Sendi BangsaSosial BudayaWarta Strategis

Romantisme Medsos dan Kelompok Teror dalam Indoktrinasi Paham Radikal

Penulis : M.A. Arifin

Jakarta, LSISI.ID – Perkembangan lingkungan strategis global yang semakin kompleks mendorong pergeseran dimensi ancaman. Persaingan ideologi (kapitalis/liberalis, sosialis/komunis, fundamentalis/radikalis keagamaan) dan kebijakan politik major power akan saling beririsan, sehingga mempengaruhi kehidupan sosial budaya masyarakat dunia. Tidak terkecuali, sejumlah organisasi radikal di Indonesia dan Internasional juga mulai menyesuaikan dengan memanfaatkan Internet secara intensif dalam gerakan mereka.

Dewasa ini sejumlah individu dan organisasi radikal sudah menancapkan kaki mereka di internet. Mereka beroperasi dalam suatu jaringan yang sulit terpantau oleh pihak penguasa untuk membujuk, merekrut anggota baru dan sekaligus berkoordiansi dalam melancarkan tindakan radikal dan kekerasan. Kehadiran mereka di dunia maya telah mendatangkan berbagai kontroversi dan perdebatan di kalangan pengguna internet, penegak hukum, dan pembuat kebijkan terkait penyalahgunaan internet. Dalam penelitian yang dilakukan Nurdin (2016) menunjukkan bahwa sejumlah organisasi radikal di Indonesia dan Internasional memanfaatakan Internet untuk mempengaruhi, menyampaikan propaganda radikal, merekrut anggota baru, berkomunikasi denganpendukung dari berbagai negara dan menggalang dana dari publik yang simpati dengan mereka.

Kampanye lewat media sosial ini dinilai sangat efektif karena mudah diakses dan sangat familiar dengan masyarkat luas. Di Indonesia, facebook membubuhkan rekor sebagai akun sosial terbanyak yang diakses masyarakat. Berdasarkan data dari Social Baker, pengguna layanan facebook di Indonesia menembus angka 48 juta lebih setiap bulannya. Hal ini menjadikan Indonesia menempati urutan ke empat negara dengan pengguna layanan facebook terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat, Brasil, dan India.

Media sosial dinilai sebagai alat propaganda yang dimanfaatkan sebagai wadah panggung kelompok teroris ISIS dalam berinteraksi dengan masyarakat lainnya, ataupun calon target mereka. ISIS seakan-akan memberikan harapan bahwa dengan bergabung ke ISIS, akan memberikan kehidupan yang layak baik dunia maupun akhirat. Mereka memanfaatakan media sosial semisal Facebook untuk mempengaruhi, menyampaikan propaganda radikal, merekrut anggota baru, berkomunikasi dengan pendukung dari berbagai negara dan menggalang dana dari publik yang simpati dengan mereka.

Alasan penggunaan media sosial pun cukup sederhana antara lain, pertama, internet memungkinkan kemudahan akses dan publikasinya tanpa memerlukan izin dari pemerintah serta tidak ada pungutan biaya. Kedua, sebagian besar pelaku paham radikal adalah masyarakat yang selalu aktif di dunia maya, di mana hal ini memudahkan penyebaran pesan dengan sangat cepat. Faktor ketiga adalah lemahnya kontrol pemerintah terhadap dunia maya.

Di sisi lain, peran perempuan menjadi pelaku bom bunuh diri dalam konstelasi global, sesungguhnya bukanlah hal yang baru. Beberapa kasus yang melibatkan perempuan diantaranya, kelompok Black Widows (Rusia) yang terdiri dari para janda yang rela menjadi martir demi menuntut balas atas kematian suami, kakak, adik, anak dalam serangan yang dilakukan oleh militer Rusia

Dalam kaitan ini, Kapolri Tito Karnavian mengungkapkan bahwa adanya jaringan teroris di Indonesia yang melibatkan perempuan menunjukkan ada modus baru dalam aksi terorisme, dengan memanfaatkan perempuan sebagai martil. Namun demikian, dalam dunia terorisme hal tersebut bukanlah hal yang baru. Dalam beberapa kasus di luar negeri, aktor yang terlibat dalam aksi teror juga adalah perempuan.

Para perempuan yang terbuai ajakan ISIS juga memahami paham radikal lewat interaksi dengan perekrut ISIS via internet. Shannon Maureen Conley (Wanita asal Colorado, Amerika Serikat/AS), mempelajari paham-paham radikal secara online. Lalu, dia merasa perlu meluruskan kesalahan persepsi masyarakat global terhadap umat Islam. Conley memutuskan untuk menggunakan keahliannya sebagai perawat guna membantu militan ISIS.

Keterlibatan perempuan dalam gerakan radikalisme bukan karena kebetulan. Namun, sengaja dipersiapkan oleh para perekrut ISIS lewat propaganda di lini maya. Menurut Humera Khan, Direktur Eksekutif Muflehun, sebuah think tank yang mengkhususkan pada pengkajian kontra terorisme, ISIS memiliki sedikitnya 40 media yang merilis video, audio, dan teks tertulis. Materi yang disampaikan tidak membahas tentang isu-isu terkini yang menyangkut kehidupan manusia saat ini. Namun, lebih pada ideologi, agama dan hubungannya dengan radikalisme. Melalui media itu, ISIS mempromosikan kekhalifahan sebagai sistem pemerintahan yang sampurna dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Mereka juga menyebarkan foto tentang kondisi pasar yang penuh dengan buah-buahan, sayur-sayuran, hubungan dagang antara penjual dan pembeli, anak-anak yang tertawa dan bermain di alun-alun kota.

