Sendi Bangsa

Meneguhkan Pancasila, Meneguhkan Islam Indonesia

Oleh : Ade Buchori )*

 

Masing-masing kita akan diuji keimanannya oleh Tuhan berdasarkan atas apa yang kita yakini dan atas apa yang kita ucapkan. Dalam bahasa Qur’an: “Apakah mereka akan mengatakan bahwa kami beriman, padahal Kami (Tuhan) belum lagi menguji mereka dengan ujian apapun”. Pada ayat lain: “Wahai orang beriman, mengapa kamu mengutarakan hal-hal yang tidak kamu lakukan. Sungguh laknat Tuhan atas orang2 yang mengatakan (pandai bersilat lidah), tapi mereka tidak melakukan”.

Ibadah & Tujuannya

Al-Qur’an selalu membangunkan kita dari keterlelapan. Kenyenyakan. Mabuk diri. Lupa bahwa yang diancam oleh Tuhan bukan yang tidak sholat tapi yang celaka adalah orang yang melaksanakan shalat. Fawailul-lil-mushollin. Shalat dalam keadaan mabuk. Mabuk harta. Mabuk tahta. Mabuk kuasa. Mabuk dunia. Shalat dilaksanakan tapi kebengisan, perilaku kasar dan persekusi terus direproduksi. Lalu apa yang tersisa dari ibadah shalat kita?

Puasa kita sambut dengan penuh gegap-gempita. Volume ritual kita tingkatkan. Idiom kesucian dilafalkan. Tapi nafsu mengadili iman orang lain, men-judge pemikiran orang lain makin bertahta di hati. Lalu apa yang kita perangi? Lalu pelajaran pekerti apa yang kita dapatkan dari perintah shaum ini? Jejak apa yang tersisa dari ibadah puasa kita?

Kita beribadah hanya cangkang. Kita terlena pada kemasan. Kita lupa bahwa Muhammad bukan hanya tentang potret seorang tokoh agung. Bukan sekedar kisah tentang seorang manusia besar. Tapi sejarah hidup Muhammad mengajarkan kita tentang TUJUAN. Tujuan yang sudah banyak dari kita melupakan. Ritual bukan untuk ritual an-sich. Ibadah memiliki TUJUAN terang benderang yaitu untuk memperbaiki moralitas, etika dan ahlaq budi pekerti kita menjadi lebih baik. Shalat kita, wudhu kita, puasa kita, zakat kita, haji kita harus meninggalkan jejak ahlaq yang baik dalam diri kita masing-masing. Itulah tujuan dan konsistensi seorang Muslim. Itulah tujuan hidup seorang Muhammad. “Aku diutus ke alam semesta ini untuk membumikan peradaban budi pekerti (ahlakul-karimah)”.

Jembatan Titian

Titian shirotol-mustakim itu bukan nanti, tapi saat ini. Yaitu lembaran-lembaran kehidupan yang sedang kita tapaki hari ini, di bumi pertiwi ini: detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dasawarsa, abad, dst. Betapa sudah banyak kita lihat dalam sejarah orang-orang yang gagal, jatuh dan tergelincir dalam melintasi titian itu. Berkubang dalam lembaran hidup yang kelam: narkoba, seks bebas, radikalisme, terorisme, fasisme, dsb.

Anomali Manusia Indonesia

Surga dan neraka pasca-kematian itu bisa kita rasakan disini, saat ini. Manusia menciptakan jalan surga dan jalan nerakanya masing-masing. Kita bisa membuat sebuah analogi, pada saat umat manusia di belahan bumi lain sudah ringkih, kehabisan air mata, muak dengan konflik, nestapa dan derita akibat perang. Umat manusia di belahan bumi Indonesia, yang hidup aman, tentram dan damai justru ingin menebar perang. Ketika umat di belahan negeri lain terkoyak, terkeping, terbelah karena ketiadaan unsur (baca: ideologi) pemersatu. Manusia Nusantara yang telah membuktikan pada dunia sanggup bertahan hidup damai dalam kebhinnekaan selama 2000 tahun berpayungkan pancasila. Tiba-tiba, dengan segala kebodohan, ingin meninggalkan dan mengganti ideologi itu dengan yang lain! Kita sedang menciptakan neraka kita sendiri! Kita sedang meniti jalan menuju kesengsaraan!

Catatan Kritis

Hidup adalah pilihan. Kebebasan adalah hak. Tuhan memberi kita kedaulatan. Faman sya’a fal-yu’min, faman sya-a fal-yakfur. Inilah traktat kebebasan yang sudah menjadi bagian dari fitrah kemanusiaan kita. Tuhan memberi modal kepada kita berupa kecondongan hati pada kebaikan dan akal pikiran untuk membedakan benar dan salah. Mari kita manfaatkan pemberian itu. Hentikan kesibukan mengkavling-kavling surga dan neraka.

Indonesia adalah “surga” yang dirindui berjuta-juta umat di dunia yang saat ini hidup dalam derita akibat konflik berdarah. Sebagian bumi Timur-Tengah adalah “neraka” yang tak pernah sekalipun kita rindui. Apalagi ingin kita mimikri di negeri Pancasila yang indah bak surgawi ini.

Sejarah Madinah mengajarkan kita bahwa baginda Nabi menginginkan kita hidup damai, rukun dan penuh ucapan salam, salam, salam. Bila terbesit keinginan untuk mengganti Pancasila, menciptakan “neraka” di bumi Nusantara, bisa dipastikan iblis sedang menunggangi.

)*  Penulis Buku Biografi

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close