak semena – mena terhadap Muslim Uighur. Sebab, masalah Muslim Uighur ini sudah masuk ranah kemanusiaan. Itulah mengapa MUI juga turut menyuarakan kecamannya terhadap Cina. Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin, menyatakan kejadian Muslim Uighur ini merupakan pelanggaran HAM serta hukum internasional yang sama – sama menegaskan adanya kebebasan beragama bagi segenap manusia. Menurutnya, Muslim Uighur juga merupakan penduduk suatu negara yang berhak memilih agamanya, tanpa harus dipaksa untuk berhenti menganut apa yang sudah dipilihnya.

Selain MUI, President Of Asia Conference on Religions For Peace (ACRP) juga meminta dengan tegas terhadap pemerintah Cina untuk menghentikan aksi kekerasannya yang melibatkan Muslim Uighur. Ia juga meminta dengan tegas kepada Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk turut melaksanakan aksi mereka. OKI diminta untuk menyelamatkan umat Islam Uighur dan bersikap tegas terhadap rezim Tiongkok untuk memberikan hak – hak sipil bagi mereka. Pernyataan Ketua ACRP  inipun didukung oleh banyak penduduk dunia yang turut prihatin atas kejadian yang menimpa Muslim Uighur.

Terkait berbagai kecaman yang ditujukan kepada pemerintah Cina, Indonesia juga diminta untuk dapat menyalurkan sikap masyarakat Islamnya dengan bersikap tegas kepada pemerintah Tiongkok dan turut membela Muslim Uighur. Sebab, tugas membela sesama Muslim itu hukumnya wajib. Tidak terbatas membela yang ada di sekitar saja, namun umat Muslim yang ada di seluruh belahan dunia. Jadi, merupakan sebuah kejelasan bagi muslim semua untuk turut membebaskan Muslim Uighur tanpa tebang pilih. Siapapun muslimnya, harus turut mendukung kebebasannya.

Jika semua pihak baik di dalam maupun luar negeri saja sudah angkat bicara terkait soal penyekapan Muslim Uighur, lantas ke mana Prabowo yang disebut – sebut sebagai orang yang dekat dengan pemerintah Cina? Ataukah kedekatannya itu hanya sekedar mengambil keuntungan di hubungan politik dan ekonomi saja tanpa mau terlibat di dalam permasalahan – permasalahan yang ada? Jika demikian adanya, dapat kita nilai bahwa Prabowo orang yang egois. Keislamannya pun patut diragukan. Pasalnya, kepedulian dirinya terhadap kasus Muslim Uighur ini dinilai sangat tipis. Bahkan, orang yang digadang – gadang mampu turut serta menekan siksaan yang dialami Muslim Uighur ini karena kedekatannya dengan pemerintah Cina, justru tidak dapat diharapkan campur tangannya. Hal ini kemudian sangat disayangkan oleh sejumlah muslim tanah air yang sudah mengharap keterlibatannya dalam permasalahan ini.

Padahal, jika Ketua Umum Gerindra ini mengaku muslim yang baik, seharusnya dia menjadi garda utama yang tanggap terhadap permasalahan yang sedang bergejolak di Tiongkok ini, terlepas dari upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah. Apalagi, Prabowo memiliki pengaruh penting di Cina karena kedekatannya dengan pemerintah Cina. Namun, pada kenyataannya kabar dirinya turut serta menumpas pelanggaran HAM yang menimpa Muslim Uighur masih sepi di pemberitaan media, baik cetak maupun elektronik. Hal ini yang kemudian disesalkan oleh sejumlah masyarakat Indonesia. Kesigapannya terhadap masalah kaum muslimin dirasa masih kurang dan terkesan tidak memiliki empati.

*) Penulis adalah Mahasiswa PTN di Riau

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close