Sendi Bangsa

Terimakasih Para Pejuang Demokrasi

Oleh : Andita Farah*

Hajat besar Indonesia telah dilalui, di tengah gegap gempita klaim saling unggul tentu ada beberapa pihak yang sudah sepatutnya kita apresiasi dalam pelaksanaan Pemilu Serentak 2019. Seperti mereka yang mendistribusikan kotak suara, maupun petugas KPPS yang rela melaksanakan tugasnya hingga malam hari.

            Belum lama ini jari kita telah berwarna ungu, sebuah tanda bahwa kita telah menggunakan hak pilih, untuk menentukan kemana arah Bangsa Indonesia akan dibawa oleh Presiden maupun wakil rakyat yang kita tunjuk. Demokrasi merupakan sistem yang mengizinkan seluruh warga untuk berpartisipasi aktif, seperti pemilu yang telah kita lalui bersama.

            Pada sejarahnya sistem demokrasi diterapkan pada zaman Yunani Kuno. Sistem ini membuka kesempatan kepadan rakyat agar terlibat langsung dalam pengambilan keputusan, utamanya menyangkut kelangsungan sebuah negara. Salah satu ciri negara demokratis adalah menyelenggarakan Pemilihan Umum, seperti yang sudah sering dilakukan di Indonesia, Pemilihan Umum ini dilakukan untuk memilih wakil rakyat atau pemimpin baik dari tingkat Desa, Bupati, Gubernur hingga Presiden. Bahkan demokrasi seperti ini juga telah diterapkan pada sekolah maupun kampus di Indonesia, seperti pemilihan Ketua OSIS maupun Presiden BEM.

            Meski sistem demokrasi sudah mengakar kuat di Indonesia, bukan berarti dalam mewujudkan demokrasi tersebut tanpa adanya perjuangan. Karena nyatanya hingga memasuki hari terakhir menjelang pencoblosan, petugas di beberapa daerah terpencil terus berpacu waktu mendistribusikan logistik Pemilu ke pelosok Indonesia.

            Di desa Wot Galih Kabupaten Tegal Jawa Tengah misalnya, petugas harus menggunakan kendaraan off road untuk mendistribusikan logistik seperti kotak suara, surat suara, tinta dll, karena jalan yang dilintasinya merupakan jalan hutan bykit yang rusak dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Di tempat yang lain di Desa Pojoklitih, Kecamatan Plandaan Jombang misalnya, kondisi geografis yang terjal memaksa para penyelenggara pemilu berjuang lebih ekstra. Sebab, desa tersebut berada di tengah hutan dengan jalan – jalan terjal di pegunungan yang sulit untuk dilewati.

            Hal ini juga diperparah dengan kondisi jalan yang beberapa hari sebelumnya sempat terguyur hujan. Komisioner Panwaslu Kecamatan Plandaan, Nasarudin, mengatakan, untuk mencapai TPS – TPS di dusun tersebut, jaraknya sekitar 35 Km dari kota kecamatan Plandaan.

            “Kami gunakan beberapa motor trail. Tapi tidak bisa terus digunakan karena jalanan jeblok. Kerap kali kotak harus dipikul untuk melewati jalanan yang parah buruknya. Kadang juga harus ditarik dengan tambang,” tutur Nasarudin.

            Untuk sampai ke lokasi tiga dusun tersebut, dirinya juga tidak selalu menggunakan jalan darat. Melainkan juga mesti menyeberangi tiga sungai.

            “Kalau air pas surut tidak terlalu bermasalah. Tapi kalau hujan, debit air meninggi. Ini berbahaya juga.” Tambah Nasarudin.

            Bahkan di jagad dunia maya, telah viral sebuah foto yang menggambarkan seorang bapak berbaju putih tengah berjalan memikul kotak suara. Dalam foto tersebut, terlihat ada 4 buah kotak suara dengan sebongkah kayu yang ia satukan dengan segulung rafia.

            Bapak yang tidak diketahui namanya tersebut membawa 4 kotak suara dengan berjalan melewati jalan setapak seperti di tengah hutan. Banyak semak belukar dan pepohonan yang mengelilingi pejuang demokrasi tersebut. Meski terlihat berat, bapak tersebut tetap menampakkan senyumnya dan terus memikul kotak suara ke lokasi TPS yang tidak bisa dijangkau dengan menggunakan kendaraan.

            Aksi yang dilakukan bapak tersebut terjadi di Desa Nangerang, Kabupaten Purwakarta Jawa Barat. 9 jam setelah foto tersebut terunggah, postingan tersebut telah disukai oleh lebih dari 40 ribu pengguna instagram. Kisah tersebut tentu masih sebagian dari kisah heroik para pejuang demokrasi di Indonesia. Dibelahan Wilayah Indonesia yang lain, ada juga yang mengirimkan logistik pemilu dengan menggunakan perahu. Bahkan proses pengangkutan juga dibantu oleh aparat kepolisian.

            Perjuangan nyatanya belum selesai, karena 3 Kabupaten di Papua mengalami masalah cuaca saat distribusi logistik pemilu. Dimana pendistribusian logistik di tiga kabupaten tersebut harus dilakukan menggunakan pesawat berbadan kecil sehingga faktor cuaca sangatlah menentukan. Perjuangan yang berat dan melelahkan tersebut tentu menunjukkan bahwa, jiwa nasionalisme masyarakat Indonesia masih terus ada dalam mewujudkan demokrasi yang telah final sebagai ideologi bangsa.

*Penulis adalah Pegiat Media Sosial

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button

Adblock Detected

Kami juga tidak suka iklan, kami hanya menampilkan iklan yang tidak menggangu. Terimakasih