Sendi Bangsa

Pentingnya Sifat Optimis Dalam Diri Pemimpin Negeri

Oleh : Aldo Indrawan*

Kepemimpinan merupakan sebuah proses mempengaruhi atau memberi contoh dari seorang pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya untuk mencapai suatu tujuan bersama. Dalam konteks negara, khususnya Indonesia, kepemimpinan dilakukan oleh seorang Presiden yang menjabat pada periode tertentu untuk mengarahkan rakyatnya agar dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Terdapat beragam sifat unik dari para pemimpin yang menjalankan kepemimpinannya dalam suatu organisasi atau negara. Sifat itu merupakan karakteristik pribadi yang membedakan seorang pemimpin dengan pemimpin lainnya, seperti kecerdasan, kejujuran, kepercayaan diri, dan penampilan. Dari sekian banyak karakteristik sifat pemimpin, terdapat sifat yang biasanya dianggap penting yaitu optimisme.

Optimisme sebagai suatu pandangan secara komprehensif atau menyeluruh, melihat dengan baik atau cermat, berfikir positif dan mudah memberikan makna bagi diri sendiri. Individu yang optimis mampu menghasilkan sesuatu lebih baik jika dibandingkan dengan sebelumnya, tidak takut gagal, dan terus berusaha untuk tetap bangkit meskipun mengalami kegagalan.

Presiden perlu mempunyai sifat kepemimpinan optimis karena dirinya memegang tanggung jawab yang besar bagi masa depan negara yang ia pimpin. Sifat optimisme pemimpin juga dapat bermanfaat untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diemban sehingga menghasilkan produk yang memuaskan serta tercapainya tujuan yang diharapkan.

Namun, sifat pemimpin yang terlalu optimis juga memberikan dampak negatif, seperti terlalu berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai sehingga mengubah perilaku pemimpin menjadi pemimpin otoriter. Hal ini dapat berujung fatal apabila rakyat atau pengikutnya dituntut melakukan berbagai macam cara, cara yang baik maupun yang buruk demi mencapai tujuan yang diinginkan oleh pemimpin tersebut.

Berkaca pada kondisi politik saat ini, ada juga calon pemimpin yang cenderung pesimis menghadapi permasalahan yang timbul di masyarakat. Selain pesimis, calon Presiden itu juga menyebarkan propaganda dengan tujuan untuk menakut-nakuti rakyat. Beberapa contohnya adalah pernyataan Prabowo Subianto yang menyatakan Indonesia akan bubar pada 2030, jika nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika melemah hingga angka Rp 15.000 maka lima bank nasional akan bankrut, sekitar 99% rakyat Indonesia hidup dalam keadaan pas-pasan, dan fried chicken di Singapura lebih murah dibandingkan di Jakarta.

Selain pernyataan calon presiden nomor urut 02, calon wakil presidennya juga menyampaikan hal serupa dengan berusaha menebar rasa takut ke masyarakat Indonesia. Sandiaga Uno pernah menyampaikan bahwa kenaikan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika hingga Rp 15.000 akan berpengaruh pada usaha tempe yang membuatnya setipis ATM. Padahal nyatanya, propaganda yang disebarkan pasangan calon nomor urut 02 tidak sesuai dengan fakta. Harga barang kebutuhan pokok masyarakat masih tetap stabil sebagaimana data inflasi yang selalu terkendali selama pemerintahan Jokowi.

Seharusnya Prabowo-Sandi yang notabene sebagai salah satu calon pemimpin Indonesia tidak menggunakan isu yang berisi penyebaran rasa takut dan pesimisme terhadap rakyat, karena hal itu dapat melemahkan usaha pembangunan watak bangsa. Meskipun memang pada awalnya narasi yang disampaikan Prabowo-Sandi digunakan untuk mendapat simpati, akan lebih bermanfaat di mata rakyat apabila kedua calon Presiden mendiskusikan bagaimana membuat Indonesia lebih maju pada masa mendatang tanpa harus mendiskreditkan pihak lain, terutama pemerintah.

*) Penulis merupakan pemerhati sosial politik di Jakarta

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close