Sendi Bangsa

Klona Penuh Pesona

Oleh : Djadjat Sudradjat *)

Indonesia ialah pekik hidup bersama yang menggelora di hari-hari revolusi 1945 yang hingga kini terus terpelihara, meski kadang melindap karena beberapa perkara. Indonesia ialah geografi serupa zamrud khatulistiwa (the emerald of equator), seperti kata Eduard Douwes Dekker (Multatuli), meski ada kalanya kurang kita syukuri. Indonesia ialah nyanyi, tari, tradisi lisan, pantun, gurindam, berbagai ekspresi seni dan budaya yang terus hidup dan menjadi ruh bangsa ini, meski kerap kita sepelekan.

Benar kata mendiang Mochtar Lubis, salah satu ciri manusia Indonesia ialah sifatnya yang artistik. Kedekatannya dengan alam menjadikan mereka mempunyai daya imaginasi yang tumbuh subur. Seni ialah ‘ruh’ bangsa ini. Budaya kita yang teramat kaya menjadi sumber kreativitas yang tak pernah habis. Tak salah jika UNESCO memuji Indonesia sebagai superpower di bidang kebudayaan.

Upacara pembukaan (opening ceremony) Asian Games Ke-18 Jakarta-Palembang, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Sabtu lalu, ialah salah satu pembuktian bangsa artistik itu. Di atas panggung sepanjang 135 meter, lebar 30 meter, dan tinggi 26 meter, keragaman negeri multikultur yang dikelilingi laut, hutan, dan gunung-gunung itu, hadir dengan penggah (megah) dalam sebuah replika Indonesia yang indah. Sajian khas negeri kepulauan untuk persatuan.

Panggung dari rangka baja dengan bobot 600 ton itu dilengkapi air terjun. Di panggung ini klona (imitasi) Indonesia dengan hutan menghijau, lautan yang bergelora, dan gunung api, yang hadir dalam pentas kolosal dengan ribuan penari, seperti tanpa cela. Berbagai tarian dengan aneka kostum dan gerak, aneka nyanyian dengan berbagai filofosi hidup, hadir ganti-berganti, dan sambung menyambung. Namun, satu sama lain tak terpisahkan.

Semua direkatkan oleh senyawa alam yang amat kuat untuk menjadi satu bangsa. Inilah identitas negeri yang tak tunggal. Indonesia bukan hanya Jawa, Sunda, Bali, tetapi Melayu, Aceh, Papua, Maluku, Bugis, dan semua etnis yang berjumlah 714 buah. Bangsa yang disatukan oleh bahasa Indonesia ini, juga dikuatkan dengan 1.100 bahasa daerah.

Sajian itu dikemas dalam sentuhan modernitas pentas yang penuh gairah namun tetap dalam harmoni. Efek pencahayaan yang apik dan sentuhan tiga dimensi, menjadikan pertunjukkan kolosal itu memukau sekitar 21.000 undangan, termasuk 17.000 atlet dan ofisial yang hadir di GBK. Dunia pun takjub. Kita pun bangga. Bangga karena kekayaan budaya itu bisa dipanggungkan dengan indah dan megah.

Salah satu magnet ketakjuban itu ialah tari Ratoh Jaroe dari Aceh dengan 1.600 penari dari berbagai SMA di Jakarta. Dengan kostum ganti-berganti warna mereka membentuk aneka formasi yang indah. Betapa berkelas tarian ini. Adegan letusan gunung dibawakan 3.600 penari juga tak kalah memesona.

Kedatangan Jokowi di arena di awal acara pembukaan dengan drama ‘tipuan video’, yakni menaiki motor gede dengan akrobatik -tentu menggunakan peran pengganti atau stuntman— juga menjadi kejutan yang menghibur. Ada kritik memang. Tapi inilah panggung hiburan untuk mengawali pesta olahraga terbesar di Asia yang menghadirkan 45 negara (18 Agustus-2 September), mestinya menjadi pembuka pesta yang penuh suka cita meski penuh persaingan dalam setiap pertandingan.

“Melalui Asian Games ke-18 bangsa Asia ingin menunjukkan bahwa kita bersaudara, bersatu, dan kita ingin meraih prestasi,” kata Presiden Jokowi dalam sambutan pembukaannya. Sementara Ketua Panitia Pelaksana Asian Games Eric Thohir mengungkapkan, Indonesia ingin memberikan contoh bagaimana negeri dengan umat Islam terbesar di dunia tapi damai dalam harmonis. “Kami menyebutnya Bhineka Tunggal Ika atau Unity in Diversity. Welcome to Indonesia, the energy of Asia!,” seru Erick.

Secara keseluruhan pentas yang dibagi empat segmen yang menyimbolkan air, bumi, angin, dan api itu menjadi panggung kolosal paling megah dan menawan sepanjang pembukaan Asian Games yang pernah dihelat di benua yang dihuni 4,3 milar penduduk itu. Kolaborasi penata panggung Wisnuthama, koreografer Denny Malik dan Eko Supriyanto, serta pengarah musik Addie MS, perlu kita puji karena hasilnya yang maksimal. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pun mengatakan, tak ada yang tak bergetar menyaksikan pertunjukan pembukaan Asian Games ke-18.

Acara ini pun menjadi trending topic dunia di jejaring media sosial Twitter. Kita bangga. Bangsa besar mestinya juga penuh jiwa-jiwa besar, yang bisa memilah mana yang berbeda mana yang harus bersama. Perhelatan Asian Games ke-18 di Indonesia untuk kali kedua setelah yang pertama pada 1962, layaklah menjadi kebanggaan bersama yang menyatukan. Dua Korea yang bermusuhan pun bisa hadir bersama dengan satu bendera. Alangkah memalukan jika kita sebagai penyelenggara justru terus berseteru.

Semoga kita bisa mewujudkan mewujudkan sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, dan sukses promosi tentang Indonesia, sebagai pusat energi Asia.

*) Penulis adalah Dewan Redaksi Media Group

 

Sumber : Media Indonesia

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close