Polemik Politik

Santri dan Interpretasi Pancasila Menuju Semangat Kebhinekaan

Oleh: Muhamad Iqbal )*

Selama 71 tahun bangsa Indonesia telah mengalami perkembangan masyarakat yang merdeka. Kemerdekaan yang ditandai dengan proklamasi kemerdekaan dan dibacakan oleh Ir. Soekarno serta didampingi oleh Mohammad Hatta. Yang kemudian keduanya ditunjuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama bagi negara Indonesia.

Kemerdekaan inilah yang mengutuk sekaligus menyingkirkan bangsa asing untuk menjajah dan mengeruk harta habis-habisan milik bangsa Indonesia, serta turut menghentikan peperangan, saling bunuh membunuh dalam memperebutkan wilayah dan kekuasaan. Masa itu, adalah masa kepahlawanan yang ditandai dengan perjuangan-perjuangan pemuda-pemudi yang cinta tanah air dan cinta kesatuan sehingga lahirlah Kesatuan Negara Republik Indonesia.

Lahirnya putra sang fajar dan para pahlawan yang hidup satu zaman dengannya memiliki perkembangan pandangan tersendiri dalam mengatasi persoalan yang terjadi di Indonesia. Bangsa Indonesia yang begitu kompleks dengan keanekaragaman bahasa, agama, budaya, suku dan ras membuat para pahlawan untuk memeras keringat dan menggali apa yang mesti digali untuk dihadiahkan kepada bangsa Indonesia. Salah satu hadiah yang diberikan kepada bangsa Indonesia adalah ide tentang kebhinekaan.

Masihkah Kebhinekaan dipertanyakan?

Dalam perhelatan iklim budaya yang kian tidak terkendali. Dewasa ini, banyak polemik yang terjadi di dalam bangsa Indonesia. Ada banyak oknum dengan memanfaatkan situasi yang terjadi di tanah pertiwi. Indonesia bukan lagi tanah jajahan yang dikeruk oleh negeri asing. Namun, seiring kemerdekaan bangsa Indonesia.

Justru hal itu membuka persoalan baru yakni keberagaman Indonesia dipertanyakan. Kebhinekaan menjadi hal yang tabu. Meredanya suku dan wilayah yang ingin keluar dari Negera Kesatuan Republik Indonesia. Bukan berarti hal itu menjadikan pribumi menjadi tidak lagi perlu memperhatikan antara satu sama lain. Tentunya ini akan menimbulkan hilangnya semangat kolektivitas hidup bersama.

Masyarakat yang hanya memiliki kesadaran sampai batas lokal (dibaca; suku dan ras). Hal itu berarti belum mencapai identitas keindonesiaan atau kebhinekaan. Dengan begitu, kesusahan dan jerih payah founding father kita dalam mencapai kemerdekaan tidak seutuhnya tercapai. Seperti menurut Soekarno bahwa kemerdekaan bukanlah berarti menyudahi persoalan bangsa Indonesia, justru kemerdekaan menjadi gerbang awal yang akan mengawali persoalan bangsa Indonesia. Namun, perbedaannya adalah kemerdekaan memiliki resolution yang menjadi polemik kebangsaan, di antaranya adalah kebhinekaan yang sudah digali oleh para pejuang bangsa Indonesia ini.

Dalam menilik kemerdekaan Indonesia, terdapat pejuang yang ikut serta dalam melawan kolonialisme yang kemudian diberikan penghargaan dalam menunjang semangat nasionalisme yaitu Hari Santri. Hari Santri yang diresmikan Presiden Jokowi lalu menunjukkan bahwa peran santri tidak hanya sebatas pada semangat spiritualitas namun juga cinta tanah air (Hubbulwathan). Dalam hal ini, KH.Hasyim Asyari pun mengatakan bahwa agama dan nasionalisme tidak pernah berseberangan.            

Perjalanan Santri dulu dan Sekarang

Perkembangan sekarang berbeda dengan yang lalu. Dahulu, orang tidak akan mengira bisa melakukan perjalanan antar pulau hanya memakan waktu satu jam. Namun, buktinya sekarang manusia saat ini bisa melakukannya dengan waktu yang bahkan lebih pendek. Lalu apa hubungannya dengan Santri? Tidak ada hubungannya. Perlu diketahui, kepemilikan nama santri mestinya tidak terbatas pada kelompok tertentu sehinggga menimbulkan sekte yang merugikan nama ‘santri’ itu sendiri.