TKW, khususnya sangat rentan dipengaruhi, keadaan psikologis yang masih labil membuat paham radikalisme mudah masuk. Dalam kasus ini ISIS memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam melancarkan aksi terorismenya, tidak segan-segan memposting foto dan video ke media sosial.

Pengamat Terorisme Al Chaidar menuturkan, TKI yang direkrut ISIS dan dideportasi ke Indonesia sudah berulang kali terjadi. TKI menjadi sasaran empuk rekrutmen ISIS karena merekrut TKI ada sejumlah keuntungan yang didapatkan. Diantaranya, posisi TKI yang sudah berada di luar negeri memudahkannya untuk perlu ke wilayah ISIS. TKI juga dianggap memiliki modal keuangan yang lebih kuat. Sehingga, biaya perjalanan ke wilayah ISIS tidak perlu ditanggung. Bahkan, TKI juga bisa membiayai para pelaku aksi teror

Rekrut Bomber dari TKW

Rentetan kasus terorisme di Indonesia juga telah mengarah melalui propaganda media sosial dengan sasaran TKW, diantarnya penangkapan terduga teroris oleh tim Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) Mabes Polri di penghujung tahun 2016, diantaranya terkait kasus bom panci.

Melihat fenomena ini, penangkapan tersebut menunjukkan pola perekrutan pelaku bom bunuh diri jaringan terorisme di Indonesia mulai melibatkan perempuan. Secara sosial, Perempuan dan TKW memiliki aspek kerentanan tinggi sehingga mudah terpedaya oleh jaringan terorisme. Pilihan target terhadap perempuan banyak alasan. Perempuan banyak dianggap lebih mudah terpengaruh terutama yang memiliki masalah dalam keluarga dan ekonomi.

Shifting pergerakan teror

Terjadi shifting pergerakan teror (ISIS), yakni seiring perkembangan teknologi juga berdampak terhadap perkembangan kelompok teror dalam pergerakannya. Kemajuan teknologi, menyebabkan pola lama dalam merekrut ataupun melakukan propaganda dan penyebaran paham radikalnya melalui tatap muka langsung perlahan ditinggalkan. Kendati demikian, pola lama perekrutan jihadis dengan cara pertemuan langsung tetap dilakukan, namun pergerakannya dipercepat dengan bantuan media sosial. Penyebaran pesan dan video semakin mudah dilakukan dengan bantuan jaringan internet. Efeknya juga semakin besar karena penyebarannya dilakukan tidak terbatas ruang dan waktu. Internet dan media sosial mempermudah aktivitas terorisme dan radikalisme.

Proses terjadinya radikalisasi melalui medsos setidaknya dapat dikategorikan menjadi beberapa tahap, antara lain sebagai berikut : 1) Baca buku atau artikel. 2) Muncul rasa ingin tahu. 3) Menimbulkan pertanyaan dan mencari jawaban dari pertanyaan. Dalam hal ini, akan menimbulkan rasa puas, setengah puas, ataupun tidak puas terhadap jawaban yang dicari. 4) Setelah itu, beralih tingkatan menjadi diskusi, kemudian berlanjut pada tahapan doktrinasi, yang selanjutnya akan menjadi aktif.

Peningkatan eskalasi Ancaman teror

Keberhasilan indoktrinasi kelompok teror melalui medsos menyebabkan berhasilnya menciptakan bomber dari perempuan, sehingga trend ke depan juga masih bisa terjadi.  Hal ini diperkuat dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat serta adanya bonus demografi yang akan dialami Indonesia yang akrab dalam penggunaan media komunikasi berbasis digital. Dalam hal ini, propaganda di medsos dapat meningkatkan dan menguatkan paham radikalisme seseorang sehingga berpotensi bergabung dengan kelompok teror dan terlibat menjadi bagian dari perencanaan aksi.

Kelompok teroris saat ini menggunakan media sosial dalam upaya untuk mengindoktrinasi paham radikal. Gerakan radikal berkolaborasi dengan perkembangan teknologi yang berdampak pada media sosial. Pola gerakannya cenderung berpindah dari pola-pola tradisional yang secara langsung bertemu, menjadi pola-pola pertemuan tidak langsung melalui social media. Sehingga dapat dikatakan ada shifting modus operandi mulai dari perekrutan, pendanaan, maupun pelatihan.

Yang kedua, pola-pola komunikasi selain pola komunikasi tradisional secara langsung, pola komunikasi hubungan radio mereka sudah tinggalkan, Mereka lebih banyak menggunakan pola komunikasi hubungan data. Kelompok-kelompok ini sudah tidak menggunakan pola komunikasi melalui jalur radio. Akibatnya bagi tim kontra terorisme baik itu penegak hukum maupun intelijen menghadapi kesulitan yang berarti, bila tidak ikut shifting pada ranah keahliannya pada bidang data dan social media. Walaupun pola-pola perekrutan tradisional masih terjadi tapi, tidak lagi menjadi media yang efektif atau tidak lagi menjadi pilihan utama untuk mengumpulkan atau merekrut sel-sel terorisme yang baru.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close