Polemik Politik

Kubu 02 Khawatir Dengan Masifnya Infrastruktur, Debat Kedua Jadi Peluang Menyerang

Oleh : Xhardy*

Debat malam kemarin berlangsung seru karena ada satu topik yang menjadi pusat perhatian lebih. Apalagi kalau bukan infrastruktur. Topik ini sudah lama dijadikan sebagai alat untuk melakukan serangan karena sangat mudah.

Mereka cukup benturkan pembangunan infrastruktur dengan utang yang kian bertambah. Fokus pada utang yang menumpuk maka masyarakat akan banyak yang terperdaya. Padahal ada banyak faktor seperti rasio utang terhadap PDB atau APBN, untuk apa utang tersebut, apakah untuk hal konsumtif atau produktif, dan di mana hasilnya.

Fokus pada utang, inilah yang sedang kubu sebelah lancarkan dan akan makin keras dilancarkan pada debat kedua nanti. Debat kedua nanti akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh mereka untuk membenturkan ini.

Penulis tidak tahu bagaimana cara mereka melakukan serangan, yang jelas kemarin-kemarin infrastuktur dianggap sebagai proyek yang sia-sia, rakyat butuh makan nasi bukan makan infrastruktur, ada lagi yang mengatakan jalan tol adalah tol pembunuh bayaran karena banyaknya kecelakaan dengan analisis yang tidak masuk akal.

Sebenarnya serangan yang mereka lakukan ini adalah salah satu bentuk kepanikan. Cobalah pikir, kalau tidak panik, untuk apa menyerang soal itu? Justru karena apa yang dilakukan pemerintah soal infrastruktur sudah benar, maka mereka butuh mengcounter dan membalas balik dengan memelintir fakta.

Kenapa?

Kalau tidak dicounter, maka mereka bisa makin terjepit. Masifnya pembangunan infrastruktur adalah salah satu hasil yang terlihat sangat jelas sekali. Jalan nasional, jalan tol, bandara, terminal, pelabuhan, jembatan, tol laut, kelistrikan dan lainnya adalah bentuk fisik yang terlihat jelas dan dapat terukur. Bagi yang punya banyak duit, silakan keliling Indonesia dan buktikan sendiri karena bisa dilihat dengan mata kepala sendiri.

Ini tentunya bukan masalah receh yang bisa mereka biarkan begitu saja. Mereka sebenarnya gelisah soal ini. Maklum, masyarakat bisa menilai dan menyaksikan sendiri manfaat dari infrastruktur di atas. Kubu sebelah sebenarnya paham dan mengerti. Tapi karena ini bisa menjadi senjata makan tuan, terpaksa mereka lawan balik untuk meredam masifnya pembangunan tersebut. Namanya juga politik, apa pun yang merugikan mereka meski masuk akal dan benar, tetap akan dicari celah kesalahannya tidak peduli meski celahnya sekecil lubang jarum.

Cara mereka membangun narasi untuk melawan balik ini adalah dengan mengungkit soal utang. Tentunya pembangunan masif seperti ini tidak bisa mengandalkan APBN semata karena terbatas. Sebenarnya pemerintah sudah perlahan memakai skema lain sehingga tidak membebani APBN.

Akan tetapi kubu 02 tetap fokus pada utang yang makin hari makin bertambah. Apalagi kebanyakan mindset orang adalah utang itu buruk dan tidak baik. Betul? Maka dibuatlah narasi utang terus, utang meroket, pemerintah adalah raja utang. Semua itu demi meredam keberhasilan pembangunan infrastruktur yang sangat terasa manfaatnya.

Belum lagi sebagian yang dengan seenaknya mengatakan mereka tidak butuh infrastruktur. Tapi sebenarnya ini sangat mudah dicounter. Kalau mereka memilih menggunakan narasi infrastruktur itu tidak penting, ada satu cara untuk membuat mereka tidak berkutik.

Tinggal berikan saja tantangan pada mereka untuk pindah ke tempat yang infrastrukturnya minim selama beberapa minggu. Mereka bisa berkomentar karena listrik ada, air ada, telepon dan internet ada, transportasi bagus, mau ke mana-mana tidak perlu susah payah hingga berhari-hari, mau menyeberangi sungai atau laut tinggal lewati jembatan atau naik kapal, tidak perlu bergantungan di jembatan kayu roboh, bosan bisa diatasi dengan pergi ke mall atau tempat hiburan lainnya.

Tantangan seperti ini pernah ditujukan pada seorang ketua BEM UI Zaadit Taqwa yang meniup peluit dan memberikan kartu kuning kepada presiden soal kasus gizi buruk dan wabah penyakit di Asmat, Papua.

Jokowi sempat memberikan saran agar Zaadit pergi ke sana untuk melihat langsung medan di sana. Setahu penulis, tantangan tersebut tidak pernah disambut. Dia pasti tahu betapa sulitnya medan dan infrastruktur di sana. Penulis yakin dia bukan orang bodoh yang tidak bisa mencari informasi soal wilayah tersebut. Makanya dia tidak berani.

Ibarat orang yang sudah terbiasa makan manis, tapi munafik mengatakan manis itu tidak penting, padahal pastilah mereka tidak akan sudi makan pahit.

Mudah sekali kritik soal infrastruktur kalau tidak pernah bersyukur tinggal di wilayah yang infrastrukturnya bagus. Tinggal deh di wilayah terpencil baru bisa dibilang punya hak dan kredibilitas untuk bilang ‘Kami tidak makan infrastruktur’.

*Artikel ini telah dimuat di Seword

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close