Gus Mus juga menyatakan bahwa Santri bukanlah mereka yang hanya ada di sekitar pondok pesantren. Lebih dari itu, Santri adalah orang yang memiliki akhlak mulia dan menjunjung kebaikan. Menjadikan Santri yang universal akan lebih membuat peran santri tidak terbatas pada sekte tertentu. Seperti halnya peran Santri yang ikut serta dalam mengusir para penjajah tentunya hal itu dilandasi oleh semangat juang untuk keutuhan negara republik Indonesia dengan menghilangkan rasa ego untuk mendirikan negara Islam an sich. 

Almarhum Nurcholish Majid dan Abdurrahman Wahid adalah orang yang menyatakan dengan tegas untuk tidak menjadikan Indonesia negara Islam seperti yang dilakukan negara lainnya. Indonesia memiliki suku, ras yang kompleks. Perbedaan adalah rahmatalil’alamin yang berarti rahmat semesta alam sehingga memang telah ada sejak alam semesta diciptakan perbedaan itu ada. Justru dengan perbedaanlah alam ini tercipta dari makhluk yang berbeda-beda. Kita bisa melihat peran Almarhum Gus Dur dalam mengembalikan martabat orang tionghoa yang tadinya dimarjinalkan. Gus Dur adalah contoh Santri yang mendunia. Lalu di mana peran Santri saat ini?.

Munculnya polemik-polemik yang terjadi di Indonesia salah satunya adalah hilangnya semangat solidaritas kebangsaan. Orang jawa hanya mengakui keberadaan teman sejawanya. Orang minang dengan minang. Orang sunda dengan sunda. Lalu di mana kemanusiaannya. Kita bukan serigala yang berteman dengan serigala. Buaya berteman dengan buaya.

Dan ayam berteman dengan ayam saja. Manusia diciptakan dengan perbedaannya untuk saling mengenal, bukan saling melawan dan menjatuhkan. Keutuhan Indonesia justru karena banyaknya suku dan ras yang tinggal di tanah pertiwi. Dengan begitu, peran santri jangan dibatasi pada kalangan bersarung dan berpeci. Harus ada perluasan seperti yang dilakukan Sayyidina Umar dalam ‘Futuhat Islamiyah’  sehingga manusia yang di bumi di Indonesia dengan kadarnya dapat melakukan kebaikan skala lokal hingga skala nasional. Bila perlu, skala internasional sambil menunggu waktunya tiba.

Meskipun sebenarnya skala yang tadi disebutkan adalah gambaran fisiologisnya. Namun, untuk tujuan akhirnya perluasan kebaikan itu tidak bisa di ukur karena hasil akhirnya adalah keikhlasan. Seperti yang kita tahu, ikhlas itu sesuatu yang sulit untuk diketahui bahkan oleh malaikat yang suci.

Menata Diri, Menata Bangsa

Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya’. Hadist Qudsi ini adalah hadist yang populer bagi kalangan sufi. Manusia merupakan makhluk yang kompleks betapapun itu, ia adalah makhluk yang tidak berdaya di hadapan TuhanNya. Banyak dari kita melihat persoalan tapi yang terjadi adalah kita tidak mampu menyelesaikannya. Karena lemahnya potensi kita dan menyepelekan terhadap persoalan tersebut. Sebenarnya ada banyak hal yang mesti disadari seorang Santri (dibaca; kita). Kita mestinya membaca kembali apa yang sudah dirumuskan di dalam pancasila. Pancasila sebagai ideologi Indonesia harus dipahami dengan segenap jiwa yang membara dalam menjaga keutuhan Indonesia.

Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi landasan pertama yang mencirikan bahwa Indonesia memiliki banyak simbol agama. Meskipun begitu, konsep Tuhan adalah esa. Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Keadilan tidak memandang siapa dan dari mana asalnya. Kemanusiaan adalah menjunjung rasa keadilan dengan tidak memandang ras, suku dan sebagainya sehingga memunculkan peradaban yang dicita-citakan.

Sila Ketiga, Persatuan Indonesia, adalah lambang dalam membangun kesadaran yang dimulai dari keluarga hingga keberadaan Indonesia. Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan permusyawaratan/perwakilan, menjadikan demokrasi terpimpin dan mengamanatkan hak-hak manusia. Kelima, Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, adalah sistem egaliter yang mesti diterapkan dan dijalankan bagi setiap warga negara Indonesia.

Dengan begitu, nilai-nilai universal yang telah ada di dalam diri Indonesia hanya perlu dioptimalkan kembali. Tentunya melibatkan semua Santri (dibaca; kita) yang berada di bumi pertiwi.

)* Penulis adalaha mahasiswa, versi asli tulisan sebelumnya telah terbit di Qureta.

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close